Gallery

Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (7) [Apa Salahnya Berdoa dengan Mengangkat Tangan?-2]

Artikel Sebelumnya di: Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (6) [Apa Salahnya Berdoa dengan Mengangkat Tangan?-1]

 

2. Bolehkah doa setelah sholat disertai dengan mengangkat kedua tangan?

abuabdurrohmanmanado.wordpress.com

abuabdurrohmanmanado.wordpress.com

Agar tidak terjadi kesalah-pahaman, berikut ini akan kita sertakan tentang sunnahnya berdoa dengan mengangkat kedua tangan secara umum. Hal ini telah dijelaskan dalam berbagai riwayat. Di antaranya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

 ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاء،ِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ ،وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وملبسه حرام وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لذلك

 Lalu Beliau (Rasulullah) menyebutkan ada seorang laki-laki dalam sebuah perjalanan yang jauh, kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit: “Wahai Rabb, wahai Rabb,” sedangkan makanannya haram, minumannnya haram, pakaiannya haram dan dia dikenyangkan dengan yang haram, bagaimana bisa doanya dikabulkan?”  (HR.  Muslim  No. 1015, At Tirmidzi   No. 2989, Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan gharib. Ad Darimi   No. 2717, Ahmad dalam Musnadnya No. 8348, Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad mengatakan: isnaduhu hasan,  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 6187, Ishaq bin Rahawaih dalamMusnadnya No. 199, Ibnu Al Ju’di dalam Musnadnya No. 2009)

Dari Salman Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 إنَّ ربكم تبارك وتعالى حَيِيٌّ كريم يستحي من عبده إذا رفع يديه إليه أن يردهما صفراً

                 “Sesungguhnya Rabb kalian Tabaraka wa Ta’ala yang Maha Pemalu, merasa malu terhadap hambaNya jika dia mengangkat kedua tangannya kepadaNya, dia mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong.” (HR. At Tirmidzi No. 3556, katanya: hasan gharib.  Abu Daud No. 1488, Ibnu Majah No. 3856. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 2965. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1830, katanya: sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Dishahihkan Syaikh Al Albani  dalam Shahihul Jami’ No. 1757

Masih banyak riwayat lainnya, sebagaimana nanti yang akan disebutkan. Semua ini menunjukkan menengadahkan kedua tangan ketika berdoa adalah suatu hal yang disyariatkan, bahkan termasuk dari adab berdoa yang dengannya doa bisa dikabulkan.

Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

“Membentangkan kedua tangan ke langit termasuk sebab dikabulkannya doa, sebagaimana hadits: Sesungguhnya Allah Yang Maha Malu dan Mulia, merasa malu terhadap hambaNya jika dia mengangkat kedua tangannya kepadaNya lalu dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 138)

 

Adapun secara khusus, syariat mengangkat tangan terdapat dalam peristiwa-peristiwa berikut ini:

a. Doa Menjelang Perang, sebagaimana cerita Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu tentang keadaan menjelang perang Badar, katanya:

“Di hari ketika perang Badr, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memandangi kaum musyrikin yang berjumlah 1000 pasukan, sedangkan sahabat-sahabatnya 319 orang. Lalu  Nabiyullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadap kiblat, kemudian dia menengadahkan kedua tangannya lalu dia berteriak memanggil Rabbnya: Ya Allah! Penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku …… (HR. Muslim No. 1763)

b. Doa Ketika Meminta Hujan (Istisqa’),Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu berkata:

“Datang seorang laki-laki Arab Pedalaman, penduduk Badui, kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari Jumat. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, ternak kami telah binasa, begitu pula famili kami dan orang-orang.” Maka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya, dia berdoa, dan manusia ikut mengangkat kedua tangan mereka bersamanya ikut berdoa.” (HR. Bukhari No. 983, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 6242)

c. Mengangkat tangan dalam berbagai kesempatan doa

Dari Abu  Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:“Ath Thufail bin Amru Ad Dausi datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya suku Daus telah membangkang dan menolak, maka doakanlah mereka!” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya –manusia menyangka bahwa Beliau mendoakan mereka- dia berdoa: “Ya Allah, berikan petunjuk kepada suku Daus ….” (HR. Bukhari dalamAdabul Mufrad. Lihat Shahih Adabul Mufrad, 478/611. Cet. 1, 1421H. Dar Ash Shiddiq)

