Gallery

Jadilah Pemimpin yang Merakyat!

 

personfactory.com

personfactory.com

Sedikit sekali pemimpin yang kita temui sekarang ini merakyat. Walaupun banyak yang dari mereka boleh dibilang sudah amanah, walaupun tidak setiap amanah mereka kerjakan. Coba lihat bagaimana seorang pemimpin menguasai jalanan umum, meminggirkan rakyatnya karena mau lewat. Bikin macet selama berjam-jam hanya karena menunggu iring-iringannya lewat. Para siswa SD disuruh keluar sambil ngibas-ngibasin bendera merah putih, jam belajar yang harusnya mereka gunakan untuk mengenyam ilmu dihabiskan untuk berpanas-panasan di pinggir trotoar sambil menyambutnya. Apa ini bisa disebut merakyat?

Merakyat itu adalah ia memakai baju sama seperti baju yang dipakai rakyatnya. Ia makan makanan sebagaimana rakyatnya makan. Ia pergi ke tempat bekerja sebagaimana rakyatnya pergi ke tempat kerja. Ia memakai bahasa yang bisa difahami oleh rakyatnya. Ia mau mendengarkan keluhan rakyatnya. Ia pun mampu memberikan solusi bagi permasalahan rakyatnya. Ia rela harus berlapar-lapar bersama rakyatnya. Ia pun ikut berjama’ah bersama rakyatnya, dan apabila ia terlambat dalam sholat Jum’at misalnya, ia rela duduk di belakang karena tempatnya sudah penuh. Pemimpin itu membuat rakyat kaya, bukan makin membuat rakyat susah. (http://abuaisyah.com/2012/05/16/catatan-tentang-para-pemimpin/)

Secara singkat dapat saya simpulkan bahwa pemimpin yang merakyat adalah pemimpin yang mengerti kondisi rakyatnya, mau mendengar keluhan mereka, dan dapat memberikan solusi yang terbaik.

Postingan ini tidak bermaksud mengunggulkan capres tertentu. Jika boleh, artikel ini  hanya merupakan nasihat kepada siapapun presiden / wakil presiden yang terpilih. Oleh karena itu, upload tulisan ini tidak dilakukan sebelum 9 Juli 2014. Semoga tulisan ini dapat diambil ibrohnya bagi siapa pun pembacanya, terutama pemimpin yang memimpin suatu organisasi tertentu. Dari artikel berikut ini, kita dapat mengetahui betapa “merakyatnya” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (dalam hal ini Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu).

001

  Sumber: Majalah Al-Mawaddah Edisi Sya’ban 1432 H / Juli 2011 M

 Para khalifah sepeninggal Nabi, radhiyallahu ‘anhum, juga merupakan sosok pemimpin yang sangat memperhatikan keadaan rakyatnya. Yang paling terkenal adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Semoga kisah-kisah berikut ini dapat memberikan secuil gambaran keutamaan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, terutama dalam kepemimpinannya.

Inilah standar makanan keluarga Umar radhiyallahu ‘anhu

Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.”(Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat, 3/275 dengan sanad yang shahih)

Jika menugaskan para gubernurnya, Umar radhiyallahu ‘anhu akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar radhiyallahu ‘anhu mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.(Ibnu Sa’ad menyebutkan hal yang senada dan ringkas di dalam ath-Thabaqat, 3/207 dari jalan al-Waqidi dan dikeluarkan oleh ath-Thabari dalam Tarikh nya, 4/207 dengan sanad la ba’sa bih (tidak mengapa))

Anas berkata, “antara dua bahu dari baju Umar radhiyallahu ‘anhu, terdapat empat tambalan, dan kainnya ditambal dengan kulit. Pernah beliau khutbah di atas mimbar mengenakan kain yang memiliki 12 tambalan. (Sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari jalan-jalan yang sahih bersumber dari riwayat Anas. (Ath- Thabaqat al-Kubra, 3/328))

Pada waktu tahun paceklik dan kelaparan beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam, beliau berkata, “Akulah sejelek-jelek penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.”

Pada wajah beliau terdapat dua garis hitam disebabkan banyak menangis. Terkadang beliau mendengar ayat Allah Subhanahu wa ta’ala. dan jatuh pingsan karena perasaan takut, hingga terpaksa dibopong ke rumah dalam keadaan pingsan. Kemudian kaum muslimin menjenguk beliau beberapa hari, padahal beliau tidak memiliki penyakit yang membuat beliau pingsan kecuali perasaan takutnya.(Lihat Tafsir al-Quran al-Azhim karya Ibn Katsir, 7/4Q7, ketika menafsirkan ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya Adzab Rabbmu pasti akan terjadi.” Lihat pula ad-Durar al-Mantsur karya as-Suyuti, 6/118)

Perhatian Umar radhiyallahu ‘anhu terhadap perempuan tua yang buta dan rakyat-rakyatnya yang kekurangan

Thalhah bin Ubaidillah berkata, “Suatu ketika Umar radhiyallahu ‘anhu keluar dalam kegelapan malam dan masuk ke salah satu rumah, maka pada pagi hari aku mencari rumah tersebut dan aku datangi, ternyata dalam rumah itu terdapat seorang perempuan tua yang buta sedang duduk. Aku tanyakan kepadanya, “mengapa lelaki ini (Umar radhiyallahu ‘anhu) datang ke rumahmu?” Wanita itu menjawab, “Ia selalu mengunjungiku setiap beberapa hari sekali untuk membantuku membersihkan dan mengurus segala keperluanku.” Aku berkata kepada diriku, “Celakalah dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar radhiyallahu ‘anhu?”

