Gallery

Bisa Membuka 1 Pintu Surga saja Sudah Senang, Apalagi 8

(Doa Setelah Wudhu)

 

store.yufid.com

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ، يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ.

‘Barangsiapa yang berwudhu lalu mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu‘ (aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan RasulNya), dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan, dan dia dapat masuk dari pintu manapun yang diinginkannya‘.” Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya. ((2 – Thaharah, 6 – Dzikir yang dianjurkan setelah wudhu, 1/209/234).Kitab ath-Thaharah, Bab adz-Dzikr al-Mustahab Aqiba al-Wudhu’, 1/209, no. 234, pent.)

Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan tambahan,

اَللّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ، وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.

Allahummaj ‘alni minat tawwabiina waj’alni minal mutathahhiriin” (Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri). (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Kitab ath-Thaharah, Bab Ma Yuqalu Inda al-Wudhu’, 1/77, no. 55). Tambahan ini berderajat hasan li ghoirihi. (http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatdoa&id=170) Lihat tahqiq hadits tersebut beserta hadits-hadits setelah wudhu lainnya di situs tersebut.

Jadi disunnahkan membaca kedua doa di atas, sebagaimana Fatawa Lajnah Daimah juz V/231 (http://najiyah1400h.wordpress.com/2008/02/18/tata-cara-wudhu-dan-doa-setelahnya-2/)

Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali mengatakan tentang faidah dari hadits di atas diantaranya adalah:
1. disunnahkan menyempurnakan wudhu,
2. seorang muslim sepantasnya membaca doa ini setelah wudhu, dan
3. surga memiliki 8 pintu.” (Lihat Bahjaun Nadzirin 2/250, cet. Dar ibnul Jauzi)

Penjelasan yang lebih lengkap mengenai doa tambahan di atas (Allohummaj ‘alni…) dapat dibaca di http://doandzikir.wordpress.com/2012/10/08/syarah-doa-setelah-wudhu-2/

Ada juga doa lain setelah wudhu yang shohih, yaitu:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

Subhanakallohumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa Anta astaghfiruka wa atuubu ilaik” (Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji kepadaMu. Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq selain Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepadaMu). (HR. An-Nasai dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah, halaman 173 dan lihat Irwa’ul Ghalil, 1/135 dan 2/94.) [Sumber : Kitab Hisnul Muslim] {http://abusahlaandriansyah.wordpress.com/2010/08/07/doa-sebeleum-dan-sesudah-wudhu/}

Selayaknya seorang muslim untuk menghidupkan semua sunnah nabi, terkadang membaca yang ini dan terkadang yang itu, selama semuanya disyariatkan.

Sekian, semoga bermanfaat

 

Tambahan

A. Doa Sebelum Wudhu (http://abusahlaandriansyah.wordpress.com/2010/08/07/doa-sebeleum-dan-sesudah-wudhu/)

 بِسْمِ اللهِ.

“Dengan nama Allah (aku berwudhu) (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lihat Irwa’ul Ghalil 1/122) [Sumber : Kitab Hisnul Muslim]

 

B. Tidak Ada Doa Apa pun dari Nabi pada Waktu Membasuh Anggota Wudhu [http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatdoa&id=170]

Doa-doa yang beredar, yang dibaca saat membasuh anggota wudhu, tidak bersumber dari as-Salaf ash-Shalih; para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, justru mereka membencinya dan mencela pelakunya. Asal usul doa ini adalah kumpulan riwayat-riwayat palsu (maudhu’) di mana para ulama menyatakannya dusta dan mencela pemiliknya. Contohnya adalah hadits berikut ini.

An-Nasa`i dan rekannya Ibn as-Sunni meriwayatkan dalam kitab mereka al-Yaum wal Lailah dengan sanad dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ بِوَضُوْءٍ، فَتَوَضَّأَ، فَسَمِعْتُهُ يَدْعُوْ وَيَقُوْلُ: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ، وَوَسِّعْ لِي فِي دَارِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِي رِزْقِيْ. فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ! سَمِعْتُكَ تَدْعُوْ بِكَذَا وَكَذَا، وَهَلْ تَرَكْنَ مِنْ شَيْءٍ؟

“Aku membawa air wudhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam, lalu beliau berwudhu maka aku mendengar beliau berdoa dengan mengucapkan, ‘Ya Allah ampunilah dosaku, lapangkanlah tempat tinggalku dan berkahilah rizkiku.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, aku mendengarmu berdoa begini begini.’ Nabi menjawab, ‘Apakah ada sesuatu yang tertinggal?