Dari Ath Thufail bin Amru, tentang kisah seorang laki-laki yang berhijrah bersamanya. Dalam kisah itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa: “Ya Allah, ampunilah kedua anaknya,” dan dia mengangkat kedua tangannya. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6963, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Ibnu Hibban No. 3017. Abu Ya’la No. 2175. Lihat juga Fathul Bari, 11/142. Al Hafizh mengatakan: sanadnya shahih. Tetapi Syaikh Al Albani mendhaifkan dalam Dhaif Adabil Mufrad, 1/215. Namun, Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya   No. 116, tanpa menyebut: dia mengangkat kedua tangannya. Begitu pula dalam riwayat Ahmad No. 14982, juga Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 15613)

Dari  ‘Ikrimah :“Bahwa ‘Aisyah melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa sambil mengangkat kedua tangannya: “Ya Allah sesungguhnya saya ini hanyalah manusia …” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih Adabil Mufrad, 1/214.  Fathul Bari, 11/142. Al Hafizh mengatakan: shahihul isnad- isnadnya shahih)

Dan masih banyak lagi doa nabi dengan mengangkat kedua tangannya. Al Hafizh Ibnu Hajar telah mengumpulkannya dalam Fathul Bari, di antaranya doa ketika gerhana, doa nabi untuk Utsman, doa nabi untuk Sa’ad bin ‘Ubadah, doa nabi ketika Fathul Makkah, doa nabi untuk umatnya, doa nabi ketika memboncengi Usamah, dan lainnya. Semuanya dengan sanad shahih dan jayyid, dan menyebutkan bahwa nabi mengangkat kedua tangannya ketika melakukan doa-doa tersebut. (Fathul Bari, 11/142) [http://www.ustadzfarid.com/2011/10/menengadahkan-tangan-ketika-berdoa.html]

Ketika ada dalil (adanya petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menunjukkan untuk mengangkat tangan, maka hal ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat tangan ketika berdo’a. Ini merupakan kondisi yang pertama

 

Kondisi yang kedua, berdoa sambil mengangkat tangan menjadi perkara yang diingkari, yaitu ketika telah datang penjelasan dari As-Sunnah yang menunjukkan tidak adanya mengangkat kedua tangan ketika berdo’a, seperti pada do’a ketika berkhutbah, selain khutbah sholat istisqo’ (minta hujan) dan istisha’ (minta dihentikannya hujan dan dialihkan ke tempat lain yang tidak membahayakan).Dari ‘Umaroh bin Ruwaibah Rodhiyallohu ‘anhu riwayat Muslim, bahwasanya ia melihat Bisyr bin Marwan berada di atas mimbar Jum’at mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a. Maka ia berkata:

قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ

“Semoga Alloh memburukkan kedua tangan itu! Sungguh aku telah melihat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam berdo’a (ketika khutbah), tidaklah beliau melakukannya, kecuali hanya dengan mengangkat jari telunjuk saja demikian.” Lalu ia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.

Juga hadits Sahl bin Sa’d Rodhiyallohu ‘anhu riwayat Ahmad dan Abu Dawud, bahwasanya ia mengatakan:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ يَدْعُو عَلَى مِنْبَرٍ وَلَا غَيْرِهِ، مَا كَانَ يَدْعُو إِلَّا يَضَعُ يَدَهُ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَيُشِيرُ بِإِصْبُعِهِ إِشَارَةً

Tidaklah pernah aku melihat Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– menengadahkan kedua tangannya sama sekali ketika berdo’a di atas mimbar atau yang selainnya. Tidaklah beliau berdo’a, kecuali hanyalah dengan mengangkat tangannya setinggi bahu dan mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.” Hadits ini terdapat sedikit kelemahan dalam sanadnya, tetapi diperkuat dengan riwayat Muslim dari hadits ‘Umaroh tersebut di atas.

