Gallery

Fitnah Terbunuhnya Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, Menjawab Kerancuan (1)

layoutsparks.com

layoutsparks.com

Diantara kisah sahabat yang paling seru pembahasannya adalah fitnah terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Musuh-musuh islam sangat berkepentingan untuk menyelewengkan sejarah yang benar dengan berbagai macam kerancuan. Jika kaum muslimin mau membuka kembali lembaran sejarah yang sudah ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam buku-buku mereka, niscaya kerancuan-kerancuan yang dimunculkan oleh orang-orang yang hatinya berpenyakit tersebut akan mudah ditepis. Berikut ini kami sajikan sekilas sejarah yang selamat dari distorsi para musuh islam. Hanya kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala lah kita meminta petunjuk.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa musibah akan menimpanya, karena itulah beliau bersabar dan melarang para Sahabat agar tidak memerangi orang-orang yang membangkang kepadanya, sehingga tidak ada pertumpahan darah karenanya.[Lihat al-‘Awaashim minal Qawaashim (hal. 132-137) tahqiq dan ta’liq Muhibbuddin al-Khatib]

Dijelaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَـى حَائِطٍ مِنْ حَوَائِطِ الْمَدِينَةِ… فَجَاءَ عُثْمَـانُ، فَقُلْتُ: كَمَا أَنْتَ؛ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ لَكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ مَعَهَا بَلاَءٌ يُصِيبُهُ.

“Pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke sebuah kebun dari kebun-kebun Madinah… lalu datang ‘Utsman, aku berkata, ‘Tunggu dulu! Sehingga aku memohon izin (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) untukmu,’ kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Izinkanlah ia, berilah kabar kepadanya dengan Surga, bersamanya ada musibah yang menimpanya.’” [Shahih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab al-Fitnah allati Tamuuju ka Maujil Bahri (XIII/48, al-Fat-h]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan ‘Utsman dengan menyebutkan musibah yang akan menimpanya, padahal ‘Umar pun meninggal dengan terbunuh. Hal itu karena ‘Umar tidak mendapatkan cobaan sebesar yang didapatkan oleh ‘Utsman; berupa sikap kaumnya yang lancang dan memaksanya untuk melepaskan jabatan kepemimpinan atas tuduhan kezhaliman dan ketidakadilan yang dinisbatkan kepadanya, dan ‘Utsman memberikan penjelasan yang lugas serta bantahan atas pernyataan-pernyataan mereka.[Lihat Fat-hul Baari (XIII/51)]

Dengan terbunuhnya ‘Utsman Radhiyallahu anhu kaum muslimin menjadi berkelompok-kelompok, terjadilah peperangan antara para Sahabat, berbagai fitnah dan hawa nafsu menyebar, banyaknya pertikaian, pendapat menjadi berbeda-beda, dan terjadilah berbagai pertempuran yang membinasakan pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhum. (http://almanhaj.or.id/content/3207/slash/0/6b-terbunuhnya-utsman-bin-affan-radhiyallahu-anhu/)

Riwayat berikut ini menjawab kerancuan-kerancuan seputar pembunuhan Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu secara ringkas yang mencakup:

1. Siapakah orang yang bertanggung jawab di balik terbunuhnya Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu?

2. Bagaimana bisa si pembunuh dapat membunuh Utsman?

3. Mengapa para sahabat Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam tidak memerangi mereka untuk membela Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu?

4. Mereka telah mengetahui bahwa Utsman rodhiyallohu ‘anhu adalah seorang yang dizhalimi dan pemberontak telah mengancam akan membunuhnya. Bukankah seharusnya mereka memerangi pemberontak tersebut walaupun Utsman rodhiyallohu ‘anhu melarangnya?

5, Mengapa Utsman melarang mereka, padahal ia tahu bahwa posisinya sebagai orang yang terzhalimi dan ia juga mengetahui bahwa memerangi pemberontak termasuk melarang kemungkaran serta menegakkan kebenaran?

Silahkan dibaca:

Muhammad bin Husain rohimahulloh berkata, “Jika ada yang mengatakan, ‘Engkau telah menyebutkan dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah yang akan terjadi setelah beliau wafat, kemudian beliau juga menyebutkan tentang Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu, ikutilah dia dan sahabat-sahabatnya! Karena pada waktu itu dia berada di dalam kebenaran. Coba sebutkan siapa yang dimaksud dengan sahabat-sahabatnya tersebut?’

