Gallery

Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (1) [Memang Apa Salahnya dengan Suara Keras?]

pbase.com

pbase.com

Merupakan suatu hal yang disyukuri bahwa kaum muslimin di Indonesia sadar akan hal ini, dimana setiap orang yang sholat selalu merutinkan berdzikir setelahnya. Akan tetapi, kita dapati bahwa Saudara-Saudara kita tersebut melakukan dzikir tersebut tidak seragam. Ada yang keras dan berjamaah. Ada juga yang lirih. Di sisi lain ada juga yang menggunakan biji tasbih dan mengusap muka setelah dzikir. Tak ketinggalan pula ditutup dengan upacara berjabatan tangan setelah sholat. Mari kita ulas, satu persatu:

A. Dzikir Setelah Sholat dengan Suara Keras atau Pelan?

B. Bolehkah Dzikir Jama’i?

C. Hukum Menggunakan Biji Tasbih Saat Berdzikir Setelah Sholat

D. Apa Salahnya Berdoa dengan Mengangkat Tangan Setelah Sholat?

E. Salahkah Mengusap Muka Setelah Berdoa?

F. Bid’ahkah Berjabat Tangan Setelah Sholat?

G. Kesalahan-kesalahan lainnya

Berikut pembahasannya:

 

A. Memang Apa Salahnya dengan Suara Keras?

Ada dua pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini:

1.    Ada yang menyunnahkannya. Ini adalah pendapat Imam Ath-Thabari -dalam sebuah nukilan darinya-, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan yang difatwakan oleh Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dan Al-Lajnah Ad-Daimah yang diketuai oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz.

Dalil pendapat pertama adalah hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dimana beliau berkata:

أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم وقال ابن عباس كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته

“Mengangkat suara dengan zikir ketika orang-orang selesai shalat wajib adalah hal yang dulunya ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu Abbas berkata, “Saya mengetahui selesainya mereka shalat jika saya mendengarnya.” (HR. Al-Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583)

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Abbas rodhiyallu ‘anhuma berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيرِ 

“Aku dahulu mengetahui selesainya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari suara takbir.” (HR. Al-Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583)

Ibnu Hazm berkata dalam Al-Muhalla (4/260), “Meninggikan suara ketika berzikir di akhir setiap shalat adalah amalan yang baik.” (http://al-atsariyyah.com/zikir-setelah-shalat-hukum-menjahrkannya.html)

Bahkan Syaikh ‘Utsaimin berkata: “Adapun orang yang berkata bahwa menjaharkan bacaan dzikir sesudah shalat adalah bid’ah, sungguh dia telah salah. Bagaimana sesuatu yang biasa dilaksanakan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebut bid’ah?! (http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2011/01/12/12739/)

Catatan: 

Beberapa ‘ulama yang berpendapat sunnahnya mengeraskan dzikir setelah sholat, mereka tidak memutlakkannya.

Syaikh Bin Baz berkata: “… Hadits shahih ini dan hadits-hadits semakna lainnya yang berasal dari hadits Ibnu Zubair, dan Al-Mughirah bin Syu’bahradhiyallahu ‘anhuma dan lainnya, semuanya menunjukkan disyariatkannya mengeraskan dzikir ketika orang-orang selesai shalat wajib, yang kira-kira sampai terdengar oleh orang-orang yang berada di pintu-pintu dan di sekitar masjid, sehingga mereka tahu selesainya shalat (jama’ah) dengan (kerasnya suara dzikir) itu. (Tapi) bagi orang yang didekatnya ada orang lain yang sedang menyelesaikan shalatnya, maka sebaiknya ia memelankan sedikit suaranya, agar tidak mengganggu mereka, karena adanya dalil-dalil lain yang menerangkan hal itu.”…

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata:  “…

“Doa yang dicontohkan dari Nabishallallahu ‘alaihi wasallam dan yang disyari’atkan, seseorang diberi pilihan antara menjaharkannya atau melirihkannya. Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-a’raf: 55)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui yang lirih dan tersembunyi. Engkau boleh berdoa dengan keras dan lirih, kecuali apabila menjaharkannya bisa mengganggu orang di sekitarmu; yang tidur, shalat, atau yang sedang membaca Al-Qur’an al-Karim, maka engkau harus melirihkan suaramu. Atau apabila kamu takut tumbuh riya’ dan sum’ah dalam dirimu, maka engkau lirihkan suaramu dalam berdoa, karena hal ini lebih bisa menjadikan ikhlas…” (http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2011/01/12/12739/)

Selain di situs tersebut, fatwa Syaikh Bin Baz, Syaikh ‘Utsaimin, dan Lajnah Daimah dapat dibaca di: http://addariny.wordpress.com/2009/12/13/mengeraskan-dzikir-stlh-jamaah-sholat-wajib/

 

2.    Hukumnya makruh, kecuali jika imam ingin mengajari makmum bacaan zikir. Ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’i, Ath-Thabari -dalam sebagian nukilan lainnya- dan mayoritas ulama, dan ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, Ibnu Baththal, An-Nawawi, Asy-Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi, Asy-Syaikh Al-Albani.