Setelah menyebutkan dua hadits ini, maka Imam Asy-Syaukani Rohimahulloh mengatakan dalam kitabnya“Nailul Author” (2/555): “Dua hadits tersebut menunjukkan dibencinya mengangkat tangan ketika berdo’a di atas mimbar dan hal itu termasuk kebid’ahan.” (lihat: “Ahkamul Jum’ah wa Bida’uha,” hal. 206)

Demikian juga, do’a-do’a dalam sholat seperti do’a istiftah, ketika sujud, tasyahud, duduk di antara dua sujud. Semua itu tidak disyariatkan mengangkat tangan ketika berdo’a, kecuali do’a qunut nazilah saja. (http://www.ahlussunnah.web.id/mengangkat-tangan-dalam-berdoa)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) memberikan kaidah yang bagus dalam masalah ini, yaitu sebagai berikut:

“Kondisi yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangan, maka tidak boleh bagi kita untuk mengangkat tangan. Karena perbuatan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam termasuk sunnah, begitu pula apa yang beliau tinggalkan juga termasuk sunnah.” (http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3059-mengupas-hukum-berdoa-sesudah-shalat.html)

Syaikh Dr Sulaiman ar Ruhaili mengatakan, “Amal ibadah yang di masa hidupnya Nabi telah dijumpai faktor pendorong untuk melakukannya namun ternyata Nabi tidak melakukannya maka melakukannya adalah bid’ah. Kaedah ini tidaklah diragukan kebenarannya. Karena di masa hidup Nabi sudah dijumpai sebab untuk melakukannya namun Nabi tidak melakukannya, hal ini menunjukkan bahwa hal itu tidak dituntunkan karena andai saja itu dituntunkan tentu saja Nabi akan melakukannya.

Contohnya adalah doa sambil angkat tangan dalam situasi yang terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ketika itu berdoa tanpa sambil angkat tangan. Faktor pendorong untuk mengangkat tangan ketika itu sudah ada yaitu keinginan agar doa yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah akan tetapi ternyata Nabi tidak mengangkat tangannya saat itu. Mengangkat tangan dalam kondisi ini hukumnya adalah bid’ah…..” (http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah)

 

Kondisi yang ketiga, jika tidak ada dalil yang menunjukkan mengangkat tangan ataupun tidak. Maka hukum asalnya adalah mengangkat tangan karena ini termasuk adab dalam berdo’a (Liqo’at Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, kaset no. 51) http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3058-hukum-mengangkat-tangan-ketika-berdoa.html] Hal senada juga difatwakan Syaikh Dr Sulaiman ar Ruhaili yang dapat dilihat di: http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah

Ada juga beberapa do’a yang dzohirnya tidak dengan mengangkat kedua tangan, tetapi ada kemungkinan juga sebaliknya. Hal ini seperti ketika berdo’a setelah adzan. Secara dzohir bahwasanya Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– tidak mengangkat kedua tangannya. Akan tetapi jika seseorang mengangkat kedua tangannya, tidaklah kita katakan bahwa dia telah melakukan kebid’ahan. (lihat hadits-hadits tentang disyariatkannya mengangkat tangan di atas-red)…

Sebagian ulama lainnya mengatakan: jika do’a itu bersifat ibtihal (berdo’a dengan sepenuh hati), yaitu do’a ilhah (meratap) dan karena hajah yang sangat, seperti do’a ketika dalam keadaan genting dan bahaya, maka dengan mengangkat kedua tangan. Akan tetapi jika tidak demikian, maka tidak dengan mengangkat kedua tangan. Oleh karena itu, maka berdo’a setelah adzan tidak dengan mengangkat kedua tangan.

Inilah apa yang diterangkan oleh Al-’Allamah Ibnu ‘Utsaimin –rohimahulloh– dalam ta’liqot kitab Iqtidho’ Ash-Shirothol Mustaqim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahumalloh– (hal. 429-430, cet. Maktabah Al-Anshor Mesir) [http://www.ahlussunnah.web.id/mengangkat-tangan-dalam-berdoa]

 

Bagaimana dengan doa setelah sholat, apakah boleh dengan mengangkat tangan?

