Gallery

Biasakanlah Anak yang Sudah Mumayyiz Sholat Berjamaah di Masjid dan Jangan Membawa Anak yang Sering Mengganggu ke Masjid (2)

Artikel sebelumnya di: Biasakanlah Anak yang Sudah Mumayyiz Sholat Berjamaah di Masjid dan Jangan Membawa Anak yang Sering Mengganggu ke Masjid (1)

 

assunnahinteraktif.com

assunnahinteraktif.com

3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajid (di dalamnya juga ada fatwa dari ulama lainnya)

“Akan tetapi, perlu diketahui, bahwa siapa yang usianya masih dibawah usia tamyiz, bahkan walaupun dia anak laki, maka orang yang berada disampingnya tidak terhindar dari perilakunya. Karena itu, tidak ada landasan dalam syariat untuk mengajak anak seusia mereka ke masjid. Karena dari satu sisi, mereka belum dapat mengambil manfaat dari hal tersebut, dan di sisi lain tindakannya akan dapat mengganggu pada umumnya. Akan tetapi hal tersebut selayaknya terjadi karena situasi mendadak, atau ada keperluan atau sesuatu kejadian yang bersifat jarang, atau semacamnya. Perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadap puterinya Zainab (Umamah) bukan merupakan kebiasaan yang kontinyu. Bahkan terdapat riwayat bahwa Umamah binti Zainab tersebut bergelayutan dengan kakeknya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau keluar menuju masjid, maka kemudian beliau menggendongnya dan membawanya ke masjid.

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Ucapan; ‘Beliau dahulu shalat..’ menunjukkan bahwa redaksi ini tidak berarti pengulangan secara mutlak, karena peristiwa menggendong Umamah hanya terjadi sekali pada beliau, tidak (terjadi pada waktu) lain.” (Subulussalam, 1/211)

Tidak sepantasnya menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk membawa anak-anak yang suka mengganggu dan mengusik rumah Allah Ta’ala. Karena jika diperkirakan ada manfaat membawa mereka ke masjid, akan tetapi kerusakan yang ditimbulkan mereka lebih besar dari kebaikannya. Dan menghindari kerusakan didahulukan dari mendatangkan manfaat.

Ibnu Qasim rahimahullah berkata, “Malik ditanya tentang anak kecil yang dibawa ke masjid?” Beliau berkata, “Jika dia tidak mengganggu karena usianya yang masih kecil, atau menurut jika dilarang, maka saya memandang tidak apa-apa (dibawa ke masjid).” Lalu dia berkata, “Tapi jika dia mengganggu, maka saya memandang agar jangan dibawa ke masjid.” (Al-Mudawwanah, 1/106)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Masjid hendaknya dipelihara dari apa saja yang mengganggunya dan mengganggu orang shalat di dalamnya. Misalnya dari suara keras anak-anak, atau tindakan mereka yang mengotori tikarnya, dan semacamnya. Khususnya pada saat shalat. Karena hal tersebut merupakan kemungkaran yang besar.” (Majmu Fatawa, 22/204)

Ulama Lajnah Daimah (22/204) berkata, “Jika anaknya belum usia tamyiz, maka lebih baik tidak dibawa ke masjid, karena dia belum mengerti shalat dan mengerti makna berjamaah, disamping dia dapat mengganggu orang shalat.” (Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Abdul Aziz Al Syekh, Syeikh Abdullah bin Ghudayyan, Syeikh Saleh Al-Fauzan, Syeikh Bakar Abu Zaid) Fatawa Lajnah Daimah, Al-Majmua Ats-Tsaniah, 5/263-264) Sebagai tambahan dapat dilihat soal no. 112973 dan no. 132890″ (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/id_islam_qa/id_islam_qa_175062.pdf)

Sekali lagi ditekankan bahwa jika memang anak kecil tersebut bisa diatur, tidak mengganggu, maka boleh membawanya ke masjid, berdasarkan hadits-hadits dan fatwa Ibnu Qosim di atas serta Syaikh Al-Albany berikut ini (di dalamnya juga diterangkan hikmah atas hal ini)

“Dalam hadits-hadits ini terdapat dalil bolehnya memasukkan anak ke masjid-masjid, walaupun mereka masih kecil dan masih tertatih saat berjalan, walaupun ada kemungkinan mereka akan menangis keras, karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menyetujui hal itu, dan tidak mengingkarinya, bahkan beliau menyariatkan untuk para imam agar meringankan bacaan suratnya bila ada jeritan bayi, karena dikhawatirkan akan memberatkan ibunya.

