Gallery

Berdakwah dengan Blog

depositphotos.com

depositphotos.com

Ketika seseorang telah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, maka tahapan selanjutnya adalah mendakwahkan kebenaran yang ia pegang dan bersabar dalam mendakwahkannya. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi salaf terdahulu adalah sebaik-baik tauladan dalam hal ini. Sehingga merekalah golongan pertama yang berhak mendapatkan keberuntungan dan selamat dari termasuk golongan yang merugi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran.” (Al Ashr:1-3) (http://ghuroba.blogsome.com/2007/06/08/keutamaan-dakwah-ke-jalan-allah/)

Siapa yang tidak tergiur dengan keutamaan dakwah berikut ini?

1. Memperoleh Pahala Orang lain (http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatdoa&id=356)

Dalam Shahih Muslim, Kitab al-Ilm, Bab Man Sanna Sunnatan Hasanatan au Sayyiatan, 4/2060, no. 2674. dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا. وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا.

“Barangsiapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia memperoleh dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.”

Sedangkan dalam Shahih Muslim Kitab al-Imarah, Bab Fadhlu Ianah al-Ghazi, 3/1506, no. 1893. juga, dari Abu Mas’ud al-Anshari al-Badri radiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ.

‘Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya’.”

2. Lebih baik dari memiliki harta dunia yang paling berharga

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab Ghazwah Khaibar, 7/476, no. 4210; Muslim, Kitab ash-Shahabah Bab Fadha`il Ali ibn Abi Thalib, 4/1872, no. 2406. dari Sahal bin Sa’ad , bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali radiyallahu ‘anhu,

فَوَاللهِ، لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ.

“Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk terhadap seorang laki-laki melalui dirimu adalah lebih baik bagimu daripada kamu memperoleh unta merah.

” حُمْرُ النَّعَمِ bermakna unta yang berwarna kemerahan dan itu dulu merupakan harta yang paling berharga bagi bangsa Arab.

3. Ciri dan karakter seorang ahlussunnah berdakwah ke jalan Allah Ta’ala di atas bashirah. (http://ghuroba.blogsome.com/2007/06/08/keutamaan-dakwah-ke-jalan-allah/)

Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia (yang artinya),“Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.” (Yusuf:108)

As Syaikh Rabi’ Hafidzahullah berkata, “Sepertinya sebaik-baik yang pernah dikatakan tentang kedudukan dakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Ibnul Qayyim Rahimahullan,” Maka berdakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah peran para Rasul dan pengikut mereka…. Dan menyampaikan sunnah-sunnahnya kepada ummat lebih utama dari melemparkan anak-anak panah ke leher-leher musuh. Karena melemparkan anak-anak panah bisa dilakukan oleh semua orang, sedangkan menyampaikan sunnah-sunnah tidak bisa diemban kecuali oleh pewaris para Nabi dan pengganti mereka pada ummatnya”.” An Nashihah karya Asy Syaikh Rabi’ Al Madkhali Hafidzahullah (hal 9 cetakan Daarul Minhaj)

4. Benteng yang kokoh bagi ummat dan masyarakat dari musibah dan bencana. (http://ghuroba.blogsome.com/2007/06/08/keutamaan-dakwah-ke-jalan-allah/)

Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia (yang artinya), “Maka mengapa tidak ada dari ummat-ummat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyaikeutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang melakukan perbaikan” (Hud: 116-117)

As Syaikh Saliim Al Hilali Hafidzahullah berkata, “Ayat ini merupakan isyarat yang menyingkap salah satu dari sunnah-sunnah Allah Ta’ala pada umat-umat terdahulu. Maka umat yang rusak dengan penghambaan kepada selain Allah Ta’ala pada salah satu dari bentuk-bentuknya, kemudian ada yang bangkit mengingkarinya merekalah ummat yang selamat, mereka tidak dihukum dengan adzab dan kebinasaan. Sedangkan ummat yang merebak di sana kedzaliman dan kerusakan dan tidak ada yang mengingkarinya atau ada yang mengingkarinya tapi tidak membekas pada kondisi yang rusak maka sesungguhnya sunnatullah berlaku pada mereka dan membinasakan mereka dengan sejadi-jadinya…. Dari sini tampaklah nilainya dakwah ke jalan Allah Ta’ala dan nilai upaya membersihkan bumi Allah Ta’ala dari kerusakan yang menyelimutinya karena ia merupakan benteng yang kokoh bagi ummat dan masyarakat“. Lihat Bahjatun Nadzirin (1/34 cetakan Daar Ibnul Jauzi).