Sekali lagi ditegaskan bahwa berdasarkan perincian yang di atas, maka kita katakan bahwa asal di dalam adab berdo’a adalah dengan mengangkat kedua tangan.

Begitu juga dengan doa setelah salam dengan mengangkat tangan. Berangkat pada dalil-dalil di atas, sebagian ‘ulama membolehkannya, diantaranya Al-Mubarakfuri dalam Tuhfah Al Ahwadzi, 2/202, beliau berkata:

“Pendapat yang rajih (kuat) menurutku adalah bahwa mengangkat kedua tangan setelah shalat wajib adalah boleh, seandainya dilakukan oleh seseorang saja, maka itu tidak mengapa. Insya Allah. Wallahu A’lam.” (http://www.ustadzfarid.com/2011/10/menengadahkan-tangan-ketika-berdoa.html)

Ulama lainnya, Syaikh Ibnu Baz memasukkan hukum mengangkat tangan ketika berdo’a sesudah shalat termasuk dalam kondisi kedua (lihat perincian di atas)

Beliau –rahimahullah- dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan :

Tidak disyari’atkan untuk mengangkat kedua tangan (ketika berdo’a) pada kondisi yang kita tidak temukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan pada saat itu. Contohnya adalah berdo’a ketika selesai shalat lima waktu, ketika duduk di antara dua sujud (membaca do’a robbighfirli, pen) dan ketika berdo’a sebelum salam, juga ketika khutbah jum’at atau shalat ‘ied. Dalam kondisi seperti ini hendaknya kita tidak mengangkat tangan (ketika berdo’a) karena memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan demikian padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri tauladan kita dalam hal ini. Namun ketika meminta hujan pada saat khutbah jum’at atau khutbah ‘ied, maka disyariatkan untuk mengangkat tangan sebagaimana dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3059-mengupas-hukum-berdoa-sesudah-shalat.html)

Bahkan beliau menganggap berdoa mengangkat tangan setelah shalat fardhu merupakan perbuatan bid’ah, sebagaimana dalam Fatawa Islamiyah 1/319 (http://almanhaj.or.id/content/1039/slash/0/mengangkat-tangan-pada-waktu-berdoa-setelah-shalat-fardhu/)

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, beliau berkata:

Bukanlah sebuah hal yang disyari’atkan jika seseorang telah selesai mengerjakan sholat kemudian mengangkat tangan dan berdo’a (dan hal ini dilakukan secara berkesinambungan di kebanyakan sholatnya –ed.). Jika dia ingin berdoa maka lebih utama baginya berdo’a di dalam sholatnya dari pada dia berdo’a setelah selesai sholat. Oleh karena itulah adalah salah satu hal yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tuntunkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu ketika bertasyahud, beliau meriwayatkan,

ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

“Kemudian hendaklah ia memilih setelah (membaca dzikir tasyahud dan do’anya –ed.) do’a yang ia ingin panjatkan” (HR. Bukhori no. 800 dan Muslim no. 924) [http://alhijroh.com/fiqih-tazkiyatun-nafs/hukum-mengangkat-tangan-dan-berdoa-setelah-sholat/]

Sekali lagi ditegaskan bahwa maksud doa pada kedua fatwa di atas adalah doa masalah, yang memang tidak ada dalil khusus akan doa ini pada waktu selesai sholat.

Perlu ditegaskan bahwa  yang disunnahkan secara khusus mengangkat tangan dalam hal ini adalah doa mas’alah. Karena doa ada dua macam: doa ibadah dan doa mas’alah. Yang dimaksud dengan doa ibadah yaitu segala segala jenis ibadah, seperti shalat, membaca Al-Quran dan termasuk juga dzikir dan doa khusus yang sudah disyariatkan dengan lafal-lafalnya pada beberapa bentuk aktivitas, seperi doa sebelum dan sesudah makan, doa ketika akan bepergian, dan sejenisnya. Doa-doa yang sudah dipaket dengan lafal-lafal khusus itu, tergolong doa ibadah. Dan di situ –menurut pendapat yang benar- tidak disunnahkan mengangkat tangan. Termasuk doa-doa dan dzikir sesudah sholat. Tapi kalau seseorang sesudah shalat seseorang merasa memiliki keperluan tertentu atau permohonan tertentu, lalu ia berdoa, maka itu disebut doa mas’alah. Maka, saat itu dianjurkan untuk mengangkat tangan. (http://maramissetiawan.wordpress.com/2007/02/14/al-ma%E2%80%99tsurat-dan-mengangkat-tangan-dalam-berdoa/)