Aslam Maula Umar berkata, “Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di mushalla, maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Abdurrahman bin Auf, ‘Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?’ Abdurrahman berkata, ‘Ya, aku setuju!’ Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat. Namun tiba-tiba Umar radhiyallahu ‘anhu mendengar suara anak kecil menangis, segera Umar radhiyallahu ‘anhu menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, ‘Takutlah engkau kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu.’ Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu kembali ke tempatnya. Kemudian ia mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan beliau tadi.

Setelah itu Umar radhiyallahu ‘anhu kembali ke tempatnya semula. Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar radhiyallahu ‘anhu segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, ‘Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam?’ Wanita itu menjawab, ‘Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu.’ Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Kenapa engkau akan menyapihnya?’ Wanita itu menjawab, ‘Karena Umar radhiyallahu ‘anhu hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja.’ Umar radhiyallahu ‘anhu. bertanya kepadanya, ‘Berapa usia anakmu?’ Dia menjawab, ‘Baru beberapa bulan saja.’ Maka Umar radhiyallahu ‘anhu. berkata, ‘Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya? Maka ketika shalat subuh bacaan beliau nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya. Beliau berkata, ‘Celakalah engkau hai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh.’ Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam.’ Umar radhiyallahu ‘anhu. segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat, 3/302 dengan sanadnya dari jalan Abdullah bin Umar)

Aslam berkata, “Pernah suatu malam aku keluar bersama Umar radhiyallahu ‘anhu ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menagis. Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, ‘Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedang tidak memiliki apapun.’ Umar radhiyallahu ‘anhu menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib -istrinya-, dan berkata, ‘Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah Subhanahu wa ta’ala karuniakan kepadamu?’ Segera Umar radhiyallahu ‘anhu memberitakan padanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi, maka istrinya berkata, ‘Ya, aku akan membantunya.’ Umar radhiyallahu ‘anhu segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya, sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin, keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar radhiyallahu ‘anhu duduk bersama suaminya -yang tidak mengenal Umar radhiyallahu ‘anhu -sambil berbincang-bincang.

Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kaltsum berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, ‘Wahai Amirul mukminin sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki. Ketika lelaki itu mendengar perkataan Amirul Mukminin ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar radhiyallahu ‘anhu. Namun Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, ‘Tidak mengapa.’ Setelah itu Umar radhiyallahu ‘anhu. memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan lantas beliaupun pulang.”

Aslam berkata, “Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar1 kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Wahai Aslam di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka.’ Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis, Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Assalamu alaiki wahai pemilik api.’ Wanita itu menjawab, ‘Wa alaika as-Salam’, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Kami boleh mendekat?’ Dia menjawab, ‘Silahkan!’ Umar radhiyallahu ‘anhu segera mendekat dan bertanya, ‘Ada apa gerangan dengan kalian?’ Wanita itu menjawab, ‘Kami kemalaman dalam perjalanan serta

kedinginan.’ Umar radhiyallahu ‘anhu kembali bertanya, ‘Kenapa anak-anak itu menangis?’Wanita

itu menjawab, ‘Karena lapar.’ Umar radhiyallahu ‘anhu kembali bertanya, ‘Apa yang engkau masak di atas api itu?’ Dia menjawab, Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar radhiyallahu ‘anhu.’

Maka Umar radhiyallahu ‘anhu menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. la segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, ‘Wahai Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku.’ Aslam berkata, ‘Biar aku saja yang membawanya untukmu.’ Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, ‘Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari Kiamat?’ Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wania itu. Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamya. Umar radhiyallahu ‘anhu berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar radhiyallahu ‘anhu menurunkan periuk dari atas api dan berkata, ‘Berikan aku piring kalian!’. Setelah piring diletakkan segera Umar radhiyallahu ‘anhu menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, ‘Makanlah!’ Maka anak-anak itu makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar radhiyallahu ‘anhu agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar radhiyallahu ‘anhu. Umar radhiyallahu ‘anhu masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar radhiyallahu ‘anhu memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku, ‘Wahai Aslam sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka begadang dan tidak dapat tidur’.” (Dikeluarkan oleh Ahmad dalam kitab Fadhailas-Shahabah, no. 382 dan Muhaqqiq kitab itu berkomentar, “sanadnya Hasan.” Lihat Tarikh ath-Thabari, 4/ 205-206.)

[Disalin dari buku Al-Bidayah wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin, cetakan I, Darul Haq, hal 177 – 181 (judul asli: Tartib wa Tahdzib Al-Kitab Bidayah wan Nihayah, Penulis: Ibnu Katsir, Penyusun: Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami, Penerbit: Dar al-Wathan, Cet. I) dengan sedikit perubahan/tambahan]

1 Shirar adalah sebuah sumur yang berjarak sekitar 3 mil dari kota Madinah, menghadap ke kampung. (Mu’jam al-Ma’alim al-Jughrafiyah, 175).

Bantul, 19 Ramadhan 1435 H / 17 Juli 2014

Abu Muhammad

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s