Mungkin saja hikmah dari hal ini adalah untuk membiasakan mereka dalam ketaatan dan menghadiri sholat jamaah, mulai sejak kecil, karena sesungguhnya pemandangan-pemandangan yang mereka lihat dan dengar saat di masjid -seperti: dzikir, bacaan qur’an, takbir, tahmid, dan tasbih- itu memiliki pengaruh yang kuat dalam jiwa mereka, tanpa mereka sadari… Pengaruh tersebut, tidak akan -atau sangat sulit- hilang saat mereka dewasa dan memasuki perjuangan hidup dan gemerlap dunia.

Dan sepertinya Ilmu psikologi modern, menguatkan kenyataan bahwa anak kecil itu bisa dipengaruhi oleh apa yang didengar dan dilihatnya… Adapun anak yg sudah besar, maka terpengaruhnya mereka dengan hal-hal tersebut sangatlah jelas dan tak terbantahkan.

Hanya saja bila ada diantara mereka yg bermain dan berlari-lari di masjid, maka wajib bagi bapaknya atau walinya untuk mengambil tindakan (menghukumnya) dan mendidiknya… Atau wajib bagi petugas dan pelayan masjid untuk mengusir mereka… Seperti inilah praktek kisah yang disebutkan oleh Al-hafizh Ibnu Katsir: “Dahulu Umar bin Khottob rodhiyallohu ‘anhu bila melihat anak-anak bermain di masjid, memukuli mereka dengan pecut, dan setelah Isya’  beliau memeriksa masjid, sehingga tidak menyisakan satu orang pun”. (Tsamarul Mustathob 1/761) [http://addariny.wordpress.com/2011/11/16/mengajak-anak-kecil-ke-masjid/]

Catatan:

Fatwa Syaikh Albany di atas memang membolehkan membawa anak kecil ke masjid, walaupun ada kemungkinan mengganggu, tetapi beliau juga menyarankan agar baaknya mengambil tindakan atau petugas masjid mengusir anak yang mengganggu tersebut. Sehingga, para ulama tersebut bersepakat akan kewajiban menjaga ketenangan dalam sholat berjama’ah, dan menghilangkan sebab-sebab yang merusaknya (termasuk menyingkirkan anak dari masjid). Dan termasuk saddudz dzari’ah (tindakan berjaga-jaga) atas hal ini adalah tidak membawa anak yang hampir bisa dipastikan suka mengganggu dan bikin gaduh ke masjid. Wallohu a’lam

 

C. Bagaimana jika Ada Anak Kecil di Masjid Ikut Sholat Berjamaah?

Pertama, tidak boleh memindah anak kecil yang sudah menempati shaf

Hal ini berdasarkan fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin berikut ini (diringkas):

“Namun aku juga menasehati para jama’ah masjid untuk memberikan keluasan pada anak-anak yang telah diperintahkan untuk ke masjid agar tidak membuat mereka merasa sempit. Biarkanlah mereka berada di shaf yang sudah mereka tempati lebih dahulu. Karena seseorang yang lebih dahulu mendapatkannya, maka dialah yang lebih berhak, terserah ia hanyalah bocah (anak-anak) atau orang yang telah dewasa.

Jika kita membiarkan mereka tetap  di shaf yang mereka dapati lebih dahulu, keuntungannya adalah:

(1) kita telah membiarkan mereka mendapatkan haknya. Karena sekali lagi, siapa saja yang telah lebih dahulu mendapatkan sesuatu, maka dialah yang lebih berhak,

(2) tidak membuat mereka jauh dari masjid (artinya: semangat ke masjid, karena diberi keluasan berada di shaf terdepan, pen),

(3) itu akan membuat anak kecil tidak memiliki rasa dendam atau tidak suka terhadap orang yang berani merampas tempatnya padahal ia telah lebih dahulu mendapatkannya,

(4) jika kita merampas tempat mereka di depan, maka anak-anak akan berkumpul dengan teman-teman lainnya sehingga mereka malah bermain-main dan membuat gelisah jama’ah yang lain, dan ini berbeda jika anak-anak tersebut bersama orang yang telah dewasa.

