Gallery

Biasakanlah Anak yang Sudah Mumayyiz Sholat Berjamaah di Masjid dan Jangan Membawa Anak yang Sering Mengganggu ke Masjid (1)

Masjid

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, bahwa kelak di hari kiamat ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan pertolongan  dari Allah ta’ala. Salah seorang di antaranya adalah para pecinta masjid. “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah, tatkala tidak ada naungan selain naungan-Nya… Seseorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid…” (Muttafaqun ‘alaihi).

Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan makna hadits tersebut, “Hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut hatinya senantiasa terkait dengan masjid meskipun jasadnya terpisah darinya. Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa keterkaitan hati seseorang dengan masjid, disebabkan saking cintanya dirinya dengan masjid Allah ta’ala”. (Lihat Fathul Bari) [http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/dari-masjid-kita-bangkit.html]

Saking semangat kita dalam mengamalkan hadits di atas dan hadits-hadits tentang kewajiban sholat berjamaah (bisa dibaca di: http://majalah-assunnah.com/index.php/soal-jawab/248-kewajiban-shalat-jamaah-di-masjid), kita ingin agar anak-anak laki-laki kita selalu sholat berjamaah di masjid dan kita tanamkan sejak usia dini. Perkara di masjid bikin gaduh dan mengganggu jama’ah lainnya, itu urusan kedua. Benarkah hal tersebut? Mari kita bahas satu persatu:

A. Hukum Membawa Anak Kecil ke Masjid

B. Tentang Anak kecil yang Suka Mengganggu

C. Bagaimana jika Ada Anak Kecil di Masjid Ikut Sholat Berjamaah? Bagaimana juga solusinya jika ada anak yang membuat keributan di masjid?

Berikut pembahasannya:

 

A. Hukum Membawa Anak Kecil ke Masjid

Pada asalnya membawa anak kecil untuk sholat berjamaah di masjid dibolehkan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini (http://addariny.wordpress.com/2011/11/16/mengajak-anak-kecil-ke-masjid/):

Hadits pertama:

عن أبي قَتَادَةَ رضي الله عنه: بَيْنَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ جُلُوسٌ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْمِلُ أُمَامَةَ بِنْتَ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ وَأُمُّهَا زَيْنَبُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ صَبِيَّةٌ يَحْمِلُهَا عَلَى عَاتِقِهِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ عَلَى عَاتِقِهِ يَضَعُهَا إِذَا رَكَعَ وَيُعِيدُهَا إِذَا قَامَ حَتَّى قَضَى صَلَاتَهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِهَا [ أبو داود 783 و النسائي 704 و صححه الألباني ]

Abu Qotadah rodhiyallohu ‘anhu mengatakan: Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- muncul ke arah kami sambil menggendong Umamah binti Abil Ash, -ibunya adalah Zainab binti Rosululloh shollallohu alaihi wasallam-, ketika itu Umamah masih kecil (belum disapih)-, beliau menggendongnya di atas pundak, kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengerjakan sholat, sedang Umamah masih di atas pundak beliau, apabila ruku’ beliau meletakkan Umamah, dan apabila berdiri beliau menggendongnya kembali, beliau melakukan yang demikian itu hingga selesai sholatnya. (HR. Abu Dawud: 783, An-Nasa’i: 704, dan dishohihkan Syaikh Albany)

Hadits kedua:

عَن أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ مَعَ أُمِّهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَقْرَأُ بِالسُّورَةِ الْخَفِيفَةِ أَوْ بِالسُّورَةِ الْقَصِيرَةِ [ مسلم 722]

Anas rodhiyallohu ‘anhu mengatakan: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah mendengar tangisan seorang anak kecil bersama ibunya, sedang beliau dalam keadaan sholat, karena itu beliau membaca surat yang ringan, atau surat yang pendek. (HR. Muslim: 722)

Hadits ketiga:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنِّي لَأَدْخُلُ الصَّلَاةَ أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأُخَفِّفُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ بِهِ [ البخاري 666 و مسلم 723 ] قال الشوكاني في نيل الأوطار ( 5/ 48 ) : ” فيه جوازُ إدخال الصبيانِ المساجدَ” .

Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu mengatakan: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Sungguh aku pernah memulai sholat yang ingin ku panjangkan, lalu karena kudengar tangisan seorang anak kecil, maka kuringankan (sholat tersebut), karena (aku sadar) kegusaran ibunya terhadapnya”. (HR. Bukhori: 666 dan Muslim: 723) Imam As-Syaukani berkata: Hadits ini menjadi dalil akan dibolehkannya memasukkan anak ke masjid

Hadits keempat:

عَنْ بريدة رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ فَجَاءَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَعَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ فِيهِمَا فَنَزَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَطَعَ كَلَامَهُ فَحَمَلَهُمَا ثُمَّ عَادَ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ قَالَ صَدَقَ اللَّهُ ” ( إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ) رَأَيْتُ هَذَيْنِ يَعْثُرَانِ فِي قَمِيصَيْهِمَا فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ كَلَامِي فَحَمَلْتُهُمَا” [النسائي 1396وابن ماجه 3590 وصححه الألباني].

Buroidah mengatakan: Suatu saat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berkhutbah, lalu datanglah Hasan dan Husain rodhiyallohu ‘anhum yg memakai baju merah, keduanya berjalan tertatih-tatih dg baju tersebut, maka beliau pun turun (dari mimbarnya) dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, lalu mengatakan: “Maha benar Alloh dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan)’, aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, maka aku tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya”. (HR. An-Nasaa’i: 1396; Ibnu Majah: 3590; dan dishohihkan Syaikh Albany)

Hadits kelima:

عن أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي، فَإِذَا سَجَدَ وَثَبَ الْحَسَنُ عَلَى ظَهْرِهِ وَعَلَى عُنُقِهِ، فَيَرْفَعُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَفْعًا رَفِيقًا لِئَلَّا يُصْرَعَ، قَالَ: فَعَلَ ذَلِكَ غَيْرَ مَرَّةٍ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَ بالْحَسَنِ شَيْئًا مَا رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَهُ قَالَ: ” إِنَّهُ رَيْحَانَتِي مِنْ الدُّنْيَا وَإِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَعَسَى اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ” [ أحمد 19611 بإسناد جيد ] .

Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhu mengatakan: Sungguh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- suatu ketika pernah sholat, jika beliau sujud, Hasan melompat ke atas punggung dan leher beliau, maka beliau pun mengangkatnya dengan lembut agar dia tidak tersungkur (jatuh)… Beliau melakukan hal itu tidak hanya sekali… Maka seusai beliau mengerjakan sholatnya, para sahabatnya bertanya: “Wahai Rosululloh, kami tidak pernah melihat engkau memperlakukan Hasan sebagaimana engkau memperlakukannya (hari ini)”… Beliau menjawab: “Dia adalah permata hatiku dari dunia, dan sungguh anakku ini adalah sayyid (seorang pemimpin), semoga dengannya Alloh tabaroka wa ta’ala mendamaikan dua kelompok kaum muslimin (yg bertikai)”. (HR. Ahmad: 19611 dengan sanad jayyid)

Hadits keenam:

عَنْ شداد رضي الله عنه قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ، فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا، قَالَ أَبِي فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ قَالَ : ” كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ” [النسائي 1129 والحاكم 4759 وصححه ووافقه الذهبي]

Syaddad rodhiyallohu ‘anhu mengatakan: Suatu ketika Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam pernah datang kepada kami dalam salah satu sholat fardhu malamnya (maghrib atau isya’), sambil menggendong Hasan atau Husein, lalu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- maju ke depan (untuk mengimami),  beliau pun menurunkannya (Hasan atau Husein), lalu bertakbir untuk memulai sholatnya, di tengah-tengah sholatnya beliau sujud dengan sujud yang panjang.

Syaddad mengatakan: maka aku pun mengangkat kepalaku, dan ternyata ada anak kecil (Hasan atau Husein) di atas punggung Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- yang sedang sujud, lalu aku kembali sujud.

Setelah Rosululloh menyelesaikan sholatnya, para sahabatnya bertanya: Wahai Rosululloh, sungguh engkau telah bersujud dg sujud yg panjang di tengah-tengah sholatmu, sehingga kami mengira terjadi sesuatu, atau ada wahyu yg turun kepadamu?

