Gallery

Sekelumit Hubungan Ali dengan Para Sahabat (Beserta Keturunan Mereka) [2]

Artikel Sebelumnya di: Sekelumit Hubungan Ali dengan Para Sahabat (Beserta Keturunan Mereka) [1]

 

glitters123.com

glitters123.com

2. Hubungan Pernikahan antara Keturunan Ali dengan Keturunan Para Sahabat

Sebelumnya, mari kita bahas sekelumit pernikahan dalam Islam

Para ahli fikih rahimahumullah membahas persoalan “al-Kafaa’ah” (kesepadanan)—berkaitan dengan agama, keturunan, bakat kemampuan, dan hal-hal terkait melalui pembahasan panjang. Mereka membahas tentang apakah kesepadanan itu merupakan syarat bagi sahnya suatu akad nikah atau keharusan? Apakah itu merupakan hak bagi pihak istri ataukah melibatkan para wali? Dan sebagainya dalam pembahasan mereka seputar masalah pernikahan.

Perhatikanlah beberapa hukum syariat seperti dipersyaratkannya wali di dalam suatu akad nikah dan adanya saksi. Perhatikan pula hukuman bagi orang yang menuduh orang berzina, hukuman kepada orang yang berzina, dan hukum-hukum lain sejenis yang semuanya bertujuan menjaga kehormatan. Dengan mencermati adanya hukum-hukum
tersebut beserta segala yang terkait, baik berupa hukum, atsar, dan hal-hal yang bersifat syar’i, niscaya akan jelas bagi Anda betapa penting persoalan ini.

Persoalan pernikahan berkaitan dengan banyak hukum. Pikirkanlah ketetapan “nash” tentang akad nikah (al-miitsaaq al-ghaliidh: janji nan teguh) yang dinyatakan oleh seorang lelaki di dalam meminang. Ini pun mengandung banyak hukum-hukum. Bahkan adakalanya suatu pinangan bisa diterima juga bisa ditolak. Sehingga adakalanya orang yang hendak melamar meminta bantuan kepada keluarga atau sahabat-sahabatnya agar bisa memperoleh persetujuan. Lalu ia pun meminta kepada keluarga pihak perempuan untuk
meminang si perempuan. Pihak perempuan memiliki hak untuk menerima atau menolaknya. Bahkan sekali pun ia sudah memberi hadiah-hadiah atau menyegerakan maskawin dan sebagainya, mereka masih berhak untuk menolak lamaran tersebut selama akad nikah belum terjalin.

Akad nikah harus melibatkan para saksi. Menyebarluaskan rencana pernikahan juga merupakan tuntutan syariat. Untuk apa? Sebab, melalui suatu pernikahan akan muncul hukum-hukum baru. Yaitu mendekatkan hubungan yang jauh lalu menjadikan masing-masing “periparan” (hubungan ipar).

Pernikahan ini mengakibatkan suami haram menikahi beberapa wanita selamanya seperti ibu sang istri, atau selama dia menjadi suami sang istri seperti adik perempuan sang istri. Tetapi tujuan risalah ini bukan membahas panjang lebar soal ini, semata-mata tujuannya untuk menekankan keseriusan persoalannya untuk penjelasan selanjutnya. (http://hakekat.com/component/option,com_docman/task,doc_download/gid,24/Itemid,1/mode,view/)

Islam mengharamkan pernikahan antara seorang wanita mukmin dengan laki-laki kafir, baik ia dari kalangan Ahli Kitab atau musyrikin secara umum. Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan ulama mengenai hal ini. Berikut dalilnya:

Allah ta’ala berfirman :

وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا

”Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman” [QS. Al-Baqarah : 221].

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka” [QS. Al-Mumtahanah : 10] (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/pernikahan-umar-bin-al-khaththaab.html)

Dan inilah faktanya!