Setelah sholat, yang ada adalah dzikir dan ‘doa muqoyyad’ (yang sudah ditentukan lafadznya oleh Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam), lihat pembahasan sebelumnya di: Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (6) [Apa Salahnya Berdoa dengan Mengangkat Tangan?-1]

Sebagian ‘ulama menyebut doa masalah sebagai doa mutlak, sedangkan doa ibadah disebut sebagai doa muqoyyad

Syeikh Abdurrahman Al Barrak berkata:

“Mengangkat kedua tangan ketika berdoa merupakan sebab terkabulnya doa, namun ia disyariatkan secara mutlak (muthlaq/tidak terikat dengan kondisi tertentu) dan secara terikat (muqoyyad/ terikat dengan kondisi tertentu yang ada dalilnya). Disyariatkan secara muthlaq pada doa mutlak dan disyariatkan secara muqoyyad pada hal-hal yang terdapat dalilnya dari jenis doa-doa yang muqoyyad.

Maknanya adalah, tidak disyariatkan mengangkat kedua tangan pada setiap doa muqoyyad. Contohnya adalah doa di setiap akhir sholat baik sebelum salam ataupun setelah salam. (Tidak disyariatkan mengangkat tangan pada saat itu) dikarenakan tidak datang keterangan dari sunnah yang menunjukkan atas hal tersebut…” [Kitab “Al Arak: Majmu’ li Fatawa Al ‘Allamah Abdurrahman Al Barrak (1/31)] {http://dakwahquransunnah.blogspot.com/2012/07/berdoa-mengangkat-tangan-ataukah-tidak.html}

Sholat Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam di masjid merupakan sesuatu yang biasa dilakukan setiap hari dan dilihat oleh para sahabat. Oleh karena itu jika memang Nabi   sholallohu ‘alaihi wa sallam merutinkan atau sering berdoa setelah sholat dengan mengangkat tangan, pastilah terdapat riwayat yang shohih atau bahkan mutawatir. Tapi ternyata tidak ada, berdasarkan fatwa ‘ulama di atas. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang khawatir terjerumus kepada bid’ah, seharusnya berhati-hati untuk berdoa dengan mengangkat tangan setelah sholat

Bagaimana dengan mengangkat tangan untuk berdo’a setalah sholat sunnah?

Syaikh Ibnu Baz –rahimahullah- dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan :

“Adapun shalat sunnah, maka aku tidak mengetahui adanya larangan mengangkat tangan ketika berdo’a setelah selesai shalat. Hal ini berdasarkan keumuman dalil. Namun lebih baik berdo’a sesudah selesai shalat sunnah tidak dirutinkan. Alasannya, karena tidak terdapat dalil yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal ini. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, maka hal tersebut akan dinukil kepada kita karena kita ketahui bahwa para sahabat –radhiyallahu ‘anhum jami’an- rajin untuk menukil setiap perkataan atau perbuatan beliau baik ketika bepergian atau tidak, atau kondisi lainnya.

Adapun hadits yang masyhur (sudah tersohor di tengah-tengah umat) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dalam shalat, seharusnya engkau merendahkan diri dan khusyu’. Lalu hendaknya engkau mengangkat kedua tanganmu (sesudah shalat), lalu katakanlah : Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah), sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Rajab dan ulama lainnya. Wallahu waliyyut taufiq.” (http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3059-mengupas-hukum-berdoa-sesudah-shalat.html)

 

Catatan dan simpulan:

1. Masalah berdoa setelah sholat dengan mengangkat tangan kembali pada masalah adakah doa masalah (mutlak) pada saat tersebut? Inilah pangkal perselisihan para ulama. Dalil-dalil yang ada tentang doa setelah sholat (setelah salam) hanya menunjukkan doa muqoyyad, sedangkan doa mutlak tidak ada (wallohu a’lam). Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa setelah sholat adalah dzikir, bukan berdoa (doa masalah/mutlak). Adapun ulama lainnya yang membolehkan berpendapat dengan keumuman dalil dan asal berdoa dengan mengangkat tangan.