Katakanlah, ‘Mereka adalah sahabat Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam. yang telah mendapat persaksian beliau menjadi penghuni surga dan sifat-sifat mereka telah disebutkan di dalam Taurat dan Injil. Barangsiapa mencintainya maka ia akan sejahtera dan yang membencinya akan sengsara.

Jika ia bertanya, ‘Sebutkan nama-nama mereka!’

Katakanlah, ‘Mereka adalah Ali binAbi Thalib, Thalhah, az-Zubair, Saad, Said  rodhiyallohu ‘anhum dan semua sahabat yang hidup pada waktu itu berada di atas kebenaran sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua mengingkari pembunuhan tersebut dan menganggap bahwa suatu perkara yang sangat keji telah menimpa Utsman mereka juga mengatakan bahwa pembunuhnya adalah penduduk neraka.

Jika ia bertanya, ‘Siapa yang telah membunuh Utsman rodhiyallohu ‘anhu?’

Katakanlah, ‘Sekelompok orang -semoga Allah Subhanahu wa ta’ala. menyengsarakan mereka yang memendam dendam kesumat terhadap beliau dan menginginkan tersebarnya fitnah agar umat Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam terjerumus dalam kedengkian karena kesengsaraan yang mereka alami di dunia, dan di akhirat mereka akan memperoleh adzab yang lebih besar.’

Jika ia bertanya, ‘Bagaimana muncul kesepakatan mereka untuk membunuh Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu?’

Katakan kepadanya, ‘Yang demikian itu muncul dari seorang yang disebut Ibnu Sauda’ atau yang dikenal dengan Abdullah bin Saba’ – semoga Allah Subhanahu wa ta’ala melaknatnya- ia berpura-pura masuk Islam dan tinggal di Madinah sehingga muncul kedengkian terhadap Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, sahabat-sahabat beliau, dan agama Islam. Ia menyusup ke tengah kaum muslimin sebagaimana menyusupnya raja Yahudi Paulus bin Syaul ke dalam agama Nasrani hingga ia dapat menyesatkan dan memecah belah mereka menjadi berbagai kelompok. Setelah bala’ dan kekufuran tersebut menimpa mereka, ia pun pergi meninggalkan mereka. Kisahnya amat panjang dan akhirnya mereka kembali memeluk agama Yahudi.

Demikian juga halnya dengan Abdullah bin Saba’. Ia berpura-pura masuk Islam dan melakukan amar ma’ruf dan melarang kemungkaran sehingga ia mempunyai banyak murid di berbagai tempat. Lalu mulailah ia mencela sebagian gubernur lantas mencela Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu dan Abu Bakar rodhiyallohu ‘anhu lantas berpura-pura mencintai Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu. Allah Subhanahu wa ta’ala. telah melindungi Ali binAbi Thalib rodhiyallohu ‘anhu dan keturanannya dari madzhab yang dianut oleh Abdullah bin Saba’ serta pengikutnya, as-Saba’iyah. Tatkala fitnah Ibnu Saba’ dan pengikutnya mulai berkuku, ia pindah ke Kufah sehingga ia banyak mendapatkan pengikut di sana. Kemudian ia pindah kembali ke Bashrah dan mendapatkan pengikut di sana, begitu juga di Mesir, mereka semua berada di dalam kesesatan. Kemudian mereka membuat suatu kesepakatan di suatu tempat tentang sebuah perkara yaitu mereka semua sepakat pergi ke Madinah untuk membuat fitnah di tengah penduduknya. Kesepakatan tersebut mereka laksanakan sehingga mereka membunuh Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu dan penduduk Madinah tidak menyangka sedikit pun kalau mereka akan bertindak seperti itu.

Jika ia bertanya, ‘Mengapa para sahabat Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam tidak memerangi mereka untuk membela Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu?

Katakan kepadanya, bahwa Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu dan para sahabatnya tidak mengetahui hingga hal tersebut terjadi. Di Madinah sendiri tidak terdapat pasukan yang dipersiapkan untuk berperang. Ketika hal itu terjadi, para sahabat berusaha untuk menolong dan membelanya, namun mereka tidak mampu. Mereka pernah menawarkan pembelaan walau dengan mengor-bankan jiwa, namun Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu enggan menerimanya dan berkata, ‘Kalian bebas dari bai’atku dan sulit untuk membelaku. Aku mengharap akan menjumpai Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan selamat dan terzhalimi.’