Takhrij Hadits: Dhaif. Diriwayatkan Ahmad 4/399, an-Nasa`i dalam [1]Amal al-Yaumi Wa al-Lailah no. 80; Abu Ya’la no. 7273; ath-Thabrani dalam [ad-Du’a’ no. 656; Ibn as-Sunni no. 28: dari beberapa jalan, dari Mu’tamin bin Sulaiman, Abbad bin Abbad bin Alqamah menyampaikan kepada kami dari Abu Majlaz dari Abu Musa dengan hadits tersebut.

Ini adalah sanad dengan rawi-rawi tsiqah hanya saja ia memiliki dua illat:

Pertama inqitha. Al-Asqalani dalam Amal al-Adzkar 2/33-Futuhat berkata, “Perkara mendengarnya Abu Mijlaz kepada Abu Musa perlu dikaji karena dia terbiasa meriwayatkan secara mursal dari rawi di mana dia tidak bertemu dengannya.

Kedua: Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 3033 dan 29246 dengan sanad shahih dari Abu Musa secara mauquf. Jalan ini lebih rajih daripada yang sebelumnya. Dalam Tamam al-Minnah hal. 96, al-Albani berkata, “Benar doa yang terdapat di dalam hadits ini memiliki syahid dari hadits Abu Hurairah di at-Tirmidzi no. 3500 dan lainnya, jadi berdoa dengannya secara mutlak tanpa terikat dengan shalat atau wudhu adalah baik.” Adapun doa seperti yang ada di sini maka haditsnya didhaifkan oleh al-Asqalani, as-Suyuthi dan al-Albani.

Ibnu as-Sunni meletakkan bab untuk hadits ini dengan mengatakan, “Bab apa yang diucapkan di tengah-tengah wudhu”. Adapun an-Nasa`i maka dia memasukkannya ke dalam bab, “Bab apa yang diucapkan selesai wudhu.” Maka keduanya memungkinkan. (Aku berkata, “Dalam riwayat ath-Thabrani dari beberapa jalan tercantum, ‘Lalu Nabi berwudhu kemudian shalat kemudian mengucapkan… dan seterusnya.” Oleh karena itu ath-Thabrani meletakkannya dalam bab doa setelah shalat. Al-Asqalani dalam Amal al-Adzkar 2/23-Futuhat berkata, “Ini menolak bab yang diletakkan oleh Ibn as-Sunni karena ia secara jelas dinyatakan sesudah shalat. Ia juga menolak kemungkinan antara wudhu dan shalat.” Yang jelas hadits ini dhaif, tidak layak dipegang untuk diamalkan tidak ba’da wudhu dan tidak pula ba’da shalat, pent.)

Sumber: dikutip dari Buku “Ensiklopedia Dzikir dan Do’a Al-Imam An-Nawawi Takhrij & Tahqiq: Amir bin Ali Yasin. Diterbitkan oleh: Pustaka Sahifa Jakarta. Oleh: Abu Nabiel)

C. Membuka Pintu Surga

Sebenarnya semua amalan sholih dan ketaatan tentu bermuaranya kepada surga dan segala kemaksiatan dan dosa tentu membawa pelakunya ke neraka, dengan izin Alloh. Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (HR. Al-Bukhari)

Bahkan sudah terdapat buku bagus yang mengupas tentang amalan-amalan yang bisa menyebabkan sesorang masuk surga, misalnya buku:

pustakaimamsyafii.com

pustakaimamsyafii.com

Karya: Abdullah bin Ali al-Ju’aitsin

Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i

 

 

 

Akan tetapi, terdapat hadits-hadits khusus tentang cara memasuki pintu surga, yang sepantasnya setiap muslim menaruh perhatian kepadanya, antara lain:

1. Berakidah yang benar

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ؛ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ”

Barangsiapa mengucapkan “Asyhadu alla ilaaha illalloh wahdahu laa syariikalahu wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluhu wa anna ‘Isa ‘abdullohi wa ibnu ummatihi wa kalimatuhu alqoohaa ilaa maryam wa ruuhu minhu wa annal jannata haqqun wa annan naaro haqqun” [Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Serta Isa adalah hamba Allah dan anak salah satu hamba-Nya. Kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam dan ruhnya berasal dari Allah. (Ia juga bersaksi) bahwa surga adalah benar adanya, neraka juga benar adanya]; niscaya Allah akan memasukkannya ke surga dari delapan pintunya manapun yang ia kehendaki. (HR. Muslim dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu).