Beliau menjawab: Bukan karena itu semua, akan tetapi cucuku (Hasan atau Husein) menunggangiku, dan aku tidak ingin segera menyudahinya sampai ia puas dg keinginannya. (HR. An-Nasaiy: 1129; Al-Hakim: 4759; dan dishohihkan dan disetujui oleh Adz-dzahabiy)

Hadits ketujuh:

عن عائِشَةَ رَضيَ الله عَنْهَا قَالَتْ : أَعْتَمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً بِالْعِشَاءِ وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يَفْشُوَ الْإِسْلَامُ فَلَمْ يَخْرُجْ حَتَّى قَالَ عُمَرُ نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ فَخَرَجَ فَقَالَ لِأَهْلِ الْمَسْجِدِ ” مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ غَيْرَكُمْ ” [ البخاري 533 ومسلم 1008 ]

A’isyah rodhiyallohu ‘anhu mengatakan: Pada suatu malam, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah mengakhirkan sholat isya’, -itu terjadi ketika Islam belum tersebar luas-. Beliau tidak juga keluar hingga Umar berkata: “Para wanita dan anak-anak (yg menunggu di masjid) sudah tertidur“. Dan akhirnya beliau keluar dan mengatakan kepada mereka yang berada di masjid: “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yg menunggu sholat ini selain kalian”. (HR. Bukhori: 533; Muslim: 1008)

Adapun hadits:

     عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ  أَنَّ النَّبِىَّ  قَالَ: « جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ »

Dari Watsilah bin al-Asqa’ , bahwa Rasulullah  bersabda: “Jauhkanlah anak-anak kalian dari masjid-masjid”.

Hadits ini adalah hadits yang sangat lemah, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama al-Harits bin Nabhan, imam Ibnu hajar berkata tentangnya: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang fatal)” [Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 148)]. Juga gurunya dalam hadits ini yang bernama ‘Utbah bin Yaqzhan, imam Ibnu Hajar berkata tentangnya: “Dia lemah (riwayat haditsnya)”[Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 381)].

Syaikh al-Albani berkata: “Hadits ini lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi, sekumpulan dari para imam ahli hadits telah menyatakan kelemahan hadits ini, seperti ‘Abdul Haq al-Isybili, Ibnu Jauzi, al-Mundziri, al-Bushiri, al-Haitsami, (Ibnu Hajar) al-‘Asqalani dan selain mereka” [Kitab “al-Ajwibatun naafi’ah” (hal. 66)]. {http://manisnyaiman.com/hadits-yang-sangat-lemah-tentang-larangan-membawa-anak-kecil-ke-mesjid/}

Selengkapnya, bacalah situs tersebut

Jika anak sudah mencapai usia tamyiz, disyariatkan dan dituntut bagi walinya untuk memerintahkan anak agar datang ke masjid. Karena orang tua diperintahkan untuk menyuruh anaknya agar melakukan shalat setelah menginjak usia tamyiz. Berdasarkan hadis dari Sabrah radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين. وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها

“Perintahkanlah anak untuk shalat jika sudah mencapai usia 7 tahun, dan jika sudah berusia 10 tahun, pukullah mereka (jika tidak mau diperintah) agar shalat melaksanakan shalat” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dinilai shahih al-Albani) [http://muslimah.or.id/fikih/bolehkan-membawa-anak-kecil-ke-masjid.html]

 

B. Tentang Anak kecil yang Suka Mengganggu

Akan tetapi, jika anak kecil tersebut suka bermain-main, membuat gaduh, berlari-lari kesana kemari mengganggu para jama’ah sholat, maka tidak boleh membawanya ke masjid, berdasarkan fatwa-fatwa para ulama berikut ini:

1. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin

“Menurut hemat saya, membawa anak-anak yang akan mengganggu jama’ah shalat tidak boleh. Karena hanya akan menyakiti jama’ah yang sedang menunaikan kewajiban dari Allah ‘Azza Wa Jalla. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mendengar beberapa sahabat yang sedang shalat, bersuara keras dalam membaca qira’ah, maka beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

 لَا يَهْجُرَنَّ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي القِرَاءَةِ

 “Janganlah sebagian kalian bersuara melebihi orang lain dalam membaca ayat.”

Jadi, segala sesuatu yang dapat mengganggu jama’ah shalat tidak boleh dilakukan oleh siapapun.”

