Gallery

Belajar Menghargai Waktu (2)

Artikel sebelumnya di: Belajar Menghargai Waktu (1)

Belajar Memanfaatkan Waktu dari Para Ulama

rindusunnah.com

Para salafus soleh meninggalkan banyak pelajaran berharga dalam menghargai waktu. Berikut ini “secuil” nukilan dari kesibukan para ulama (semoga kita dapat mengambil pelajaran):

1. Imam Abu Hanifah (80 – 150 H)

Asad bin Amr berkata: “Abu Hanifah shalat Isya” dan Shubuh dengan sekali wudhu” selama 40 tahun.

Abu Yusuf berkata: “Abu Hanifah selalu menghidup­kan malam dengan shalat dan do”a.”

(Disalin dari Majalah al-Furqon Ed.8 th.V 1427 H/ 2006 M melalui perantaraan file Biografi Imam Empat [ Imam Al-Arba’ah ] yang diunduh dari ibnumajjah.wordpress.com)

Jauh banget lah dengan kita!

2. Imam Asy-Syafi’i (150 – 204 H)

Dalam usia 7 tahun Imam Asy-Syafi’i selesai menghafal Al-Qur’an dan usia 10 tahun beliau hafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, usia 15 tahun dengan izin gurunya yang bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji untuk berfatwa. Beliau juga banyak menghafal syair-syair Hudzail. Setelah itu beliau pergi ke Madinah untuk belajar fiqih dari Imam Malik bin Anas hingga Imam Malik wafat tahun 179 H, setelah itu beliau belajar dari Sufyan bin ‘Uyainah. (File Biografi Imam Empat [ Imam Al-Arba’ah ] yang diunduh dari ibnumajjah.wordpress.com)

Kita umur 15 tahun mah kerjaannya main terus!

Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisi) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat. (http://muslim.or.id/biografi/imam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html)

Ibadahnya kayak gini. Al – Husain Al Karabisi berkata, ”Aku bermalam bersama Asy Syafi’i selama delapan puluh malam, dia selalu sholat sekitar sepertiga malam. Dalam sholatnya, aku juga tidak pernah melihatnya membaca Al-Qur’an kurang dari 80 ayat, kalau pun lebih tidak lebih dari seratus ayat, ketika membaca ayat yang berisi rahmat, maka ia selalu berdoa untuk dirinya dan orang mukmin semuanya. Dan ketika membaca ayat yang berisi adzab, maka ia selalu memohon perlindungan dari Allah untuk dirinya dan orang mukmin semuanya. Kalau aku perhatikan, maka seolah olah rasa takut dan penuh harap berkumpul dan bersatu menjadi satu dalam dirinya. (http://abualbinjy.files.wordpress.com/2008/03/biografi-imam-syafii.pdf)

Dengerin kajian biografi Imam Syafi’i disini http://bacasalaf.wordpress.com/2012/06/29/biografi-imam-syafii-dalam-mp3/ dan  http://ahsan.tv/kajian/Z/12-ustadz-abu-zubair-hawaary/31-biografi-ulama/431-biografi-imam-syafii-rahimahullah.html

3. Imam Ahmad bin Hanbal (164 – 241 H) 

Sebagaimana ulama yang lain, beliau sangat tekun dalam menuntut ilmu. Beliau menuntut ilmu kepada Imam Syafi‘i, Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain. Ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal lain sampai-sampai beliau baru menikah setelah berumur 40 tahun.
Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar 60 tahun. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, tentang an-nasikh dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-Manasik ash-Shagir dan al-Kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-Zindiqah (Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitabal-Wara‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah.
(http://ahsan.tv/artikel/ulama/biografi/528-biografi-imam-ahmad-bin-hambal.html)

Jangan tanya soal ibadahnya, beliau adalah seorang yang sangat kuat ibadahnya. Putra beliau yang bernama Abdullah menceritakan tentang kebiasaan ayahnya: ” Dahulu ayahku shalat sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Dan tatkala kondisi fisik beliau mulai melemah akibat pengaruh dari penyiksaan yang pernah dialaminya maka beliau hanya mampu shalat sehari semalam sebanyak 150 rakaat!” Suatu hari ada salah seorang murid beliau menginap di rumahnya. Maka beliau menyiapkan air untuknya (agar ia bisa berwudhu). Maka tatkala pagi harinya, beliau mendapati air tersebut masih utuh, maka beliau berkata: “Subhanallah, seorang penuntut ilmu tidak melakukan dzikir pada malam harinya?”