Dalil-dalil pendapat kedua:

a.    Allah Ta’ala berfirman:

ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها

“Dan janganlah kalian menjahrkan shalat kalian dan jangan pula merendahkannya.” (Al Isra’ :110)

Maksudnya: Janganlah kalian meninggikan suara kalian dalam berdoa dan jangan pula merendahkan suaramu sampai-sampai kamu sendiri tidak bisa mendengarnya.

b.    Asy-Syaikh Ali Mahfuzh berkata, “Bagaimana boleh suara ditinggikan dalam zikir sementara Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang bijaksana, “Berdoalah kalian kepada Rabb kalian dalam keadaan merendah dan suara rendah, sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang melampau batas.” Maka mengecilkan suara lebih dekat kepada keikhlasan dan lebih jauh dari riya`.” (Al-Ibda’ fii Madhaarr Al-Ibtida’ hal. 283)

c.    Dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallu ‘anhu beliau berkata:

كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فكنا إذا أشرفنا على واد هللنا وكبرنا ارتفعت أصواتنا فقال النبي صلى الله عليه وسلم يا أيها الناس اربَعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا إنه معكم إنه سميع قريب تبارك اسمه وتعالى جده

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam perjalanan). Jika kami mendaki bukit maka kami bertahlil dan bertakbir hingga suara kami meninggi. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, kasihanilah (baca: jangan paksakan) diri-diri kalian, karena sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Zat yang tuli dan juga tidak hadir. Sesungguhnya Dia -yang Maha berkah namanya dan Maha tinggi kemuliaannya- mendengar dan dekat dengan kalian.”(HR. Al-Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704)

Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath (6/135), “At-Thabari berkata: Dalam hadits ini terdapat keterangan dibencinya meninggikan suara ketika berdoa dan berzikir. Ini adalah pendapat segenap para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in.” 

d.    Berzikir dengan suara jahr akan mengganggu orang lain yang juga sedang berzikir, bahkan bisa mengganggu orang yang masbuk. Apalagi di zaman ini hampir tidak ditemukan satupun masjid kecuali ada yang masbuk di dalamnya, illa ma sya`allah. (http://al-atsariyyah.com/zikir-setelah-shalat-hukum-menjahrkannya.html)

Baca kembali fatwa Syaikh Bin Baz dan Syaikh Sholih Fauzan di atas, yang notabene mereka termasuk berpendapat tentang sunnahnya menjahrkan dzikir setelah sholat.

Syaikh Al-Albany berkata: “Kejadian ini (HR. Al-Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704 di atas – red) berlangsung di padang pasir yang tidak mungkin mengganggu siapapun. Lalu bagaimana pendapatmu, jika mengeraskan suara dzikir itu berlangsung dalam masjid yang tentu mengganggu orang yang sedang membaca Al-Qur’an, orang yang ‘masbuq’ dan lain-lain. Jadi dengan alasan mengganggu orang lain inilah kita dilarang mengeraskan suara dzikir.”

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

يَاايُّهَا النَّاسُ كُلُكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلاَ يَجْهَرُ بَعْضُكُم عَلَى بَعْضٍ بِالْقِرَاءَةِ

“Artinya : Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat (berbisik-bisik) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian men-jahar-kan bacaannya dengan mengganggu sebagian yang lain. (HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id Al-Khudriy rodhiyallahu ‘anhu)

Al-Baghawi menambahkan dengan sanad yang kuat.

فَتُؤْذُوْاالْمُؤْمِنِيْنَ

“Artinya : Sehingga mengganggu kaum mu’minin (yang sedang bermunajat)”. (http://almanhaj.or.id/content/1501/slash/0/hukum-mengangkat-suara-ketika-berdzikir-setelah-shalat/)

e.    Imam berzikir dengan suara jahr akan membuka wasilah kepada bid’ah zikir dan doa berjamaah. (Akan dibahas setelah ini)

Pendapat yang lebih mendekati kebenaran dalam masalah ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berdasarkan dalil-dalil yang tersebut di atas. (http://al-atsariyyah.com/zikir-setelah-shalat-hukum-menjahrkannya.html)

Teks ucapan Imam Syafi’i bisa dilihat di: http://kajians.wordpress.com/2013/02/03/dzikir-setelah-shalat-fardu-secara-pelan-menurut-imam-syfii/

f. Ada sebuah hadits di dalam Shahihain dari Abu Qatadah Al-Anshari bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu terkadang memperdengarkan kepada para shabahat bacaan ayat Al-Qur’an di dalam shalat Dzuhur dan Ashar, dan Umar juga melakukan sunnah ini.

