Gallery

Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (10) [Bid’ahkah Berjabat Tangan Setelah Sholat?-2]

Artikel sebelumnya di: Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (9) [Bid’ahkah Berjabat Tangan Setelah Sholat?-1]

 

kumpulan-fatwa.blogspot.com

kumpulan-fatwa.blogspot.com

Keburukan Jabat Tangan Setelah Sholat

Selain mengada-adakan perkara baru, jabat tangan setelah sholat juga akan mengganggu dzikir jamaah lain

Seorang muslim tidak boleh menghentikan (bacaan) tasbih saudaranya, kecuali dengan sebab syar’i. Dan pemandangan yang kita saksikan, banyak kaum muslimin terganggu, saat berdzikir dengan dzikir-dzikir yang disunahkan sehabis shalat Fardhu, karena tiba-tiba mereka dikagetkan dengan tangan yang dijulurkan untuk berjabat tangan dari kanan dan kiri. Ini mengakibatkan mereka terganggu, bukan karena jabat tangannya, tetapi karena tasbih mereka terputus dan terhalang dari berdzikir kepada Allah, yang disebabkan oleh jabat tangan tersebut tanpa sebab, semisal baru bertemu dan sejenisnya. (Bid’iyyatu Al Mushafahah Ba’da As Salam, hlm. 23) [http://almanhaj.or.id/content/3003/slash/0/salam-dan-berjabat-tangan-selesai-shalat/]

Syubhat-syubhat Seputar Jabat Tangan Setelah Sholat

aHadits riwayat Al-Imaam Ahmad rahimahullah berkata :

قَالَ: أَسْوَدُ أَخْبَرَنِي يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ، قَالَ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ السُّوَائِيَّ، عن أَبِيهِ، أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ. قَالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ بِيَدِهِ يَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ: فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِي، فَوَجَدْتُهَا أَبْرَدَ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبَ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ

Aswad berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Ya’laa bin ‘Athaa’ – , ia (Ya’laa) berkata : Aku mendengar Jaabir bin Yaziid bin Al-Aswad As-Suwaaiy, dari ayahnya : Bahwasannya ia pernah shalat Shubuh bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ia menyebutkan haditsnya, dan berkata : “Kemudian orang-orang berebutan memegang tangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengusapkannya ke wajah-wajah mereka”. Yaziid bin Al-Aswad berkata : “Dan aku pun memegang tangan beliau, lalu aku mengusapkannya ke wajahku. Ternyata, tangan beliau itu lebih dingin dibandingkan salju dan lebih wangi dibandingkan misik” [Musnad Al-Imaam Ahmad, 4/161 (29/23-23) no. 17478; sanadnya shahih].

Sebagian orang menganggap hadits di atas sebagai dasar disunnahkannya berjabat tangan setelah shalat. Anggapan ini tidak benar. Tidak ada petunjuk dalam hadits tersebut adanya kegiatan bersalam-salaman setelah shalat, karena di situ hanya disebutkan bahwa para shahabat mengambil tangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengusapkannya ke wajah-wajah mereka. Dalam riwayat lain disebutkan perkataan Yaziid bin Al-Aswad radliyallaahu ‘anhu :

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاةَ الصُّبْحِ، وَالنَّاسُ يَأْخُذُونَ يَدَهُ يَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، وَإِنَّ يَدَهُ أَبْرَدُ

مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ

“Aku pernah shalat Shubuh bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (Setelah selesai) orang-orang memegang tangan beliau dan mengusapkannya ke wajah-wajah mereka. Dan sesungguhnya tangan beliau lebih dingin dibandingkan salju dan lebih wangi dibandingkan misik” [Diriwayatkan oleh Abu ‘Abdillah An-Ni’aaliy dalam Al-Fawaaid no. 62; sanadnya shahih].

أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ غُلامٌ، قَالَ: وَجَعَلَ النَّاسُ يُقَبِّلُونَ يَدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَجِئْتُ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، فَإِذَا يَدُهُ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ

Bahwasannya ia (Yaziid) pernah shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang waktu itu ia masih kecil. Yaziid berkata : “Setelah itu, orang-orang mencium tangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku pun datang dan memegang tangan beliau. Ternyata tangan beliau lebih dingin dibandingkan salju dan lebih wangi dibandingkan misik” [Diriwayatkan oleh Ad-Diinawariy dalam Al-Mujaalasah no. 1537; sanadnya shahih].

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ نَاوِّلْنِي يَدَكَ، فَنَاوَلَنِيهَا فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Aku mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Mina. Aku katakan : ‘Ya Rasulullah, ulurkanlah tanganmu’. Lalu beliau mengulurkan tangannya, dan ternyata ia lebih dingin dibandingkan salju dan lebih wangi dibandingkan misik” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam At-Taariikh no. 2151; sanadnya shahih].

قَبَّلْتُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ “

“Aku mencium tangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan ternyata ia lebih dingin dibandingkan salju dan lebih wangi dibandingkan misik” [Diriwayatkan oleh Ibnu Qaani’ dalam Mu’jamush-Shahaabah no. 2206; sanadnya shahih].

Perbuatan ini termasuk bab tabarruk dengan tubuh/badan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana banyak dilakukan oleh para shahabat di kesempatan yang lain. Hanya saja tabarruk mereka bertepatan dilakukan di waktu Shubuh setelah usai shalat.

Banyak riwayat dari para shahabat yang bertabarruk (mencari barakah) dengan tangan atau tubuh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lain, di antaranya sebagaimana hadits:

1). Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5016, bahwa ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa mengusap (bekas usapan) tangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (ketika beliau sakit) untuk mengharapkan barakah

2). Diriwayatkan oleh Muslim no. 2324, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mencelupkan tangannya ke dalam bejana para pelayan Madinah

3). Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 188, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mencuci tangan dan wajahnya ke ember lalu meludahinya, kemudian menyuruh para sahabat untuk meminumnya dan menuangkannya ke leher mereka

Tidak lain hal tersebut dilakukan para shahabat karena seluruh tubuh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengandung barakah.

Khusus untuk riwayat Al-Bukhaariy no. 188 di atas, maka di sebagian jalannya ada yang mirip dengan hadits Yaziid bin Al-Aswad di awal pembahasan :

 عَنْ الْحَكَمِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ، قَالَ: ” خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ، قَالَ شُعْبَةُ: وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ، عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ: فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِي، فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ “

Dari Al-Hakam, ia berkata : Aku mendengar Abu Juhaifah berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar pada siang hari yang sangat panas menuju Bathhaa’. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwudlu, lalu shalat Dhuhur dua raka’at dan shalat ‘Ashar dua raka’at. Di hadapan beliau ada ‘anazah (tombak kecil – untuk dijadikan sutrah)”. Syu’bah berkata : ‘Aun menambahkan dalam hadits itu : Dari ayahnya Abu Juhaifah, ia berkata : “Waktu itu, seorang wanita berjalan di belakang ‘anazah itu dan orang-orang berebutan memegang kedua tangan beliau dan mengusapkannya ke wajah-wajah mereka”. Abu Juhaifah berkata : “Lalu aku pun memegang tangan beliau dan aku letakkan ke wajahku. Ternyata ia lebih dingin dibandingkan salju dan lebih wangi dibandingkan misik” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3553].

