Gallery

Sekelumit Hubungan Ali dengan Para Sahabat (Beserta Keturunan Mereka) [1]

abangdani.wordpress.com

abangdani.wordpress.com

 

Di kalangan Syi’ah ada orang-orang yang tidak percaya bahwa Ali dan putra-putri beliau (alaihimussalam) telah memberi nama putra-putri mereka dengan nama-nama tersebut. Tetapi hal ini hanya bualan orang-orang yang tidak berwawasan tentang nasab keturunan dan nama-nama. Bahkan mereka adalah termasuk orang yang bacaannya terbatas. Di samping itu alhamdulillah, jumlah mereka hanya sedikit.

Bahkan kelompok ini telah disanggah imam-imam besar serta ulama Syi’ah sendiri. Sebab bukti-bukti keberadaan nama-nama tersebut sangat jelas dari fakta yang terjadi dan keberadaan keturunan mereka. Begitu juga tercantum di dalam kitab-kitab Syi’ah yang mu’tamad (dijadikan rujukan). Bahkan di dalam riwayat-riwayat yang mengisahkan tragedi Karbala’, yang mana telah gugur Abu Bakar bin Ali bin Abu Thalib bersama Imam Husien. Demikian pula Abu Bakar bin al-Hasan bin Ali (alaihimussalam). Mereka telah gugur sebagai syahid bersama Husein. Bahkan hal itu dijelaskan oleh Syi’ah di dalam kitab-kitab mereka sendiri.

Tetapi Anda jangan terkejut manakala Anda tidak mendengar nama-nama ini di Huseiniyyat dan perayaanperayaan hari Asyura’. Sebab, tidak disebutnya mereka itu bukan berarti mereka tidak pernah ada. Ketika itu Umar bin Ali bin Abi Thalib dan Umar bin al-Hasan, termasuk penunggang kuda yang diakui oleh mereka sebagai orang-orang yang
bertempur sekuat tenaga pada peristiwa itu.

Masalah pemberian nama oleh imam-imam alaihimussalam kepada putra-putra mereka dengan nama Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, dan nama-nama para sahabat besar lainnya merupakan masalah yang tidak pernah terjawab dengan jawaban yang jelas dan memuaskan oleh Syi’ah. Sebab, tidak mungkin kita memberi nama tanpa dasar dan tanpa makna. Kita juga tidak mungkin mengangggap itu sebuah rekayasa yang sengaja dibuat oleh Ahlu Sunah dan dimasukkan ke dalam kitab-kitab Syi’ah! Sebab hal ini berarti tuduhan terhadap seluruh riwayat-riwayat yang ada dalam kitab-kitab Syi’ah. Sehingga setiap riwayat yang tidak mengenakkan bagi Syi’ah, kemudian mungkin saja mereka mengatakan: “Itu adalah rekayasa, dan dusta.” Bahkan bisa saja setiap riwayat yang tidak sesuai dengan hawa nafsu seorang ulama, lalu dengan mudah ia menolaknya seraya mengatakan: “Itu rekayasa.”! Apalagi dalam mazhab Syi’ah setiap ulama berhak menerima dan menolak riwayat tanpa ada kaidah dan patokan yang jelas. (http://hakekat.com/component/option,com_docman/task,doc_download/gid,24/Itemid,1/mode,view/)

Mari kita bahas sekelumit tentang hubungan Ali dengan para Sahabat (berikut keturunan mereka)

A. Hubungan Kasih Sayang Sesama Kaum Mukminin

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allâh dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka [al-Fath/48: 29]

Imam al-Baghawi rahimahullah menafsirkan makna رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ dengan, “Lemah lembut dan saling berkasih-sayang sebagian mereka kepada sebagian yang lain, layaknya hubungan anak dengan orang tuanya.”[Ma’âlimut Tanzîl 7/323-324]

Syaikh ‘Abdurrahmân as Sa’di rahimahullah mengatakan: “Mereka saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi layaknya satu tubuh, sebagian mereka mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”[Taisîr al-Karimur Rahmân 1/795]

Ayat ini – dan ayat-ayat al-Qur`ân lainnya- yang disebutkan oleh al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah mengandung semua sifat yang mulia dan pujian bagi para Sahabat Nabi.[Tafsîr al Qur`ânul ‘Azhîm (7/360)]