Tentang makna Syahadatain, Rukun, Syarat, konsekuensi, dan hal-hal yang membatalkannya, baca disini deh http://almanhaj.or.id/content/2101/slash/0/makna-syahadatain-rukun-syarat-konsekuensi-dan-yang-membatalkannya/, jadi ya tidak semudah mengucapkannya

2. Taat kepada pemerintah dalam kebaikan

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjanjikan,

“مَنْ عَبَدَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَأَطَاعَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْخِلُهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَ، وَلَهَا ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ. وَمَنْ عَبَدَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَعَصَى؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ أَمْرِهِ بِالْخِيَارِ؛ إِنْ شَاءَ رَحِمَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ”.

Barangsiapa menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat (kepada pemerintah); niscaya Allah akan memasukkannya lewat pintu surga manapun yang ia maui. Dan pintu surga itu ada delapan. Barangsiapa menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar namun tidak taat (kepada pemerintah); maka nasibnya terserah Allah. Jika Dia berkehendak maka akan merahmatinya, sebaliknya jika Dia berkehendak, maka akan menyiksanya”. (HR. Ahmad dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany).

3. Patuh kepada suami

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertutur,

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

Terkait hal ini bisa menonton ceramah Ustadz Zaid Susanto, Lc berikut: http://www.alquran-sunnah.com/video-kajian/viewvideo/1735/yufid-tv/pintu-surga-untuk-para-istri-ustadz-zaid-susanto-lc.html

(http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bebas-memilih-pintu-surga.html)

4. Rajin berpuasa

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-RoyyanOrang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’. Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…” (HR. Bukhari [1896] dari Sahl radhiyallahu’anhu).

Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat Syarh Riyadhush Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).

Baca juga artikel menarik terkait hal ini di http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single2/id_Mengetuk_Pintu_Surga_Al%20Rayyan.pdf

5, 6, 7, 8. Berinfak dengan sepasang harta, gemar Shalat, gemar berjihad, dan gemar bersedekah

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُم

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.

Maka beliau pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351).

Sedangkan yang dimaksud dengan berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).

Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara tegas, Nabi bersabda,

لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل

“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih, demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).

Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, “Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari semua pintu surga-.” Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit orang yang bisa mengumpulkan berbagai amal kebaikan di dalam dirinya (Fath Al-Bari, 7/31). (http://muslim.or.id/ramadhan/menembus-pintu-surga.html)

Wallohu a’lam bish showab. Semoga Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

9. Dzikir “Laa haula wa laa quwwata illa billah” atau biasa disebut sebagai “hauqolah”

Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam berkata kepada Abu Musa radhiallahu ‘anhu,

ألا أدلك على باب من أبواب الجنة ؟ قلت بلى ، قال: لا حول ولا قوة إلا بالله )) ، رواه الترمذي وأحمد

“Maukah engkau aku tunjukkan salah satu dari pintu surga? Aku berkata, ‘tentu’. Beliau bersabda, ‘ Laa haula wala quwwata illa billah” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Jami’ no.2610) [http://muslimafiyah.com/orang-sakit-sering-sering-membaca-hauqalah-laa-haula-wala-quwwata-illa-billah.html]

Penjelasan lebih lengkap terkait dzikir ini dapat dibaca di: https://abumuhammadblog.wordpress.com/2013/06/12/berpeluang-masuk-surga-dengan-membaca-hauqolah/

Semoga Alloh ‘Azza wa jalla memudahkan kita untuk mengamalkan amalan-amalan penduduk surga. Amin

Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

 

Abu Muhammad

Selesai diupdate di Palembang, 8 Jumadil Awal 1434 H / 20 Maret 2013

 

Download dalam bentuk pdf, artikel: BISA MEMBUKA 1 PINTU SURGA SAJA SUDAH SENANG, APALAGI 8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s