Jadi, penunjukkan dan konteks hadits Yaziid bin Al-Aswad dan Juhaifah radliyallaahu ‘anhumaa sangat jelas, yaitu tabarruk dengan badan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bukan dalam konteks bersalam-salaman setelah shalat sebagaimana dilakukan dan dipersepsikan sebagian orang. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/05/dalil-yang-dianggap-sebagai-dasar.html)

Selengkapnya, bacalah situs tersebut

bHadits yang berbunyi :

“Berjabat tanganlah setelah sholat Subuh, maka Allah akan menuliskan bagi kalian 10 pahala.” Dan dalam lafazh lain, “Berjabat tanganlah setelah sholat Asar, maka kamu akan dibalas dengan rahmat dan ampunan.” [Lihat as-Si’ayah fil Kasyfi ‘Amma fi Syarhil Wiqoyah hlm. 265

Jawabnya : Kedua hadits itu palsu, dibuat-buat oleh para pelaku jabat tangan usai sholat. Demikianlah, hadits-hadits yang semisal itu juga palsu, tidak ada yang sah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (dinukil secara bebas dari al-Qoulul Mubin fi Akhtho’il Mushollin hlm. 296).] {http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/24/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bidah/}

c. Al-‘Izz bin Abdissalam berpendapat adanya bid’ah hasanah, bisa saja maksud beliau terkait jabat tangan setelah sholat adalah hal ini

Jawabnya : Adapun pembagian bid’ah menjadi beberapa hukum telah dibantah oleh para ulama. Pada sahabat sepakat bid’ah dalam masalah agama itu semuanya sesat, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim 2/595) 

Lihat keterangan “semua bid’ah adalah sesat” yang sangat memuaskan dalam al-Bid’ah wa Atsaruha as-Sayyi fil Ummah karya Abu Usamah Salim bin Id al-Hilali hlm. 100-106, lihat pula Ilmu Ushul al-Bida’ karya Ali bin Hasan al-Halabi hlm. 91-105, al-I’tishom karya Ali bin Hasan al-Halabi hafidhahullah hlm. 91-105, al-I’tishom karya Imam asy-Shathibi : 1/319, dan al-Ibda’ fi Kamil asy-Syar’i karya Syaikh Ibnu Utsaimin hlm. 13. {http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/24/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bidah/}

Ucapan Al-‘Izz bin ‘Abdis-Salaam itu dalam konteks celaan, bukan pembolehan apalagi pujian. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/05/dalil-yang-dianggap-sebagai-dasar.html, bagian komentar)

d. Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Hukum asal berjabat sunnah, dan mereka menjadikannya sebagai rutinitas dalam sebagian keadaan (usai sholat misalnya), tidaklah keluar dari koridor hukum asal sunnah.” (Fathul Bari : 11/55)

Jawabnya : Adapun perkataan Imam Nawawi di atas, maka setiap perkataan manusia diterima jika benar dan  ditolak jika salah, sedang perkataan tersebut jelas bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tertolak. [Muhammad Syamsuddin al-Azhim al-Abadi telah membantah perkataan Imam Nawawi di atas dan menegaskan bahwa perkataannya jelas salah (lihat Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud : 11/247)]

Imam Nawawi menjelaskan maksud perkataan diatas yang masih global dalam kitabnya al-Adzkar, beliau berkata : “Ketahuilah bahwa berjabat tangan ketika saling berjumpa hukumnya sunnah, adapun kebiasaan manusia berupa saling berjabat tangan usai sholat Subuh dan Asar, maka tidak ada asal-usulnya dalam syari’at jika dengan cara seperti ini, tetapi hal itu boleh sebab hukum asal berjabat tangan adalah sunnah, sedangkan mereka melakukannya pada sebagian waktu dan meninggalkannya pada banyak waktu atau mereka tinggalkan pada kebanyakan waktu, maka hal itu tidak keluar dari koridor hukum asal (sunnahnya) berjabat tangan yang telah dianjurkan oleh syari’at.” (Al-Adzkar Pasal “fi al-Mushofahah” : 1/586-587).