Imam Asy-Syafi’i menyimpulkan berdasarkan sanad yang shahih bahwa Umar pernah men-jahar-kan do’a iftitah untuk mengajari makmum ; yang menyebabkan Imam ASy-Syafi’i, Ibnu Taimiyah dan lain-lain berkesimpulan bahwa hadits di atas mengandung maksud pengajaran. Dan syari’at telah menentukan bahwa sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi. (http://almanhaj.or.id/content/1501/slash/0/hukum-mengangkat-suara-ketika-berdzikir-setelah-shalat/)

Adapun dalil pihak pertama, maka kesimpulan jawaban dari para ulama yang merajihkan pendapat kedua adalah:

a.    Hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma tidaklah menunjukkan bahwa hal itu berlangsung terus-menerus. Karena kalimat ‘كُنْتُ (aku dahulu)’ mengisyaratkan bahwa hal ini tidak berlangsung lagi setelahnya. Karenanya Imam Asy-Syafi’i menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan zikirnya hanya untuk mengajari para sahabat bacaan zikir yang dibaca setelah shalat. Adapun setelah mereka mengetahuinya maka beliaupun tidak lagi mengeraskan bacaan zikirnya. Demikian diterangkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam kaset silsilah Al-Huda wa An-Nur no. 439

b.    Hal ini diperkuat dengan hadits Aisyah riwayat Muslim di atas yang menunjukkan bahwa setelah beliau salam maka beliau tidak duduk di tempatnya kecuali sekedar membaca zikir yang tersebut di atas.

Sebagai penutup, dan sekedar tambahan faidah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa (15/15-19) menyebutkan 10 faidah merendahkan suara dalam berdoa dam berzikir. Barangsiapa yang ingin mengetahuinya maka hendaknya dia merujuk kepadanya.

[Referensi: Kaset Silsilah Al-Huda wa An-Nur no. 206, 439, dan 471, risalah mengenai hukum meninggikan suara zikir setelah shalat oleh Ihsan bin Muhammad Al-Utaibi, dan Majmu’ Al-Fatawa Ibnu Al-Utsaimin 13/247,261] {http://al-atsariyyah.com/zikir-setelah-shalat-hukum-menjahrkannya.html}

 

Catatan:

1. Jika pun kita cenderung dengan pendapat ‘ulama yang tidak mengeraskan dzikir, maka kurang bijak jika kita langsung mengingkari Saudara kita yang mengikuti pendapat lainnya (yang menyunahkan dzikir setelah sholat dengan suara keras), dengan mengatakan bid’ah, apalagi sampai mengeluarkan pelakunya dari ahlus sunnah. Dalam masalah khilafiyah mu’tabar/ijtihadiyah seperti ini, utamakanlah toleransi.

Syaikh Musthafa Al Adawi hafizhahullah berkata: “Ada banyak permasalahan yang para ulama berlapang dada dalam menyikapi perselisihan di dalamnya, karena ada beberapa pendapat ulama di sana. Setiap pendapat bersandar pada dalil yang shahih atau pada kaidah asal yang umum, atau kepada qiyas jaliy. Maka dalam permasalahan yang seperti ini, tidak boleh kita menganggap orang yang berpegang pada pendapat lain sebagai musuh, tidak boleh menggelarinya sebagai ahli bid’ah, atau menuduhnya berbuat bid’ah, sesat dan menyimpang. Bahkan selayaknya kita mentoleransi setiap pendapat selama bersandar pada dalil shahih, walaupun kita menganggap pendapat yang kita pegang itu lebih tepat”. (Mafatihul Fiqhi, 1/100) [http://muslim.or.id/manhaj/tidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html]

Akan tetapi, boleh kita katakan kepada saudara kita tersebut: “Saudaraku, mari kita bahas masalah ini secara ilmiah dan obyektif” Indah kan?

2. Jika pun kita memilih pendapat yang menyunahkan dzikir setelah sholat dengan suara keras, maka harus dicamkan bahwa hal ini hanya  khusus terkait dzikir setelah sholat saja, tidak dapat digeneralisasi untuk semua dzikir. Dzikir secara umum sunnahnya dilirihkan, sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah Tuhanmu dalam dirimu dengan rendah hati, dan rasa takut, serta tanpa mengeraskan suara…” (al-A’rof: 205), kecuali bila ada dalil yang meng-khususkan dzikir tertentu untuk dikeraskan, seperti hadits di atas (jika berpendapat dikeraskan). Baca juga Al-A’rof: 55 dan  HR. Al-Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704 dari Abu Musa Al-Asy’ari di atas.

Lajnah Da’imah berfatwa:

“Adapun mengeraskan doa dan membaca Al-Qur’an secara jama’i (bersama-sama),  maka hal ini tidak pernah ada tuntunannya dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, maupun dari para sahabat beliau. (Oleh karena itu), perbuatan itu termasuk bid’ah. (http://addariny.wordpress.com/2009/12/13/mengeraskan-dzikir-stlh-jamaah-sholat-wajib/)

 

Bersambung ke: Koreksi Kesalahan Seputar Dziir Setelah Sholat (2) [Bolehkah Dzikir Jama’i?-1]

Advertisements

5 comments on “Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (1) [Memang Apa Salahnya dengan Suara Keras?]

  1. Pingback: DZIKIR JAHR (KERAS) SESUDAH SHOLAT MENURUT ULAMA SALAFY – WAHABI | Generasi Salafus Sholeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s