Dan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengutus utusan-utusan semuanya di atas tujuan yang sama, membersihkan bumi Allah Ta’ala dari najis-najis kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi dan sehingga agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu) maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”(Al Baqarah:193)

Al Imam Ibnu Jarir At Thabari di dalam tafsirnya berkata, “Sehingga tidak ada kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan sehingga tidak ada satu pun diibadahi selain Dia dan lenyaplah peribadahan kepada berhala dan sesembahan-sesembahan dan tandingan-tandingan. Sehingga ibadah dan ketaatan hanyalah untuk Allah semata.”

Dan dalam riwayat hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Aku diperintahkan untuk memerangi sekalian manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaaha Ilallah, maka apabila mereka mengucapkannya maka terlindungilah dariku darah-darah mereka dan harta harta benda mereka kecuali dengan alasan yang dibenarkan dan perhitungan mereka di sisi Allah.”(Hadits Riwayat Muslim)

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengutus Muadz Bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu ke Yaman dengan amanah, “Sesungguhnya kamu mendatangi Ahli Kitab, jadikanlah dakwahmu (ajakanmu) yang pertama kepada mereka syahadat Laa Ilaaha Ilallah-dan dalam riwayat yang lain agar mereka mentauhidkan Allah.”(Mutafaqun ‘Alaih)

Dan begitu pula para shahabatnya Radhiyallahu ‘Anhum yang berjalan di atas garis ini. Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepada Abul Hayyaj, “Inginkankah kamu aku utus seperti Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dahulu mengutusku: Jangan tinggalkan satu pun gambar makhluk hidup kecuali kamu hapus, dan jangan pula kuburan yang ditinggikan kecuali kamu ratakan.” Hadits riwayat Muslim dari Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu.

5. Allah Ta’ala memuji para da’i yang menyeru kepada kebaikan (http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-dakwah-ilallah.html)

Allah Ta’ala berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat : 33)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya mengenai ayat tersebut, “Maka para da’i tersebut memberi manfaat kepada dirinya dan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bukanlah termasuk golongan ini orang-orang yang menyeru kepada yang ma’ruf akan tetapi tidak mengerjakannya, atau mencegah dari yang munkar akan tetapi ia sendiri mengerjakannya. Akan tetapi mereka menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan, menyeru al khalqu (makhluq) kepada al khaaliqu (penciptanya) tabaraka wa ta’ala. Seruan ini umum mencakup siapa saja yang menyeru kepada kebaikan, dan memberikan petunjuk kepada orang lain.

6. Mereka adalah golongan yang memperoleh kemenangan dan keberuntungan di hari ketika manusia berkumpul dalam keadaan ada yang bahagia dan ada yang sedih. (http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-dakwah-ilallah.html)

Allah Ta’ala berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr :1-3).

Maka orang-orang yang beruntung ialah mereka yang beriman kepada Allah baik sebagai Rabb Pencipta alam semesta, maupun sebagai Ilah yang berhak diibadahi semata, dan beramal shalih yaitu amal yang dikerjakan ikhlas karena Allah semata, dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian bersegera dalam menyempurnakan dan memperbaiki orang lain dengan menyeru manusia kepada al haq, yaitu setiap yang disyariatkan oleh Allah, kemudian bersabar di atas al haq tersebut, baik bersabar ketika mengerjakan ketaatan, bersabar dalam menjauhi keburukan, dan bersabar ketika ditimpa musibah

7.    Pahala dakwah ilallah akan memberi manfaat yang terus menerus, selama Allah berkehendak, dan tidak terputus dengan kematian (http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-dakwah-ilallah.html)

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, “Jika manusia mati terputuslah darinya amalnya kecuali tiga hal : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim). Maka ilmu yang disebarkan oleh seorang da’i dalam rangka menyeru kepada Allah, baik melalui majelis ta’lim, atau ketika bergaul dengan manusia, pahalanya akan senantiasa mengalir dan memberikan manfaat hingga hari kiamat kelak.

