Gallery

Apakah Tidak Ada Kebid’ahan dalam Ibadah Ghairu Mahdhah (1)

twitter.com

twitter.com

 

“Perbuatan-perbuatan bid’ah itu hanya ada dalam ibadah mahdhoh seperti sholat dan puasa, bukan ibadah ghoiru mahdhoh. Jadi ibadah ghoiru mahdhoh seperti maulidan dan tahlilan itu BUKAN BID’AH”

Barangkali ada saudara kita yang berkata demikian? Yang jelas terjadi, ada yang berkata seperti ini:

“Arti kata-kata “kebid’ahan di dalam Islam” ,“dalam urusan kami” ialah kebid’ahan dalam hal yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’alaa yakni berupa kewajiban,larangan dan pengharaman atau disebut ibadah mahdah (ibadah ketaatan),Ibadah yang mau tidak mau harus dilaksanakan dan ditaati bagi seluruh muslim,perkara syariat,Ibadah yang disyaratkan bagi seluruh umat Islam,ibadah yang wajib mengikuti apa yang telah dijelaskan/disampaikan/dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam.

Sedangkan kebid’ahan dalam hal perbuatan/ibadah yang Allah subhanahu wa ta’alaa telah diamkan/bolehkan tentu dibolehkan. Logikanya segala sesuatu yang Allah swt telah diamkan/bolehkan tentu juga perkara baru,bid’ah,inovasi,kreatifitas dibolehkan asalkan tidak melanggar larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Bahkan perbuatan/ibadah yang Allah subhanahu wa ta’alaa telah diamkan/bolehkan,sebagian adalah termasuk perbuatan/ibadah yang Allah swt anjurkan sehingga bagi muslim yang melaksanakaannya akan mendapatkan kebaikan/pahala.

Perbuatan/ibadah yang Allah subhanahu wa ta’alaa telah diamkan/bolehkan dinamakan ibadah ghairu mahdah,ibadah kebaikan,amal kebaikan,amal sholeh,perbuatan/ibadah yang tidak disyaratkan atau tidak dikerjakan tidaklah berdosa,perbuatan/ibadah yang dianjurkan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam namun boleh dikerjakan sesuai dengan kesadaran,keinginan dan kebutuhan kita sendiri asalkan tidak melanggar larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Kebid’ahan dalam ibadah ghairu mahdah disebut bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah.” (mohon maaf sumber tidak bisa saya sebutkan)

Inti syubhat ini adalah pada kalimat terakhir di atas. Untuk menjawab syubhat-syubhat di atas, setidaknya harus dibahas:

a. Pengertian ibadah (baik mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh);

b. Bid’ah yang terlarang hanya terkait masalah agama, bukan perkara dunia;

c. Apakah perkara adat yang mubah bisa menjadi bid’ah?; dan

d. Adakah bid’ah hasanah (mahmudah)?

Mari kita telaah satu-persatu:

 

A. Pengertian Ibadah

Penulis syarah Al-Wajibat menjelaskan, “Ibadah secara bahasa berarti perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan.” (Tanbihaat Mukhtasharah, hal. 28).

Adapun secara istilah syari’at, para ulama memberikan beberapa definisi yang beraneka ragam. Di antara definisi terbaik dan terlengkap adalah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,

“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir). Maka shalat, zakat, puasa, haji, berbicara jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan), berbuat baik kepada orang atau hewan yang dijadikan sebagai pekerja, memanjatkan do’a, berdzikir, membaca Al Qur’an dan lain sebagainya adalah termasuk bagian dari ibadah. Begitu pula rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, inabah (kembali taat) kepada-Nya, memurnikan agama (amal ketaatan) hanya untuk-Nya, bersabar terhadap keputusan (takdir)-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, merasa ridha terhadap qadha/takdir-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat (kasih sayang)-Nya, merasa takut dari siksa-Nya dan lain sebagainya itu semua juga termasuk bagian dari ibadah kepada Allah” (Al ‘Ubudiyah, cet. Maktabah Darul Balagh hal. 6). (http://abumushlih.com/pengertian-ibadah.html/)

Definisi di atas tentu mencakup ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh sebagaimana dikatakan sebagian ulama. Mari kita perjelas lagi.