Keadaan dan sifat yang demikian itu senantiasa melekat pada mereka hingga hari Kiamat, tidak ada seorang pun juga yang dapat melepaskannya. (http://almanhaj.or.id/content/3473/slash/0/hubungan-kekerabatan-antara-ahlul-bait-dan-sahabat-nabi/)

 

B. Jalinan Kasih Sayang antara Ali dan Para Sahabat (Berikut Keturunan Mereka)

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para Mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allâh telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [al-Anfâl/8: 62-63]

Syaikh ‘Abdul Karîm al-Harâni hafizhahullah memberikan catatannya terkait dengan firman Allâh Azza wa Jalla di atas : “Semua hati Ahlul Bait dan para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul di atas satu kalimat yang sama, yaitu di atas kalimat Tauhid, Islam dan Kecintaan. Ayat ini dan yang lainnya adalah prinsip utama yang dijadikan sebagai rujukan (dalam menjelaskan hubungan antara Ahlul Bait dan Sahabat Nabi-pen).”[Kaifa Naqra’ Tarikh al Aal wa al-Ashhâb hlm. 28]

Prinsip ini dibuktikan dengan jelas oleh pernyataan ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu terkait dengan kebijakan ‘Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu :“Wahai manusia, janganlah kalian berlebih-lebihan (dalam mencela) ‘Utsmân, dan janganlah kalian mengatakan tentang dirinya kecuali perkataan yang baik. Demi Allâh, apa yang telah beliau lakukan –mengumpulkan al-Qur`ân dalam satu mushaf kecuali sesudah adanya persetujuan dari kami semuanya, para Sahabat Nabi. Demi Allâh, sekiranya aku yang ditunjuk sebagai pemimpin, niscaya aku pun akan melakukan seperti apa yang dilakukannya.”[Fathul Bâri 18/9] (http://almanhaj.or.id/content/3473/slash/0/hubungan-kekerabatan-antara-ahlul-bait-dan-sahabat-nabi/)

Jalinan kasih sayang inipun terus dilanjutkan oleh keturunan Ali dan para Sahabat Nabi lainnya. Hal ini bisa dibuktikan setidaknya dengan 2 argumentasi

1. Banyak cucu-cucu Ali yang bernama Abu Bakar, Umar, dan Utsman

Sebelumnya mari kita bahas tentang pentingnya pemberian nama

Kata “Al Ismu” berasal dari kata “As Sumuw” yang bermakna mulia dan tinggi. Atau berasal dari kata: “Al Wasmu” yang berarti tanda. Kedua makna di atas menegaskan akan pentingnya nama bagi seseorang.

Nama seseorang melambangkan agama dan juga tingkatan akalnya. Pernahkah Anda mendengar ada seorang Nashrani atau Yahudi yang memberi nama putra-putri mereka dengan nama “Muhammad”? Ataukah ada di kalangan muslimin yang memberi nama anaknya dengan nama Lata dan Uzza, selain orang yang kurang akalnya?

Seorang anak terikat dengan ayahnya melalui nama. Seseorang dipanggil dengan nama pilihan Ayah dan keluarganya. Jadi, umat manusia selalu menggunakan nama. Kata orang: “Melalui nama Anda, saya dapat mengerti bapak Anda.”(Lihat buku: “Tasmiyatu Al Mauluud”; oleh Al Alamah asy-Syeikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid).

Selanjutnya jawablah pertanyaan berikut:

• Dengan nama apa Anda memberi nama putra Anda?

• Apakah Anda memilih nama yang Anda sukai dan disukai ibunya, dan keluarganya?

• Apakah Anda memberi nama putra Anda dengan nama musuh Anda?

Subhanallah! Sudah pasti kita memilih nama bagi diri kita sendiri dengan nama-nama yang mengarah pada sesuatu yang bermakna bagi kita.

Pemberian nama cucu-cucu Ali dengan nama-nama para Sahabat tersebut merupakan rasa kasih sayang di antara mereka!

Tentu ahlus sunnah tidak akan percaya dengan bualan kaum syiah yang menyatakan bahwa:

“Mereka memilih nama putra-putri mereka karena masalah politik dan sosial, tidak sebagaimana layaknya manusia biasa! Orang-orang yang berakal sehat—para imam dan orang-orang terhormat—mereka dilarang menerapkan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka dilarang memberi nama anak mereka dengan nama-nama orang yang mereka cintai. Mereka juga dilarang memberi nama dengan nama saudara-saudara mereka seagama sebagai wujud kecintaan dan penghargaan. Malah mereka dianggap memberi nama putra-putri mereka dengan nama-nama musuh mereka sendiri!” (http://hakekat.com/component/option,com_docman/task,doc_download/gid,24/Itemid,1/mode,view/)

Inilah bualan di atas bualan, kebohongan murokkab!