8. Allah Ta’ala menjadikan seluruh makhluk di langit dan bumi, semuanya memohonkan ampun bagi para da’i ilallah, sampai ikan-ikan di lautan sekalipun. (http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-dakwah-ilallah.html)

Inilah ganjaran atas amalan mereka menyebarkan ilmu yang merupakan warisan para Nabi, sesuai dengan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi, hingga ikan-ikan di lautan turut memohonkan ampun bagi mereka

9. Allah Ta’ala menetapkan pahala bagi para da’i ilallah, pahala yang besarnya semisal dengan mereka yang meneladani para da’i tersebut dalam kebaikan, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya. (http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-dakwah-ilallah.html)

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memelopori suatu kebaikan (yang telah ada contohnya dari Nabi -pent) dalam Islam, baginya pahala semisal dengan orang yang melakukannya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang diperoleh orang yang melakukan tersebut”. Dalam hadits lainnya, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan baginya pahala yang semisal dengan orang yang melakukan kebaikan tersebut”.

Inilah salah satu cara melipatgandakan pahala yang sangat menjanjikan, bisa dibaca https://abumuhammadblog.wordpress.com/2013/01/10/cara-melipatgandakan-pahala-amal-sholih/

Lebih puasnya bisa menyimak kajian: http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Abdil%20Muhsin%20Firanda%20Andirja/Keutamaan%20Dakwah%20%2526%20Adab-adab%20Dalam%20Berdakwah

Melihat keterangan di atas, sebagai seorang muslim tentu sangat tergiur. Kalo masih miskin ilmu, belum lancar membaca kitab berbahasa arab (atau malah belum bisa) tapi sangat ingin ‘kecipratan’ pahala tersebut, gimana cara melakukannya? Halaah… semuanya insyaAlloh sudah tau lah. Bisa dengan cara mendidik/mendakwahi keluarga kita (yang tentunya tidak harus berilmu secara mendalam, cukup dengan menyediakan buku-buku islam yang bermanfaat. Kalo mendakwahi orang lain gimana? Bisa dengan blog, dengan bermodal ‘copas’ sana sini, bisa jadi artikel kan…he..he.. Tapi ingat, ‘copas’ nya harus amanah, dengan menyebut sumber (URL) nya, agar kita tidak dituduh “mencuri”. Tentang cara membuat blog, gampang, semua yang melek internet insyaAlloh bisa, cari saja di internet, banyak yang sudah nulis dengan detail. So, jangan tunda lagi..

123rf.com

123rf.com

Saya beri penyemangat: kalo orang-orang yang punya penyakit hati telah menebarkan berbagai macam fitnah syahwat dan syubhat di internet yang bisa diakses siapa pun dan dimana pun, maka mengapa kita yang insyaAlloh mempunyai niat baik untuk memperbaiki saudara-saudara kita kaum muslimin tidak tergerak untuk menggoreskan tulisan di blog untuk ikut bahu membahu berdakwah semampu kita. Sekali lagi, jangan tunda lagi, manfaatkanlah karunia / kemudahan dari Alloh untuk meraup pahala semampu kita…

Selain bertujuan untuk mengambil secuil dari faidah dakwah ilalloh, ngeblog ini juga bisa bertujuan untuk memurojaan (mengingat kembali) pelajaran ilmu yang sudah kita dapat.

Syaikh Abdurrahman Bin Nasir As-Sa’di berkata: “Dan diantara adab bagi orang yang berilmu dan para penuntut ilmu adalah saling menasehati dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat sesuai dengan kemampuan. Walaupun seseorang hanya mengetahui satu masalah saja, kemudian ia ajarkan dan sebarkan maka ini adalah tanda barokah dari ilmunya, karena buah ilmumu adalah ketika manusia mengambil ilmu tersebut darimu.

Dan barang siapa yang bakhil dengan ilmunya, maka ilmunya akan mati dengan kematiannya, bahkan terkadang dia akan lupa dari ilmunya walupun dia masih hidup. Akan tetapi seseorang yang menyebarkan ilmunya, maka inilah kehidupan ilmunya yang kedua dan sebagai wacana untuk menghafal ilmunya, dan Allah akan mengganjarnya sesuai dengan amalannya”. (‘Awa’iqut Tholab:93) (http://www.novieffendi.com/2012/04/keutamaan-dan-adab-menuntut-ilmu-2.html)

Begitulah sebatas yang penulis bisa lakukan, semoga Alloh menjauhkan penulis blog ini dari niat selain mengharap wajah Alloh..

« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad) (http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/inginkah-anda-menjadi-orang-yang-ikhlas.html)

Semoga Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad berserta sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

Wallohu A’lam

Abu Muhammad

Palembang, 2 Robi’ul Awwal 1434 H / 14 Januari 2013

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s