Abdullah mengatakan: … Ayah tidak pernah meninggalkan puasa Senin-Kamis dan puasa ayyamul bidh (puasa tiga hari, tanggal 13, 14, 15 dalam bulan Hijriyah).
Dalam riwayat lain beliau berkata: “Ayah membaca Al-Qur’an setiap harinya 1/7 Al-Qur’an.
(http://assunnah-qatar.com/artikel/tokoh-islam/663-mengambil-tauladan-dari-imam-ahmad-bin-hanbal.html)

Lihat juga yang lebih lengkap disini http://ahlussunnahtegal.com/2012/05/al-imam-ahmad-bin-hambal-rahimahullah/

Coba kita instrospeksi diri kita: Apakah kita pernah sangat tekun menyusun suatu kitab sampai bertahun-tahun (kalo bisa)? Sebagus apa kita sholat malam (itu pun kalo sholat malam)? Rutinkah kita puasa sunnah? Berapa lembar kita membaca Al-Qur’an setiap hari (itu pun kalo kita rutin membaca dan mempelajari Al-Qur’an)?

4. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari (223 – 310 H)

Sepanjang hidupnya tercatat telah mengumpulkan 358 ribu halaman dari berbagai karangannya. Jika kita perkirakan masa kanak-kanak beliau sebelum baligh (14 tahun), maka dapat disimpulkan beliau menulis 14 halaman setiap harinya. Begitu perhatiannya beliau dengan waktu, sampai-sampai ketika kira-kira sejam sebelum kematiannya beliau masih menyempatkan diri menulis suatu do`a yang baru ia dengar dari Ja`far bin Muhammad. (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)

Coba bandingkan dengan kita (sekalipun yang gemar menulis), jumlah 14 halaman per hari sangat sulit kita selesaikan kecuali sebatas ‘copas’.

5. Imam Nawawi (631 – 676 H) 

Beliau tidur dengan bersandarkan sebuah buku yang ditegakkan pada dagunya, begitu buku itu terjatuh maka beliau terjaga dan kembali menggoreskan tintanya.
(http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)

Kok gak kayak kita ya, mudah tidur?! Paling ngegame atau nonton bola biar tidak mengantuk?!

Ketika berumur 10 tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam.

Semasa tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami’ Al-Umawiy, jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri 12 halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Ia pun mengungguli teman-temannya yang lain.
Ia berkata: “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.” [Syadzaratudz Dzahab 5/355].

Diantara syaikh beliau: Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy, Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi. (http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html)

Coba perhatikan diri kita saat berumur 10 tahun, hampir semua waktu luang kita habiskan dengan bermain, sama sekali tidak terlintas dalam benak kita untuk belajar agama. Perhatikan juga diri kita sekarang, sudahkah setiap hari kita mempelajari ilmu agama yang bermanfaat?

Baca juga biografi Imam Nawawi disini: http://solihin87.abatasa.com/post/detail/8757/biografi-imam-nawawi.html

6. Majduddin Abu al-Barakat `Abdussalam

Kakek dari Imam Ibnu Taimiyah ini, tiap kali masuk ke WC, beliau memerintahkan anaknya (orang tua Imam Ibnu Taimiyah) untuk membacakan suatu kitab dengan suara keras, hingga terdengar olehnya. (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)

7. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661 – 728 H)

Tak aneh jika sikap sang kakek tersebut tertular kepada cucunya. Suatu ketika Imam Ibnu Taimiyah jatuh sakit, dokter menyarankan agar beliau untuk sementara waktu menghentikan dulu kegiatan belajar mengajarnya karena hal itu dikhawatirkan dapat memperparah kondisinya. Berkata Imam Ibnu Taimiyah kepada dokternya, “bukankah jika jiwa yang bahagia dan gembira dapat memperkuat daya tahan tubuh”, sang dokter membenarkannya.
“Maka sesungguhnya jiwaku merasa tenang jika berinteraksi dengan ilmu, dan tubuhku terasa kuat dan hanya dengan itu saya dapat beristirahat.” (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)

Apakah kita bersemangat belajar ilmu agama? Kebanyakan kita belajar agama cuma dari khotib jumat yang menyampaikan hal-hal umum yang kebanyakan kita sudah tau, gimana ilmu kita mau berilmu?!