Pertalian hubungan pernikahan dan nasab antara Ahlul Bait dengan sahabat Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam terutama dengan keluarga Abu Bakar, keluarga Al-Khaththab, dan keluarga Az-Zubair banyak sekali disebutkan dalam sumber-sumber utama Syiah.

a. Ummu Kaltsum binti Ali menikah dengan Umar bin Al-Khaththab rodhiyallohu ‘anhu [Al-Kulaini dalam Al-Kafi fil Furu’ (6/115), At-Thausi dalam Tahdziibul Ahkam, bab Adad an-Nisa’ Juz 8, hal 148]

Sesungguhnya Ali rodhiyallohu ‘anhu menikahkan anak perempuannya dengan Umar rodhiyallohu ‘anhu. Hal ini menunjukkan sedemikian eratnya hubungan kasih sayang keduanya, dan juga menunjukkan bahwa Ali melihat Umar adalah sosok lelaki tepat yang berhak untuk menjadi suami dari cucu Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam.

Tentunya berbeda dengan keyakinan Syiah tentang diri Umar.

Renungkanlah firman Alloh subhanahu wa ta’ala berikut ini

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (Qs. An-nur: 26) [Lihat buku: “Risalah kepada Pecinta Ahlul Bait”, hal. 5 – 6, Darul Muntaqo]

Dalam referensi ahlus sunnah, hal ini menjadi suatu kepastian dengan adanya hadits shohih berikut ini:

ن الخطاب رضي الله عنه قسم مروطا بين نساء من نساء المدينة، فبقي مرط جيد، فقال له بعض من عنده: يا أمير المؤمنين، أعط هذا ابنة رسول الله صلى الله عليه وسلم التي عندك، يريدون أم كلثوم بنت علي، فقال عمر: أم سليط أحق. وأم سليط من نساء الأنصار، ممن بايع رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال عمر: فإنها كانت تزفر لنا القرب يوم أحد.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdaan : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah : Telah mengkhabarkan kepada kami Yunus, dari Ibnu Syihaab : Telah berkata Tsa’labah bin Abi Maalik : Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu pernah membagi beberapa pakaian kepada beberapa wanita Madinah. Dan ada satu pakaian yang bagus tersisa. Berkata sebagian orang yang bersama beliau : “Wahai Amiirul-Mukminiin, berikanlah pakaian ini kepada putri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi istrimu – yang dimaksudkan adalah Ummu Kultsum binti ‘Ali”. ‘Umar berkata : Ummu Saliith lebih berhak, dan ia adalah seorang wanita Anshaar yang berbaiat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. ‘Umar menambahkan : “Dia telah membawakankan geriba (kantong air) kepada kami sewaktu perang Uhud” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 2881].

Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

“Telah berkata Ibnu Wahb, dari ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya : ‘Umar menikahi Ummu Kultsum dengan mahar sebesar 40.000 (dirham). Telah berkata Az-Zubair : Melahirkan dua orang anak dari ‘Umar, yaitu Zaid dan Ruqayyah. Ummu Kultsum wafat bersama anaknya (Zaid) pada hari yang sama….” [Al-Ishaabah, 8/275 no. 1473; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut]

Padahal, sudah ma’ruf doktrin kekafiran ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu dalam theology Syi’ah. Bahkan beliau dijuluki salah satu berhala Quraisy – bersama Abu Bakr Ash-Shiddiqradliyallaahu ‘anhuma – wal-‘iyadzubillah !! Tidak ada seorang pun dari Syi’ah Raafidlah yang menyelisihi hal ini.

Pertanyaan menggelitik yang mungkin timbul adalah : “Apakah mungkin ‘Aliy bin Abi Thaalibradliyallaahu ‘anhu sebagai pribadi ma’shum – yang terbebas dari dosa besar dan kecil– melakukan kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menikahkan anak perempuannya kepada seorang ‘kafir’ ?”.

Atau,…. malah hal itu beliau lakukannya karena beliau tidak meyakini kekafiran ‘Umar bin Al-Khathhaab radliyallaahu ‘anhu sebagaimana diyakini oleh orang Syi’ah Raafidlah ?