2. Selanjutnya, hukum permasalahan mengangkat tangan saat berdoa pada waktu tersebut mengikuti hukum doa tersebut, apakah doa muqoyyad/dzikir atau masalah. Jika seseorang berdoa muqoyyad/ibadah setelah sholat, misalnya doa:  ‘Allaahumma innii a’uudzubika minal-bukhli wa a’uudzubika minal-jubni wa a’uudzubika min an uradda ilaa ardzalil-‘umuri, wa a’uudzubika min fitnatid-dun-yaa wa a’uudzubika min ‘adzaabil-qabri (Ibnu Hibbaan no. 2024), lihat artikel sebelumnya: Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (6) [Apa Salahnya Berdoa dengan Mengangkat Tangan?-1], maka sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terjerumus kepada perkara bid’ah, sebaiknya jangan mengangkat tangan, karena memang tidak ada riwayat bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam akan hal ini (mengangkat tangan).

3. Jika sesorang ingin berdoa setelah sholat dengan doa masalah/mutlak, maka tidak mengapa walaupun dengan mengangkat tangan, dengan dasar keumuman dalil akan anjuran berdoa di segala keadaan, akan tetapi jangan dirutinkan, karena riwayat-riwayat yang ada pun, setelah sholat adalah dzikir dan doa muqoyyad/ibadah.

4. Ulama (Al-Mubarakfuri) yang membolehkan berdoa setelah sholat dengan mengangkat tangan tidak mengatakan sunah apalagi wajib (lihat kembali perkataan beliau di atas).  Bahkan, di halaman yang sama, beliau mengkritik kalangan hanafiyah modern yang mewajibkan secara tekun mengangkat kedua tangan ketika berdoa setelah usai shalat wajib. (http://www.ustadzfarid.com/2011/10/menengadahkan-tangan-ketika-berdoa.html)

5.Masalah berdoa sambil mengangkat tangan ini pun termasuk khilafiyah ijtihadiyah dimana setiap muslim hendaknya bertoleransi dan tidak memaksakan pendapatnya kepada muslim yang lain. Wallohu a’lam

6. Pembahasan kebolehan berdoa sambil mengangkat tangan ini (menurut sebagian ‘ulama) tidak termasuk ke dalam pembahasan terkait doa bersama-sama antara imam dan makmun. Dzikir jama’i dengan dikomandoi imam, selanjutnya makmum menirukannya dengan satu suara, jelas merupakan bid’ah sebagaimana sudah dibahas di artikel: Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (2) [Bolehkah Dzikir Jama’i?-1] {baca juga yang ke-2}. Do’a secara berjama’ah dengan disertai mengangkat tangan dan ta’min oleh makmum pun juga jelas bid’ahnya, tidak ada seorang ulama / Imam pun yang mensunnahkannya sebagaimana fatwa Syaikh DR. Sholih Al-Fauzan dalam Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi (https://docs.google.com/document/d/1l40ne76DGViN1p72ewoL8LpluG8qJquLHfH-9M73aiI/edit) dan Syaikh Bin Baz dalam fatwa no. 3901 ( http://an-nashihah.com/?p=93)

Bersambung ke: Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (8) [Salahkah Mengusap Muka Setelah Berdoa?]

Advertisements

9 comments on “Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (7) [Apa Salahnya Berdoa dengan Mengangkat Tangan?-2]

  1. Assalamualaikum,
    Sngat brmnfaat skali artikel ini, smoga sy bisa manfaatkan ilmunya dan bisa disebarkan kpd sesama umat muslim. Ijin copy ustads

  2. Assalamualaikum wr wb,
    terima kasih pencerahannya. Mohon ijin copy untuk di-share dengan teman2.
    wassalamualaikum wr wb,

  3. Assalamualaikum , Alhamdulillah Ustad saya benar – benar paham banyak sekali Ilmu yang di dapat untuk menyikapi perbedaan ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s