Ibnu Taimiyah sudah menyibukkan diri dengan ilmu agama mulai dari kecil. Waktu kecil, ayahnya ingin membawa anak-anaknya rekreasi ke sebuah taman, lalu beliaupun berkata kepada Syaikhul Islam: ‘Hai Ahmad, engkau berangkat bersama saudara-saudaramu untuk bersantai.’ Tapi Ibnu Taimiyah memberi alasan kepada ayahandanya, sedangkan ayah beliau terus mendesak. Syaikhul Islam tetap menolak: ‘Saya ingin ayah memaafkan saya untuk tidak keluar.’ Akhirnya sang ayah meninggalkannya dan berangkat bersama saudara-saudara beliau yang lain. Mereka menghabiskan hari itu di taman tersebut, dan kembali menjelang sore. (http://asysyariah.com/sejarah-hidup-syaikhul-islam-ibnu-taimiyah.html)

Pada umurnya yang ke -17 tahun, beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. (http://artikelassunnah.blogspot.com/2009/10/syaikh-ibnu-taimiyyah.html#.UQhu3791_j4)

Coba cek orang-orang yang mencela seenaknya tentang imam besar ini, waktu kecil para pencela itu digunakan untuk apa? bermain-main atau menuntut ilmu, tidakkah mereka tahu siapa yang dicela?

Waktu beliau dihabiskan dengan jihad dengan pena dan lisan. Beliau rahimahullah telah berdiri di depan musuh-musuh Islam dari penganut berbagai agama, aliran, isme yang batil, dan ahlul bid’ah bagaikan gunung yang kokoh. Kadang dengan perdebatan langsung, terkadang pula melalui tulisan. Beliau menghancurkan syubhat-syubhat (racun pemikiran) mereka dan mengembalikan tipu daya mereka –bihamdillah-. Beliau menghadapi ahli filsafat, bathiniyyah baik dari golongan sufiyyah, isma’iliyyah, nashiriyyah, dan selain mereka. Sebagaimana beliau juga menghadapi rafidhah dan golongan yang sesat (atheis). Beliau hancurkan syubhat-syubhat ahlul bid’ah yang diadakan di sekeliling masyahid (kuburan yang ramai untuk diziarahi), kuburan secara umum, dan semacamnya. Sebagaimana beliau menghadapi jahmiyyah, mu’tazilah, dan beliau membantah ahlul kalam dan asya’iroh. Orang yang melihat sisi ini dari kehidupan beliau hampir-hampir menegaskan tidak ada lagi waktu yang sia-sia yang tersisa dalam kehidupan beliau.  (http://yufidia.com/ibnu-taimiyyah)

Jumlah Total Karya Ibnu Taimiyah 621 yang mana banyak hasil karyanya telah hilang. (http://situs.assunnah.web.id/2008/01/02/biografi-syaikhul-islam-ibnu-taimiyah-tamat/)

Karya-karyanya bukan hanya berisikan ilmu diniyyah tapi juga ilmu dunia. Alhamdulillah, sebagian besar karya-karya beliau telah dicetak dan mencapai sekitar 200 jilid.
Majmu’ Fatawa yang merupakan kumpulan fatwa-fatwa beliau dan tergolong karya yang paling terkenal, mencapai 35 jilid, yang telah diterbitkan oleh beberapa penerbit.
Menurut asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rohimahulloh, karya-karya Syaikhul Islam Ahmad bin Abdulhalim bin Taimiyah sangat lengkap dan meliputi seluruh bidang ilmu yang sahih (benar), mengumpulkan ilmu-ilmu dasar (ushul atau aqidah) dan cabang-cabangnya, ilmu-ilmu naql (syariat) dan ‘aql (akal), akhlak dan adab, lahir maupun batin. Mengumpulkan antara tujuan-tujuan akhir dan sarana-sarananya, antara masalah-masalah dan dalil-dalilnya, antara hukum-hukum dan keterangan hikmah-hikmah serta rahasianya. (http://asysyariah.com/berenang-di-samudra-ilmu-ibnu-taimiyah.html)

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya.

Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pem- bagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”
Adz-Dzahabi berkata: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya …..

Bagaimana kesibukan beliau di penjara? Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit 20 hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.  (http://artikelassunnah.blogspot.com/2009/10/syaikh-ibnu-taimiyyah.html#.UQhu3791_j4)

Melihat keluasan dan kedalaman ilmu beliau, bayangkan (kalo bisa) ketekunan beliau dalam menuntut ilmu!