Nampaknya kemungkinan terakhir inilah yang paling mungkin untuk pribadi beliau. Tidak pernah terlintas dibenak Ahlus-Sunnah untuk meyakini ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu telah melakukan kemaksiatan yang nyata kepada Allah ta’ala, walau ia ‘dipaksa’ oleh ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu (seandainya hal ini benar). Ahlus-Sunnah juga tidak beranggapan bahwa ‘Ali radliyallaahu ‘anhu menikahkan anaknya hanya karena takut atas gertakan atau kedudukan ‘Umar sebagai ‘amir. ‘Ali adalah sosok pemberani, penakluk benteng Khaibar, yang tidak pernah takut kepada siapapun, termasuk ‘Umar bin Al-Khaththab. Tidak pula dengan alasan taqiyyah. Darah dan jiwa siap beliau korbankan untuk membela al-haq. Lagi pula, pribadi Ummu Kultsum binti ‘Aliy yang suci tentu tidak akan sudi menyerahkan dirinya kepada ‘Umar jika memang ia benar-benar kafir.(http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/pernikahan-umar-bin-al-khaththaab.html)

Pertanyaan selanjutnya adalah:

– Mana pulakah rasa sayang beliau kepada putrinya?

– Mungkinkah beliau akan menyerahkan putri beliau kepada orang zhalim?

– Manakah sikap kecemburuan beliau kepada agama Allah?

– Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tiada pernah berakhir. (http://hakekat.com/component/option,com_docman/task,doc_download/gid,24/Itemid,1/mode,view/)

Dan sekali lagi bahwa pernikahan adalah masalah yang besar, bukan main-main, sebagaimana dijelaskan di atas.

Yang benar, ‘Umar radliyallaahu ‘anhu menikahi Ummu Kultsumrahimahallaah didasarkan atas kecintaannya pada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhuma mengenai alasan mengapa ia ingin menikahi Ummu Kultsum :

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول كل سبب ونسب منقطع يوم القيامة إلا سببي ونسبي فأحببت أن يكون لي من رسول الله صلى الله عليه وسلم سبب ونسب

“Aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Setiap sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat, kecuali sebabku dan nasabku’. Oleh karena itu, aku ingin mempunyai sebab dan nasab dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy, lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 2036].

Ia pun diterima sebagai keluarga oleh ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhuma atas dasar Islam dan iman, serta kecintaan. ‘Ali bin Abi Thaalib pernah berkata perihal pujian dan kecintaannya kepada ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma :

لله بلاء عمر، فقد أخمد الفتنة وأقام السنة، ذهب نقي الثوب، قليل العيب، أصاب خيرها وسبق شرها، أدى إلى الله طاعته.

”Allah telah memberikan cobaan kepada ’Umar. Sungguh ia telah memadamkan fitnah dan menegakkan sunnah. Ia pelihara kesucian dirinya dan sedikit aibnya. Ia telah mendapatkan kebaikan dari dirinya dan mengalahkan kejelekan (hawa nafsu)-nya. Ia telah tunaikan ketaatan kepada Allah” [Nahjul-Balaaghah, 2/222].

Terakhir, mari kita dengarkan sendiri apa perkataan Ummu Kultsum kepada ‘Umar dan ‘Aliyradliyallaahu ‘anhum saat mereka syahid :

عن الأصبغ الحنظلي، قال : قالت أم كلثوم ابنة علي : ما لي ولصلاة الغداة ؟ قتل زوجي أمير المؤمنين صلاة الغداة، وقتل أبي صلاة الغداة.

Dari Al-Ashbagh Al-Handhaliy, ia berkata : Telah berkata Ummu Kultsum putri ‘Aliy : “Ada apa denganku dan dengan shalat Shubuh ? Suamiku Amiirul-Mukminiin (yaitu ‘Umar bin Al-Khaththaab) dibunuh pada waktu shalat Shubuh. Begitu juga ayahku yang dibunuh pada waktu shalat Shubuh” [Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taarikh 42/555].

Jika ia (Ummu Kultsum) merasa dipaksa untuk menikah dengan seorang kafir, tentu ia tidak akan berkata seperti di atas tentang diri ‘Umar. Bahkan sudah menjadi kewajiban baginnya untuk bersyukur karena terbebas dari belenggu kediktatoran ‘Umar. Namun kenyatan yang ada tidak seperti itu……

Mereka, ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan ‘Umar bin Al-Khaththabradliyallaahu ‘anhu adalah satu keluarga dan saling mencintai. Sangat jauh berbeda dengan keadaan para pecinta palsu Ahlul-Bait dari kalangan Syi’ah Raafidlah. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/pernikahan-umar-bin-al-khaththaab.html)