Para ulama menjadikan perkara ibadah menjadi dua macam. Macam pertama adalah ibadah yang murni ibadah (ibadah mahdhoh). Ibadah yang satu ini harus melalui wahyu, tanpa wahyu seseorang tidak mungkin mengamalkannya. Contohnya adalah shalat, puasa, dan dzikir. Ibadah  jenis pertama ini tidak boleh seseorang membuat kreasi baru di dalamnya, sebagaimana nanti akan dijelaskan.

Sedangkan macam kedua adalah ibadah ghoiru mahdhoh (bukan murni ibadah). Macam kedua ini, asalnya adalah perkara mubah atau perkara dunia. Namun karena diniatkan untuk ibadah, maka bernilai pahala. Seperti berdagang, jika diniatkan ikhlas karena Allah untuk menghidupi keluarga, bukan semata-mata untuk cari penghidupan, maka nantinya bernilai pahala.[Lihat pembahasan dalam kitab Tahdzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz AL Jibrin, hal. 39-40, Maktabah Al Mulk Fahd, cetakan pertama, 1425 H] (http://muslim.or.id/aqidah/dua-syarat-diterimanya-ibadah.html)

Asal dari ibadah mahdhoh adalah tauqifiyah.

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan berkata:

Ibadah adalah perkara tauqifiyah. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak), sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya:

“Barangsiapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami, maka ia ditolak.” [Hadits Riwayat. Al-Bukhari dan Muslim]

Maksudnya, amalnya ditolak dan tidak diterima, bahkan ia berdosa karenanya, sebab amal tersebut adalah maksiat, bukan ta’at. (Kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan) [http://almanhaj.or.id/content/1973/slash/0/pengertian-ibadah-paham-yang-salah-tentang-ibadah-syarat-diterimanya-ibadah/].

Jadi pendapat saudaraku di atas (yang ditulis miring) jelas salah. Coba pikir, darimana kita mengetahui ibadah yang tidak dicontohkan Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam tersebut akan mendapatkan ridho Alloh? Benar-benar klaim yang sok tau. Yang ada juga tertolak dan divonis sesat oleh Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam yang notabene merupakan penyampai wahyu Alloh jalla wa a’la

 

B. Bid’ah yang Terlarang Hanya Terkait Masalah Agama, Bukan Perkara Dunia

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْأَحْدَثَفِىأَمْرِنَاهَذَامَالَيْسَمِنْهُفَهُوَرَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718) [[http://muslim.or.id/manhaj/bidah-bukan-dalam-urusan-dunia.html]

Dalam urusan kami”, maksudnya dalam agama kami, sebagaimana dalam firman Allah –Ta’ala-, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi urusannya (Nabi) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.”. (QS. An-Nur: 63)

[Lihat Bahjatun Nazhirin hal. 254 dan Syarhul Arba’in karya Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh] {http://al-atsariyyah.com/meluruskan-pemahaman-tentang-bidah.html}

Demikian juga penjelasan ulama yang lain.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata mengenai bid’ah,

أصلهاماأحدثعلىغيرمثالسابق،وتطلقفيالشرعفيمقابلالسنّةفتكونمذمومة

“ (Bid’ah) Asalnya adalah apa-apa yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya dan dimutlakkan dalam syariat (agama) yang menyelisihi sunnah sehingga menjadi tercela.” (Fathul Bari 4/532, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, syamilah)

Pakar Bahasa Al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata

ما أحدث في الدين من غير دليل

Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’ hal. 8, syamilah)  [http://muslim.or.id/manhaj/bidah-bukan-dalam-urusan-dunia.html]

Adapun dalam perkara dunia maka hukum asalnya adalah boleh, perhatikanlah tatkala para sahabat ingin melakukan penyerbukan silang pada kurma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىَّ

“Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan)

Suatu kaedah yang perlu diketahui bahwa untuk perkara non ibadah (‘adat), hukum asalnya adalah tidak terlarang (mubah) sampai terdapat larangan. Hal inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (sebagaimana dalam Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/86) dan ulama lainnya. (http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html)

Jadi, komputer, pesawat, handphone, mikrofon, dll, hanyalah bid’ah secara bahasa yang hukumnya mubah, bukan bid’ah secara istilah yang terlarang. Pahamilah, karena ini sangat penting dalam memahami perkataan bid’ah hasanah yang diucapkan oleh sebagian ulama.

Berikut ini sedikit penjelasan bid’ah secara bahasa:

Bid’ah secara bahasa artinya memunculkan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya, sebagaimana dalam firman Allah -Subhanahu wa Ta’ala-:

بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allah membuat bid’ah terhadap langit dan bumi”.(QS. Al-Baqarah: 117 dan Al-An’am: 101)

Yakni Allah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya yang mendahului. Dan Allah -‘Azza wa Jalla- berfirman :

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

Katakanlah: “Aku bukanlah bid’ah dari para Rasul”. (QS. Al-Ahqaf: 9)

Yakni : Saya bukanlah orang pertama yang datang dengan membawa risalah dari Allah kepada para hamba, akan tetapi telah mendahului saya banyak dari para Rasul. Lihat: Lisanul ‘Arab (9/351-352) [http://al-atsariyyah.com/meluruskan-pemahaman-tentang-bidah.html]

 

Bersambung ke: Apakah Tidak Ada Kebid’ahan dalam Ibadah Ghairu Mahdhah (2)

Advertisements

7 comments on “Apakah Tidak Ada Kebid’ahan dalam Ibadah Ghairu Mahdhah (1)

  1. jangan terlalu menyalahkan akan apa-apa yang dilakukan oleh mereka yang menjalankan maulid,ziarah kubur, tahlil, nujuh bulan dll. ingat perkataan andalah yang menyudutkan islam anda yang anda anggap paling benar. sekali lagi ingat anda adalah manusia yang mungkin saaja bisa salah. perbanyak istigfar tuk kurangi dosa

    • Saya hanya menulis apa yang sesuai dengan dalil yang shohih. Bukan berdasarkan amalan yang tidak ada dalilnya dan berdasarkan dalil yang lemah. Perkataan anda mencerminkan tidak yakinnya anda dengan manhaj yang anda tempuh, maka carilah manhaj yang benar. Ya saya akui saya hanya manusia biasa yang SANGAT BANYAK dosanya, semoga Allah yang Maha Pengampun mengampuni seluruh dosa saya.

    • Ciri khas penganut bidah adalah sulit menerima petunjuk dari selain kiyainya!selalu menolak kebenaran cenderung pembangkang itulah kalau adat dan budaya nenek moyang yg jelas tidak islami menjadi panutan.

  2. السلام عليكم، عفوًا أخي،
    Ana mau bertanya, kalau misalnya kita mengadakan acara tausiyah/nasihat umum agama memanfaatkan waktu-waktu /momen tertentu seperti tahun baru, 10 Muharram, hari lahir Nabi saw. (12 Rabiul Awwal), hari kemerdekaan, pindah rumah, dll. apakah disebut sebagai perkara bid’ah yang amalannya tertolak? Jika bukan, pelaksanaannya baiknya seperti apa ya, agar tdk tergolong ahlul bid’ah?
    شكرًا

    • Secara umum, peringatan hari2 tersebut adalah tidak ada dasarnya. Terkait ceramah, bisa saja yang mengisi adalah ustadz yang bermanhaj lurus yang dapat menjelaskan kekeliruan perayaan maulid Nabi, dll secara lembut. jadi ini malah kesempatan untuk mengenalkan kepada masyarakat awam tentang sunnah shohihah terkhusus madzhab Syafi’i yang banyak dilupakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s