8. Ibnu Al-Qayyim (691 – 751 H)

Beliau tidak rela kehilangan waktunya karena safar (suatu perjalanan), sehingga selama safarnya beliau mengisinya dengan menulis sehingga menghasilkan karya Zaadul Ma`ad. (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)

Kisah di atas bisa didapati di muqodimah Zaadul Ma’ad. Zaadul Ma’ad itu 4 atau 5 jilid lho, cuma beliau tulis saat safar. Btw, kalo kita sedang safar (misalnya pulang kampung), ngapain coba, gak bisa copass lagi kan? karena ilmu kita hanya sebatas ‘fii suthuur’ (di tulisan: buku atau komputer), bukan ‘fii-shuduur’ (menetap di dalam dada).

Beliau mempelajari hadits dan sibuk dengan ilmu. Dia menguasai berbagai cabang ilmu, utamanya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushuluddin, bahasa Arab, ushul fikih, ilmu fikih, menguasai perbedaan pendapat para ulama dan mazhab-mazhab salaf. (http://kaahil.wordpress.com/2009/06/06/biografi-ibnu-qoyim-al-jauziyah/)

Cukuplah dengan melihat karya-karya beliau yang sangat banyak (lihat disini: http://kaahil.wordpress.com/2009/06/06/biografi-ibnu-qoyim-al-jauziyah/ dan http://artikelassunnah.blogspot.com/2010/02/biografi-imam-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah.html#.UQo_wL91_j4), sehingga kita dapat mengetahui betapa sibuknya beliau bergelut dengan ilmu.

9. Syaikh Al-Albani (1333 – 1420 H)

Syeikh al-Albani sangat cinta terhadap dunia hadits. Beliau menghabiskan waktunya di Perpustakaan adh-Dhahiriyah (Damaskus), di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Beliau betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah yang setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul.
Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang berbagai masalah yang bermanfaat. (http://al-madina.s5.com/Kisah/Biografi_Albani.htm)

Melihat gambaran sekilas tersebut, begitu tampak bahwa beliau sangat menghargai waktu.

 

Dialog Penulis dengan Seorang Akhil Fadhil/Ustadz Hafidzohullohu Ta’ala

Ini merupakan kisah nyata yang pernah penulis (Abu Muhammad) alami. Berikut kisahnya, semoga bermanfaat dapat diambil ibrohnya.

26 Desember 2012, saat itu saya menjadi lebih sadar akan pentingnya menghargai waktu. Sebelumnya saya memang bertanya macam-macam dengan beliau tentang hal-hal teknis terkait kuliah di Saudi, seperti syarat-syarat applynya, TOEFL dan ‘tetek bengeknya’, biaya hidup, tiket, dll, yang memang kalo dipikir-pikir pertanyaan saya tersebut tidak perlu dan ‘bawel’, berikut jawaban dari ustadz tersebut:  (asli ‘copas’ dari email, yang huruf miring  adalah perkatan beliau)

Waktu itu kutanya apakah beliau bisa kuhubungi kalau sudah pulang ke Indonesia

“Kalau sy ada waktu luang, bisa. Sy di Indonesia, lbh sibuk dari di Saudi krn sy ngurus pesantren di desa saya.” 

Ternyata beliau tidak terlalu suka dipanggil mas oleh orang yang tidak dikenal

“Sy memang agak risih kalau tidak kenal namun sok akrab, apalagi kurang menghargai waktu saya. Afwan.”

Inilah nasihat emas beliau

“Dan sy rasa pertanyaan2 yg ditanyakan sebenarnya tidak perlu ditanyakan, sebagian sudah sy jelaskan di web sy. Jadi, itu dapat menghemat waktu saya. Mohon maaf sekali, aktifitas sy itu begitu padat. Setiap melihat email ada, sy harus balas. Walaupun singkat2. Karena bukan email antum sj yg saya jawab, puluhan email setiap hari harus sy reply. Namun kalau kesannya dari awal sdh membuat sy risih. Jadinya sy kurang suka untuk meladeni selanjutnya.  Jadi yg sy minta, mohon yg urgent2 sj yg ditanyakan. Adapun tanya TOEFL di mana? Diterima atau tidak? Ini pertanyaan teknis, yg banyak orang sudah tidak perlu menannyakannya lagi.”