Dari hasil pernikahannya dengan Umar bin Al-Khaththab, Ummu Kaltsum binti Ali melahirkan Zaid bin Umar bin Al-Khoththob, berikut gambaran silsilahnya

lppimakassar.com

lppimakassar.com

b. Fatimah binti Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu menikah dengan Al-Mundzir bin Ubaidah bin Az-Zubair rodhiyallohu ‘anhu

c. Sakinah binti Al-Husain Asy-Syahid menikah dengan Mush’ab bin Az-Zubair.

d. Ruqoyyah binti Al-Husain  menikah dengan Amru bin Az-Zubair

e. Fatimah binti Al-Husain Asy-Syahid menikah dengan Abdullah bin Amru bin Utsman bin Affan

f. Ummul Hasan binti Al-Hasan (cucu Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam) menikah dengan Abdullah bin Az-Zubair

g. Malikah binti Al-Hasan (kedua) menikah dengan Ja’far bin Mush’ab bin Az-Zubair

h. Al-Hasan bin Ali menikah dengan Hafshoh binti Abdurrahman bin Abu Bakar rodhiyallohu ‘anhu

i. Al-Hasan bin Ali menikah dengan Ummu Ishaq binti Thalhah bin Ubaidillah rodhiyallohu ‘anhu. Kemudian ketika Al-Hasan meninggal dunia dia berwasiat kepada saudaranya Al-Husain Asy-Syahid agar menikahi Ummu Ishaq setelahnya. Kemudian Al-Husain menikahinya dan lahirlah Fatimah.

j. Muhammad bin Al-Baqir menikah dengan dengan Ummu Farwah binti Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar rodhiyallohu ‘anhu, sehingga lahirlah Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq, berikut silsilahnya:

lppimakassar.com

lppimakassar.com

Pertalian hubungan pernikahan antara keluarga Ali dengan sebagian keluarga pamannya dari keluarga Abu Bakar, keluarga Umar, keluarga Utsman, dan keluarga Az-Zubair banyak sekali, dan dikupas oleh Syaikh As-Sayid bin Ahmad bin Ibrahim dalam kitabnya “Al-Asma’ wal Mushaharat Bainal Ahlil Baiti wash Shahabah”. Barangsiapa yang ingin lebih mendalaminya silahkan merujuk kepada kitab tersebut kitab tersebut lengkap dan mudah dalam pembahasan masalah ini. [Lihat buku: “Risalah kepada Pecinta Ahlul Bait”, hal. 6 – 7, Darul Muntaqo]

 

Penutup

Pembahasan tentang sejarah keluarga Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam (dimana di dalamnya termasuk keturunan Fatimah dan Ali bin Abi Tholib) dan para sahabatnya merupakan perpanjangan dari pembahasan sejarah Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam, sehingga termasuk di dalamnya risalah yang beliau bawa, yang berkaitan dengan makna keimanan, akhlak yang mulia, budi yang luhur, kejujuran serta pengorbanan. Mereka itulah generasi yang beriman dengan risalah yang dibawa oleh Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam dan juga meyakini akan kebenaran isi risalah tersebut. Mereka berjuang bersamanya dengan menanggung beban derita dan mengorbankan segala sesuatu yang amat mahal dan amat berharga bagi diri mereka.

Oleh karenanya, kebohongan-kebohongan yang dituduhkan terhadap generasi tersebut, seperti cerita tentang permusuhan dan perpecahan antara keluarga Ali bin Abi Thalib dan para sahabat adalah kamuflase belaka, dan telah menyalahi dalil-dalil syari’at serta realita sejarah yang mengatakan bahwa di antara kedua belah pihak –yang mulia ini-, tidak ada hal lain selain hubungan cinta, ukhuwah imaniyah dan sikap saling menghormati serta pujian dan sanjungan. (http://www.lppimakassar.com/2012/10/kedekatan-hubunfgan-keluarga-nabi-dan.html, dengan perubahan)

Semoga Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

 

Abu Muhammad

Palembang, 22 Ramadhan 1434 H / 31 Juli 2013

 

Download dalam bentuk pdf, artikel: SEKELUMIT HUBUNGAN ALI DENGAN PARA SAHABAT (Beserta Keturunan Mereka)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s