Adapun penjelasan sebagian ulama yang berpendapat bahwa sebaiknya anak-anak menempati shaf akhir karena berdalil dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى

Hendaklah yang berturut-turut di belakangku di antara kalian adalah orang dewasa dan orang yang cerdas.” [HR. Muslim no. 432, dari ‘Abdullah bin Mas’ud.]

Pendapat ini adalah pendapat yang lemah karena bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,

من سبق إلى ما لم يسبقه إليه أحد فهو أحق به

Barangsiapa yang mendahului mendapatkan sesuatu dari yang lain, maka dia lebih berhak mendapatkannya.” *

Sedangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hendaklah yang berturut-turut di belakangku di antara kalian adalah orang dewasa dan orang yang cerdas”, yang dimaksud adalah dalam hal ketidak-sempurnaan. Karena makna hadits yaitu mendorong orang dewasa dan yang cerdas untuk berada lebih depan agar berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka tentu saja lebih mengetahui hal fikih dibanding anak-anak dan tentu saja mereka lebih bisa memperhatikan kekeliruan beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam, atau bisa mendengar beliau. Yang bisa melakukan seperti itu adalah orang dewasa dan yang cerdas. Beda halnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah boleh berada di belakangku selain orang dewasa dan yang cerdas.” Jika disebut demikian, maknanya adalah anak kecil tidaklah boleh di shaf depan. Namun hadits dari beliau berbeda dengan hal itu. Beliau cuma menganjurkan orang dewasa dan yang cerdas tadi untuk maju berada di belakang beliau ketika shalat (artinya, bukan jadi suatu keharusan)”

* Dalam Sunan Al Baihaqi disebutkan,

مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبِقْهُ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ لَهُ

Barangsiapa yang mendahului mendapatkan sesuatu dari yang lain, maka dia lebih berhak mendapatkannya.” (HR. Al Baihaqi  6: 142) [http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3613-membawa-anak-kecil-ke-masjid-saat-shalat.html]

* Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan

((مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبِقْ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ))

“Barangsiapa yang mendahului kepada perkara yang tidak didahului oleh seorang muslim, maka dia lebih berhak dengannya.” (HR. Abu Dawud 3/177) [http://hanif019.wordpress.com/2009/04/30/pada-umur-berapakah-anak-diajak-ke-masjid/]

Kedua, dalam fatwa di atas juga dijelaskan bahwa cara menyusun shof apabila terdapat anak kecil, maka anak kecil tersebut diletakkan selang-seling dengan orang dewasa (di samping orang tuanya), bukan dikumpulkan menjadi satu di belakang.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadis dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

أن جدته مليكة – رضي الله عنها – دعت رسول الله صلى الله عليه وسلم لطعام صنعته، فأكل منه، فقال: قوموا فلأصل بكم ، فقمت إلى حصير لنا قد اسودّ من طول ما لبث فنضحته بماء، فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم واليتيم معي، والعجوز من ورائنا، فصلى بنا ركعتين

Neneknya, Mulaikah radliallahu ‘anha, pernah mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk makan di rumahnya. Setelah selesai makan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Bersiaplah, mari saya imami kalian untuk shalat berjamaah.” Anas mengatakan: Kemudian aku siapkan tikar milik kami yang sudah hitam karena sudah usang, dan aku perciki dengan air. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dan ada anak yatim bersamaku (dalam satu shaf), dan wanita tua di belakang kami. Beliau mengimami shalat dua rakaat. (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis ini dalil bolehnya orang yang sudah baligh membuat shaf dengan anak kecil. Karena Anas bin Malik radliallahu ‘anhu shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersama seorang anak yatim. Sementara anak yatim adalah anak yang ditinggal mati bapaknya dan dia belum baligh. [http://muslimah.or.id/fikih/bolehkan-membawa-anak-kecil-ke-masjid.html]

 

Lalu bagaimana solusinya jika ada anak yang membuat keributan di masjid? 