Kalo terkesan agak ketus ya wajar, lha wong saya sudah membuat beliau risih duluan (lihat baris kedua dari bawah)

Selanjutnya saya sadar akan betapa sibuknya beliau hafidzohullohu ta’ala. berkut ini kesibukannya:

1. Mengasuh 5 situs islami, penulis amati, beliau hampir setiap hari posting (mengupload tulisan)

2. Kuliah s2 di Saudi

3. Dai dan pengajar bahasa arab dasar

4. Pekerja magang

5. Pemimpin pondok pesantren

6.  Kajian tematik bersama para ustadz mahasiswa pascasarjana di Saudi

7. Durus (kajian) harian dan / atau pekanan serta dauroh bersama para ulama di Saudi Arabia

Coba bayangkan kesibukan beliau, pantes kan kalo pertanyaan-pertanyaan tidak penting saya membuat beliau risih (bahkan waktu itu saya merasa dimarahi)

‘Ala kulli hal, saya beruntung mendapat nasihat ini, dengan nasihat ini pula saya menggunakan sebagian waktu luang untuk ngeblog. Bagaimanapun nasihat ini seperti membangunkan saya dari tidur selama ini dari menyepelekan waktu. Hal tersebut lebih dikarenakan kekurang-bergaulan saya dengan para asatidz.

Memang seharusnya kita banyak bergaul dengan orang-orang yang menghargai waktu dan berusaha menjauhi orang-orang yang menyepelekan waktu.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kenalilah seseorang dengan melihat dengan siapa ia berteman, karena orang yang menemaninya adalah semisal dengannya.” (http://abiaqila.wordpress.com/2009/10/18/akibat-kata-nanti-nanti-dan-nanti/)

Alhamdulillah dan syukron kepada Akhil Fadhil / Ustadz tersebut hafidzohullohu ta’ala, semoga Alloh yang berada di atas ‘Arsy selalu melimpahkan rahmat dan taufiqnya kepada saya dan beliau.

Btw, meskipun saya tidak menyebutkan nama beliau, tapi yang biasa membaca tulisan beliau pasti tahu siapa beliau. Seandainya beliau membaca tulisan ini, saya berharap beliau mengizinkan untuk memuat email yang saya tulis di atas, karena email ini memuat faedah bagi saya dan semoga juga kepada siapa saja yang membaca tulisan ini.

 

Penutup 

cafe-islamicculture.blogspot.com

cafe-islamicculture.blogspot.com

Yahya bin Muhammad bin Hubairah berkata: “Waktu akan semakin berharga bila dijalankan dengan baik, dan aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah untuk kita lalaikan” (Dzail Thabaqatil Hanabilah I/281)

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku tidak senang melihat seseorang yang menganggur, tidak mengurus urusan dunia maupun akhirat” (Siyar A’lam An Nubala I/496)

Memanfaatkan waktu bagi seorang muslim bisa juga mengerjakan kebajikan sesegera mungkin. Dan tidak menunda-nunda kebaikan itu.

Sebagaimana nasihat Hasan Al Bashri, “Jangan lagi katakan ‘Besok, besok’ karena kamu tidak pernah tahu, kapan kamu akan kembali menemui Rabbmu” (Hilyatul Auliya’ 2/140)

Jangan biarkan umur kita pergi sementara kita belum melakukan apa-apa.

“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu ini tidak lain hanyalah perjalanan waktu; setiap kali waktu berlalu, berarti hilanglah sebagian dirimu” (Hasan Al Bashri, sebagaimana dinukil dalam Siyar A’lam An Nubala 1/496). (http://cafe-islamicculture.blogspot.com/2011/10/manfaatkan-waktu-ala-generasi-salaf.html)

Al-Imam asy-Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang ingin Allah membukakan dan menerangi hatinya, hendaknya ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna dan menjauhi kemaksiatan” (Tahdziibul Asmaa’ karya al-Imam anNawawy (1/79)

Saif al-Yamani menyatakan: “Sesungguhnya salah satu tanda bahwa Allah berpaling dari seorang hamba adalah Allah jadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak berguna” (Thobaqoot al-Muhadditsiin bi Asbahaan karya Abusy Syaikh al-Asbahaany (3/150). (http://www.salafy.or.id/tinggalkan-hal-yang-tidak-penting/)

Semoga Alloh selalu melimpahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga kita bisa memanfaatkan sisa umur kita dengan amal yang bermanfaat. Semoga Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad berserta sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

 

Abu Muhammad

Palembang, 20 Robi’ul Awwal 1434 H / 1 Februari 2013

 

Download dalam bentuk pdf, artikel: BELAJAR MENGHARGAI WAKTU (1 dan 2, lengkap)

Advertisements

2 comments on “Belajar Menghargai Waktu (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s