[Fatawa Islamiyah: 2/8; Sumber: 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Griya Ilmu, Agustus 2004 M, Hlm. 73-75; Artikel Majalah Assunnah Edisi 10/THN XV/RABI’UL AWWAL 1433H/PEBRUARI 2012 M melalui perantaraan situs http://amaz95.wordpress.com/2012/03/28/mengajak-anak-anak-ke-masjid/]

Hadits di atas dalam Sunan Abi Daud dan Musnad Imam Ahmad disebutkan,

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ : اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ : « أَلاَ إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلاَ يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلاَ يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِى الْقِرَاءَةِ ». أَوْ قَالَ : « فِى الصَّلاَةِ ».

Dari Abu Sa’id (Al Khudri), ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah beri’tikaf di masjid, lalu beliau mendengar sebagian orang mengeraskan suara ketika membaca Al Qur’an. Lalu beliau membuka hijab (tempat beliau i’tikaf). Lantas beliau bersabda, “Janganlah kalian menyakiti dan janganlah kalian saling mengeraskan bacaan satu sama lain ketika membaca Al Qur’an.” Ada yang mengatakan, “Dalam hal bacaan ketika shalat.” (HR. Abu Daud no. 1332 dan Ahmad 3: 94, shahih kata Syaikh Al Albani) [http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3613-membawa-anak-kecil-ke-masjid-saat-shalat.html]

Oleh karena itu, membawa anak kecil yang belum memasuki usia tamzis, yang biasanya mereka hanya mengganggu dan bermain-main, lebih baik dihindari, sebagaimana fatwa beliau lainnya:

“Jika anak-anak yang berumur 4 tahun ini tidak bisa sholat dengan baik, maka tidak sepantasnya orang tuanya membawa mereka ke masjidkecuali ketika ada perkara dharurah (sangat mendesak), seperti kalau tidak ada di rumahnya seorangpun yang menjaga anak kecil ini. Maka dia membawanya dengan syarat anak tadi tidak mengganggu orang-orang yang sholat. Jika anak itu mengganggu orang-orang yang sholat, janganlah orang tuanya membawanya.

Jika anak kecil itu butuh untuk ditemani di rumah, dalam keadaan ini orang itu diberi udzur untuk meninggalkan jama’ah, karena dia tidak ikut jamaah karena udzur, yaitu menjaga anak”

(Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb No. 643, Al-Maktabah Asy-Syamilah, dengan diringkas)

Beliau juga berfatwa:

“Namun jika anak itu belum mumayyiz, maka lebih baik engkau tidak membawanya, karena dia tidak terlepas dari bermain-main. Mungkin dia akan kencing di masjid dan kadang akan keluar darinya bau tidak enak, sehingga menganggu orang-orang yang sholat” (Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb No. 1348, dengan diringkas) [http://hanif019.wordpress.com/2009/04/30/pada-umur-berapakah-anak-diajak-ke-masjid/]

2. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdillah Ar Raajihi hafizhahullah

“Sikap yang semestinya adalah, tidak membawa anak yang masih kecil ke masjid. Terutama jika mereka gemar bermain-main dan membuat gaduh. Yang semestinya diajak ke masjid adalah anak laki-laki, jika sudah berumur 7 tahun. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

مروا أولادكم بالصلاة لسبع

Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika berumur 7 tahun

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dengan sanad yang shahih.

Jika anak-anak tersebut bisa diatur, tidak membuat gaduh dan tidak mengganggu orang yang shalat, maka tidak mengapa mengajaknya ke masjid dan ia duduk di bagian belakang. Adapun kisah tentang Al Hasan dan Al Husain, zhahir hadits menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengajak mereka, namun mereka yang datang sendiri dan masuk ke masjid. Mereka berdua juga tidak berisik serta tidak mengganggu.” (http://islamlight.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&Itemid=0&catid=1175&id=11897 dengan diringkas melalui perantaraan situs http://kangaswad.wordpress.com/2011/09/19/membawa-anak-kecil-ke-masjid/)

 

Bersambung ke: Biasakanlah Anak yang Sudah Mumayyiz Sholat Berjamaah di Masjid dan Jangan Membawa Anak yang Sering Mengganggu ke Masjid (2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s