Sekali lagi saya sebutkan fatwa Syaikh Albany di atas:

“Hanya saja bila ada diantara mereka yg bermain dan berlari-lari di masjid, maka wajib bagi bapaknya atau walinya untuk mengambil tindakan (menghukumnya) dan mendidiknya… Atau wajib bagi petugas dan pelayan masjid untuk mengusir mereka… Seperti inilah praktek kisah yang disebutkan oleh Al-hafizh Ibnu Katsir: “Dahulu Umar bin Khottob rodhiyallohu ‘anhu bila melihat anak-anak bermain di masjid, memukuli mereka dengan pecut, dan setelah Isya’  beliau memeriksa masjid, sehingga tidak menyisakan satu orang pun”. (Tsamarul Mustathob 1/761) [http://addariny.wordpress.com/2011/11/16/mengajak-anak-kecil-ke-masjid/]

Hanya saja, terkait petugas dan pelayan masjid yang menertibkan anak-anak ini, perlu dilihat kemashlahatan dan kemudhorotannya, disesuaikan dengan adat masyarakat setempat. Jangan sampai terlalu keras dengan memukul anak-anak yang membuat gaduh tersebut. Berikut fatwa dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin terkait hal ini (diringkas):

“Jika mereka mengganggu maka mereka dicegah melalui wali-wali mereka; agar tidak menjadi fitnah; karena apabila anda mencegah anak yang berumur tujuh tahun yang mengganggu di masjid dengan memukulnya maka orang tuanya akan marah kepada anda, karena kebanyakan manusia saat ini mereka tidak mempunyai rasa keadilan, kemudian akan berbicara kepada anda dan mungkin akan ada permusuhan dan kemarahan. Solusinya adalah kita mencegah mereka melalui orang tua-orang tua mereka sehingga tidak terjadi fitnah.” ( Liqo’aat Al Baabul Maftuuh, Juz.125/Hal.8) [http://abukhodijah.wordpress.com/2010/06/12/hukum-mengajak-anak-anak-ke-masjid/]

Menyuruh anak-anak tersebut pulang juga bukan tindakan dewasa nan bijak. Bisa jadi kalau menyuruh mereka pulang akan membuat anak-anak tersebut bergerombol keluar masjid dan bermain petasan di luar? Lagi pula, kalau anaknya sensitif perasaannya maka malah bisa membuat mereka dendam, trauma, dan tidak senang lagi ke masjid? Hal ini sama saja membuat orang semakin menjauhi masjid ‘wal iyya dzubillah’

Jadi, tugas utama petugas dan pelayan masjid hanya memastikan bahwa anak-anak kecil berada selang seling di tengah shaf orang tua, insya Allah dengan begitu paling tidak anak-anak akan segan untuk bermain-main di antara shaf orang tua. (http://www.rezamaulana.com/25/07/2012/solusi-agar-anak-anak-kecil-di-masjid-tidak-ribut/)

 

Kesimpulan atas pembahasan ini adalah sebagaimana tertulis dalam judul:

“Biasakanlah Anak yang Sudah Mumayyiz Sholat Berjamaah di Masjid dan Jangan Membawa Anak yang Sering Mengganggu ke Masjid”

 

Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla menjadikan anak-anak laki-laki kita menjadi anak yang sholih dan hatinya selalu terpaut untuk selalu sholat berjama’ah di masjid dan menjadikan pahala ibadahnya mengalir terus kepada kita selaku orang tuanya walaupun kita sudah terbaring di alam kubur. Amin

Wallohu A’lam. Semoga Bermanfaat

Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

 

Abu Muhammad

Palembang, 22 Jumadits Tsaniyah 1434 H/ 2 Mei 2013

 

Download dalam bentuk pdf, artikel: Biasakanlah Anak yang Sudah Mumayyiz Sholat Berjamaah di Masjid dan Jangan Membawa Anak yang Sering Mengganggu ke Masjid (1 dan 2, lengkap)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s