Dari penjelasan di atas kita ketahui tentang maksud Imam Nawawi, bahwa jika sesekali melakukan hal tersebut – tetapi kebanyakan (sering) nya ditinggalkan – maka hal itu boleh karena keumuman dalil, tetapi jika melazimi / menjadikannya sebagai rutinitas, maka inilah yang termasuk bid’ah. {http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/24/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bidah/}

Oleh karena itu, apa yang dikemukakan oleh An-Nawawi dan beberapa ulama yang sepakat dengannya merupakan pendapat yang lemah (marjuh) dan telah mendapat kritikan dari para ulama lain karena bertentangan dengan dalil dan kaidah (terkait amalan yang dikategorikan bid’ah) [silakan baca uraian Al-Mubarakfury dalam Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi]. {http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/05/dalil-yang-dianggap-sebagai-dasar.html}

e. Saling berjabat tangan usai sholat termasuk masalah khilafiyah sehingga tidak boleh diingkari.

Jawabnya : Tidak semua perbedaan / khilaf itu bisa diterima dan tidak boleh diingkari. Kewajiban setiap orang yang beriman ketika menjumpai perbedaan pendapat, dia harus menggali masalah semampunya dengan cara merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat QS. An-Nisa’ [4] : 59). Setelah itu, dia harus memahami dengan benar sehingga mengetahui masalah tersebut termasuk sunnah atau bid’ah menurut al-Qur’an dan sunnah Rosul, kemudian menerapkan kaidah-kaidah ushuliyyah terhadap masalah. Apabila hasilnya bid’ah yang mungkar maka dia wakjib menerangkan masalah tersebut kepada umat dan menasihati umat dengan bijaksana agar tidak melakukannya. (Lihat Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan, dan Selamatan karya Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali A.M. hlm. 70-76, cetakan pertama, Pustaka al-Ummat, 1427 H) [http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/24/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bidah/]

Hanya khilafiyah yang berlandaskan dalil shohih-lah yang boleh ditoleransi.

Syaikh Musthafa Al Adawi hafizhahullah berkata: “Ada banyak permasalahan yang para ulama berlapang dada dalam menyikapi perselisihan di dalamnya, karena ada beberapa pendapat ulama di sana. Setiap pendapat bersandar pada dalil yang shahih atau pada kaidah asal yang umum, atau kepada qiyas jaliy. Maka dalam permasalahan yang seperti ini, tidak boleh kita menganggap orang yang berpegang pada pendapat lain sebagai musuh, tidak boleh menggelarinya sebagai ahli bid’ah, atau menuduhnya berbuat bid’ah, sesat dan menyimpang. Bahkan selayaknya kita mentoleransi setiap pendapat selama bersandar pada dalil shahih, walaupun kita menganggap pendapat yang kita pegang itu lebih tepat”. (Mafatihul Fiqhi, 1/100)

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata: “Ucapan sebagian orang bahwa masalah khilafiyah itu tidak boleh diingkari, tidaklah benar. Dan pengingkaran biasanya ditujukan kepada pendapat, fatwa, atau perbuatan. Dalam pengingkaran pendapat, jika suatu pendapat menyelisihi sunnah atau ijma’ yang telah dikenal kebenaran nukilannya, maka pendapat tersebut wajib untuk diingkari menurut kesepakatan para ulama. Meskipun tidak secara langsung pengingkarannya, menjelaskan lemahnya pendapat tersebut dan penjelasan bahwa pendapat tersebut bertentangan dengan dalil, ini juga merupakan bentuk pengingkaran. Sedangkan pengingkaran perbuatan, jika perbuatan tersebut menyelisihi sunnah atau ijma’ maka wajib diingkari sesuai dengan kadarnya”.

Beliau melanjutkan: “Bagaimana mungkin seorang ahli fiqih mengatakan bahwa tidak boleh ada pengingkaran pada masalah khilafiyyah, padahal ulama dari semua golongan telah sepakat menyatakan secara tegas bahwa keputusan hakim jika menyelisihi Al-Qur`an atau As-Sunnah menjadi batal. Walaupun keputusan tadi telah sesuai dengan pendapat sebagian ulama. Sedangkan jika dalam suatu permasalahan tidak ada dalil tegas dari As-Sunnah atau ijma’ dan memang ada ruang bagi ulama untuk berijtihad dalam masalah ini, maka orang yang mengamalkannya tidak boleh diingkari. Baik dia seorang mujtahid maupun muqallid” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/224)[http://muslim.or.id/manhaj/tidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html]