Ali bin Abi Thalib, Thalhah, az-Zubair dan banyak dari kalangan sahabat rodhiyallohu ‘anhum yang memberikan komentar sangat keras dan tajam terhadap mereka. Setelah merasa bahwa para sahabat mengingkari tindakan mereka tersebut maka masing-masing kelompok menunjukkan sikap bahwa mereka mencintai para sahabat. Sekelompok menetap di pintu rumah Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu dan mengelukan bahwa mereka mencintai beliau. Allah Subhanahu wa ta’ala membersihkan beliau dari perbuatan mereka. Mereka menghalangi beliau untuk keluar rumah. Sekelompok lagi menetap di pintu rumah Thalhah rodhiyallohu ‘anhu dan mengelukan bahwa mereka mencintai beliau. Allah Subhanahu wa ta’ala telah membersihkan beliau dari perbuatan mereka. Sekelompok lagi menetap di pintu rumah az-Zubair rodhiyallohu ‘anhu dan mengelukan bahwa mereka mencintai beliau. Allah  Subhanahu wa ta’ala telah membersih-kan beliau dari perbuatan mereka. Sebenarnya mereka ingin mengalihkan perhatian para sahabat dari menolong Utsman rodhiyallohu ‘anhu dan membuat satu kamuflase agar penduduk Madinah tidak mencium rencana mereka yang telah ditaqdirkan Allah Subhanahu wa ta’ala bahwa Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu akan terbunuh secara zhalim sehingga terjadilah suatu peristiwa yang tidak sanggup dicegah oleh para sahabat. Begitu pun para sahabat rodhiyallohu ‘anhum telah menawarkan diri mereka kepada Utsman rodhiyallohu ‘anhu agar beliau mengizinkan mereka untuk membelanya walaupun bilangan mereka sangat sedikit. Namun beliau enggan memberikan izin. Jika beliau mengizinkan para sahabat, tentunya mereka telah memerangi para pemberontak tersebut.”

Al-Abbas bin Ahmad al-Khataly yang dikenal dengan Ibnu Abu Syahmah telah mengatakan kepada kami, “Dahsyam bin al-Fadhl Abu Said Ar-Rumaly telah mengatakan kepada kami, al-Muawwil bin Isma’il telah mengatakan kepada kami, Hammad bin Zaid telah mengatakan kepada kami dari Ayub, Hisyam dan Muhammad bin Sirin, mereka berkata, ‘Pada waktu itu kaum Muhajirin dan Anshar berada di rumah beliau bersama anak-anak mereka, di antaranya Abdullah bin Umar, al-Hasan, al-Husain, Abdullah bin az-Zubair, Muhammad bin Thalhah rodhiyallohu ‘anhum dan satu orang saja dari mereka lebih baik dari pada ini dan itu. Mereka berkata, ‘Ya Amirul Mukminin biarkan kami menghalau mereka.’ Utsman menjawab, ‘Aku tegaskan kepada kalian semua bahwa jangan ada setetes pun darah yang tertumpah karena membelaku dan aku berkeberatan jika ada di antara kalian yang membelaku’.”

Jika ia berkata, “Mereka telah mengetahui bahwa Utsman rodhiyallohu ‘anhu adalah seorang yang dizhalimi dan pemberontak telah mengancam akan membunuhnya, seharusny amereka memerangi pemberontak tersebut walaupun Utsman rodhiyallohu ‘anhu melarangnya.”

Jawabnya, “Engkau telah mengucapkan suatu ucapan yang tidak baik karena engkau mengucapkannya secara umum.”

Jika ia katakan, “Mengapa?”

Jawabnya, “Karena para sahabat adalah orang-orang yang taat. Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan kepada mereka taufiq untuk berkata dan berbuat sesuai dengan kebenaran. Mereka telah melakukan apa yang diwajibkan terhadap mereka yaitu mengingkari dengan hati, lisan dan telah melakukan pertolongan sesuai dengan kemampuan mereka. Tatkala Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu melarang mereka untuk membelanya, mereka mengetahui bahwa mereka wajib untuk mendengar dan mentaati perintah tersebut serta mereka tidak punya alasan untuk menentang perintah tersebut. Dan kebenaran ada pada mereka sebagaimana pendapat Utsman bin Affan rrodhiyallohu ‘anhu.”

Jika ia bertanya, “Mengapa Utsman melarang mereka, padahal ia tahu bahwa posisinya sebagai orang yang terzhalimi dan ia juga mengetahui bahwa memerangi pemberontak termasuk melarang kemungkaran serta menegakkan kebenaran.”