Coba kita tanya kepada mereka, kenapa kalian, wahai Syiah, tidak melanjutkan adat pemberian nama ini di masa sekarang? Kenapa kalian tidak namakan anak-anak kalian dengan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, sebagai wujud kebencian kalian terhadap mereka?

Berikut ini adalah diantara anak cucu keturunan Ali rodhiyallohu ‘anhu yang diberi nama dengan nama para sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Tholhah.

Ada yang bernama Abu Bakar bin Ali, Abu Bakar bin Al-Hasan Asy-Syahid, mereka gugur bersama  Al-Husain rodhiyallohu ‘anhu (Al-Irsyadul Mufid, hal 186 dan 248). Lalu Abu Bakar bin Al-Hasan (kedua) bin Al-Hasan (cucu  Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam) dan Abu Bakar bin Musa Al-Kazhim. Adapun yang berjuluk dengan sebutan Abu Bakar diantaranya Ali Zainal Abidin bin Al-Husain Asy-Syahid, dan Ali Ridho Al-Kazhim.

Selanjutnya, nama Umar pun banyak sekali dimiliki oleh keluarga Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam. Bahkan nama ini berlanjut hingga delapan belas generasi dari keturunan Al-Hasan dan Al-Husain. Diantara anak cucu  Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam yang bernama Umar adalah:

tentangsyiah.blogspot.com

tentangsyiah.blogspot.com

–        Umar Al-Athraf bin Ali (Kasyful Ghummah fi Ma’rifatil Aimmah oleh Ali Al-Arbali 2/66),

–        Umar bin Al-Hasan, dia terbunuh bersama Al-Husain  Asy-Syahid (Al-Irsyadul Mufid, hal 197)

–        Umar bin Husain Asy-Syahid,

–        Umar Al-Asyraf bin Ali Zainal Abidin,

–        Umar (Asy-Syajari) bin Ali Al-Ashghar Umar Al-Asyraf bin Ali Zainal Abidin

Kemudian nama Utsman. Nama ini juga banyak dimiliki oleh Ahlul Bait Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, diantaranya:

–        Utsman bin Ali bin Abi Tholib, ibunya adalah Ummul Banin Al-Kilabiyah, dia terbunuh bersama saudaranya Al-Husain Asy-Syahid dalam peristiwa pembantaian.

–        Lalu Utsman bin Yahya bin Sulaiman, salah satu cucu Ali bin Al-Husain (semoga Alloh meridhoi mereka semua)

Kemudian nama Tholhah di Ahlul Bait Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, dan ibunya adalah Ummu Ishhaq binti Tholhah bin Ubaidillah (Al-Irsyadul Mufid, hal 194), lalu Tholhah bin Al Hasan (ketiga) bin Al Hasan (kedua) bin Al Hasan (cucu Nabi  sholallohu ‘alaihi wa sallam).

Kemudian nama Aisyah juga ada di Ahlul Bait. Diantara keluarga Ali rodhiyallohu ‘anhu yang bernama Aisyah adalah:

–        Aisyah binti Al-Imam Ja’far bin Musa Al-Kazhim,

–        Aisyah binti Ali Ar-Ridha,

–        Aisyah binti Ali Al-Hadi,

–        Aisyah binti Muhammad bin Al-Hasan bin Ja’far bin Al Hasan (kedua)

Bukankah mereka adalah ahlul bait yang harus menjadi teladan kaum Syiah di semua lini? Tapi kenyataannya apakah Syiah mengikuti mereka saat memberi nama anak laki-laki dan perempuannya? Apakah Syiah berani memberi nama anak laki-lakinya dengan Abu Bakar, Umar, Utsman? Beranikah mereka memberi nama anak perempuannya dengan Aisyah? (Lihat buku: “Risalah kepada Pecinta Ahlul Bait”, hal. 2 – 5, Darul Muntaqo)

Berikut gambaran yang lebih mudah

1.bp.blogspot.com

lppimakassar.com

 

Bersambung ke: Sekelumit Hubungan Ali dengan Para Sahabat (Beserta Keturunan Mereka) [2]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s