Baca situs tersebut untuk mendapatkan penjelasan yang lebih jelas terkait masalah ini

 

Menyikapi Ajakan Jabat Tangan Setelah Sholat

Sebagai saudara kita barangkali karena menganggap jabat tangan usai sholat adalah bid’ah lalu dia menolak ajaran jabat tangan orang yang tidak tahu (orang awam) terhadap bid’ah dengan dalih mengingkari kemungkaran, lalu yang timbul adalah fitnah, kecurigaan, kebencian, dan tidak tersampaikannya sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik. (http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/24/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bidah/)

Apabila masalahnya seperti ini, maka bukanlah satu hikmah, engkau menarik tanganmu dari tangan orang disampingmu dan menolak tangan yang diulurkan kepadamu, hal ini adalah bathil yang tidak dikenal Islam. Akan tetapi, pegang tangannya dengan halus dan penuh kelembutan dan jelaskanlah padanya tentang bid’ahnya jabat tangan ini, yang dibuat-buat oleh manusia. Betapa banyak orang yang sadar karena peringatan dan dia memang orang yang pantas menerima nasihati. Karena kebodohan telah menyeretnya kedalam pelanggaran sunnah.

Maka kewajiban bagi orang yang berilmu dan para penuntut ilmu untuk menjelaskan dengan baik. Dan bisa jadi, seorang penuntut ilmu ingin mengingkari (mencegah) kemungkaran tapi tidak bisa memilih cara yang baik dan selamat, akibatnya ia terperosok kedalam kemungkaran yang lebih besar dari kemungkaran yang ingin dicegah sebelumnya.

Maka berlemah lembutlah! wahai para da’i Islam, raihlah kecintaan manusia dengan akhlakmu yang terpuji, niscaya kamu akan mampu menguasa hati-hati mereka dan kamu akan mendapati telinga-telinga yang mau mendengarkan dan hati-hati yang mau memperhatikan. Sesungguhnya tabi’at manusia adalah lari dari kekasaran serta kekerasan (Lihat selengkapnya di dalam kitab Bid’iyyatu Al Mushafahah Ba’da As Salam, hlm. 23) [http://almanhaj.or.id/content/3003/slash/0/salam-dan-berjabat-tangan-selesai-shalat/]

Menerima ajakan salaman tersebut bisa diniatkan jabat tangan ketika bertemu, jika memang belum bersalaman sebelum sholat, sebagaimana fatwa Syaikh Bin Baz berikut ini:

“…Disukai bersalaman ketika berjumpa di masjid atau di dalam barisan, jika keduanya belum bersalaman sebelum shalat maka bersalaman setelahnya, hal ini sebagai pelaksanaan sunnah yang agung itu disamping karena hal ini bisa menguatkan dan menghilangkan permusuhan.

Kemudian jika belum sempat bersalaman sebelum shalat fardhu, disyariatkan untuk bersalaman setelahnya, yaitu setelah dzikir yang masyru‘. Sedangkan yang dilakukan oleh sebagian orang, yaitu langsung bersalaman setelah shalat fardu, tepat setelah salam kedua, saya tidak tahu dasarnya. Yang tampak malah itu makruh karena tidak adanya dalil, lagi pula yang disyariatkan bagi orang yang shalat pada saat tersebut adalah langsung berdzikir, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam setelah shalat fardhu.