Katakan kepadanya, “Ini juga termasuk keteledoranmu.”

Jika ia bertanya, “Mengapa?”

Katakan kepadanya, “Utsman rodhiyallohu ‘anhu melarang para sahabat untuk membelanya karena beberapa alasan yang terpuji:

l. Karena ia telah mengetahui dari sabda Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam bahwa ia akan terbunuh secara zhalim dan Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya agar bersabar. Ketika para pemberontak mengepung rumahnya maka ia yakin bahwa ia akan terbunuh. Karena apa yang dikatakan Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam pasti akan menjadi kenyataan. Kemudian ia telah berjanji untuk bersikap sabar maka ia pun menepati apa yang telah ia janjikan.  Jika ia meminta bantuan untuk menolongnya berarti bertentangan dengans sikap sabar yang telah ia tekadkan.

2. Utsman rodhiyallohu ‘anhu mengetahui bahwa pada waktu itu jumlah para sahabat sangat sedikit dan kelompok yang ingin membunuhnya berjumlah lebih banyak. Jika ia mengizinkan mereka untuk memerangi pemberontak tersebut tentunya banyaklah para sahabat yang akan menjadi korban. Oleh karena itu ia membiarkan dirinya menjadi korban untuk menyelamatkan sahabat yang lain. Ia adalah pemimpin dan pemimpin wajib melindungi rakyatnya dengan segenap kemampuan. Di samping itu ia telah mengetahui bahwa ia akan terbunuh sehingga ia dapat menyelamatkan mereka semua.

3. Utsman mengetahui bahwa ini adalah sebuah fitnah. Dan jika fitnah telah mengarah kepada penghunusan pedang maka tidak ada jaminan bahwa orang-orang yang tidak berdosa tidak menjadi korban. Utsman rodhiyallohu ‘anhu tidak memerintahkan sahabatsahabatnya untuk menghunus pedang dalam fitnah ini. Ini juga merupakan tanda kasih sayang Utsman rodhiyallohu ‘anhu kepada para sahabatnya. rodhiyallohu ‘anhum Memang benar, dalam fitnah ini harta terampas dan kehormatan telah dirobek tetapi dengan begitu Utsman rodhiyallohu ‘anhu melindungi semua para sahabatnya.

4. Utsman rodhiyallohu ‘anhu memilih untuk bersabar dan tidak meminta pertolongan agar para sahabatnya menjadi saksi atas kezhaliman, penentangan terhadap perintahnya dan penumpahan darahnya dengan tanpa alasan yang benar. Karena orang-orang mukmin adalah saksi atas apa yang terjadi di atas bumi, tetapi ia tidak suka darah kaum muslimin lainnya tertumpah karena dirinya dan tidak menggantikan Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam| memimpin umatnya dengan menumpahkan darah seorang muslim. Demikianlah beliau katakan. Utsman rodhiyallohu ‘anhu melakukannya karena udzur dan beliau berada di atas kebenaran. Para sahabat rodhiyallohu ‘anhu  juga dalam keadaan berudzur dan pembunuhnya berada dalam kesengsaraan.

Dinukil dari kitab Asy-Syari’ah karya Imam Abu Bakar Al-Ajurri (Wafat 360 H) jilid ke lima, 1978-1983, tahqiq Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaijy dengan perantaraan buku Al-Bidayah wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin, cetakan I, Darul Haq, hal 401-404 (judul asli: Tartib wa Tahdzib Al-Kitab Bidayah wan Nihayah, Penulis: Ibnu Katsir, Penyusun: Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami, Penerbit: Dar al-Wathan, Cet. I)

Kisah yang lebih lengkap dapat dibaca di buku tersebut mulai halaman 373 – 400

Baca juga kisah singkatnya di http://salafartikel.wordpress.com/2012/05/17/utsman-bin-affan-tauladan-keteguhan-memegang-sunnah/; http://ashshaffmesinits.wordpress.com/2008/12/15/tragedi-terbunuhnya-utsman-bin-affan/; dan http://shirotholmustaqim.files.wordpress.com/2010/01/abu-yala-meluruskan-sejarah-tragedi-terbunuhnya-utsman-bin-affan1.pdf (khusus situs terakhir pembahasannya lebih lengkap)

Bersambung ke: Fitnah Terbunuhnya Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, Menjawab Kerancuan (2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s