Adapun shalat sunnah, maka disyariatkan bersalaman setelah salam jika sebelumnya belum sempat bersalaman, karena jika telah bersalaman sebelumnya maka itu sudah cukup. (Fatawa Muhimmah Tatallqu Bish Shalah, hal. 50-52, Syaikh Ibnu Baz) [http://almanhaj.tohaboy.web.id/content/1381/slash/0/bersalaman-berjabat-tangan-setelah-shalat-shalat-dan-adzan-bagi-yang-shalat-sendirian/index.html]

Hal di atas jika ajakan jabat tangan dilakukan oleh orang yang di samping kita, tetapi jika acara jabat tangan ini dilakukan dengan cara ‘upacara tertentu’, seperti: berbaris kemudian setiap orang menyalami satu persatu, maka sebaiknya jangan ikut-ikutan. Setelah sholat dan berdzikir, sebaiknya kita langsung pergi beranjak dari masjid, tidak menunggu ‘upacara’ bid’ah tersebut. Jika ingin meneruskan dzikir, sebaiknya juga menjauh saja, jangan dekat-dekat dengan upacara tersebut, agar tidak terlalu menyinggung perasaan. Untuk mengurangi efek buruk yang mungkin timbul, maka kita bisa mengajak jabat tangan kepada jamaah lainnya saat pertama kali tiba di masjid, dengan niatan berjabat tangan ketika bertemu. Wallohu a’lam

 

Bersambung ke: Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (11) [Kesalahan Lainnya]

Advertisements

6 comments on “Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (10) [Bid’ahkah Berjabat Tangan Setelah Sholat?-2]

  1. Assalaamualaikum..

    Sebelumnya mohon maaf , untuk pertanyaan yg saya ajukan..
    kenapa jabat tangan adalah dipandang sebagai syariat? Sehingga terbentur kpd masalah halal haram..
    Bukankah itu hanya sebatas kebiasaan atau hanya adat?

    Jika jabat tangan di permasalahkan sebagai bid’ah. Berarti apakah tidak lebih pantas jika membaca al-Qur’an juga disebut bid’ah ? Mengingat al Qur’an di bukukan pasca Rasul SAW wafat, oleh dua khilafah Abu bakar, Umar lalu di paripurna pd kholifa utsman.
    Atau bagaimana hukumnya? Adakah pengecualian dlm hal ini ?

    Mohon maaf dan terima kasih, sungguh keterbatasan Ilmu saya yg menjadikan sy bertanya kepada yg lebih ahli.
    Terima kasih ..
    Wassalaamu alaikum wr. Wb

  2. Kalo apa-apa di anggap sebagai bid’ah, hidup di dunia ini makin sempit, tak bisa untuk bergerak, jabat tangan aja kok bid’ah apa lagi orang sesama muslim sedangkan dengan orang kafir saja boleh jabat tangan. kan hanya masalah waktu. bakda sholat atau lainnya kan sama saja yang penting tidak di dalam solat. bisa
    katanya “semua amal perbuatan itu hukum asalnya mubah selema tidak ada perintah atau larangan”. kan tidak ada dalil yang memerintahkan atau melarangn jabat tangan setelah solat. ya berarti mubah.
    Kalo masalah mengganggu yang sedang berzikir, ya jangan mengajak jabat tangan yang sedang berzikir. selesai to kang ? gitu aja kok repot.

    • Memang benar, semakin mendekati hari kiamat, Islam semakin terasing dan memegang Islam akan semakin sulit, bagaikan memegang bara api
      Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
      “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
      … Seseorang yang bersabar pada hari itu seperti seseorang yang memegang sesuatu di atas bara api, seseorang yang beramal pada hari itu sama pahalanya dengan 50 orang yang beramal sepertinya… (HR. Abu Daud: 4341, At Tirmizi: 3058, dan dihasankan olehnya; Ibnu Majah: 4014, An Nasai dalam kitab Al Kubro: 9/137-Tuhfatul Asyrof, Ibnu Hibban: 1850-Mawarid, Abu Nuaim dalam Hilyatul Aulia: 2/30, Al Hakim: 4/322-dishohihkan dan disetujui oleh Adz Dzahabi)
      Ya, hanya karena “waktu”, perbuatan bisa menjadi bid’ah. Contoh: Anda mengerjakan Sholat Dzuhur pada waktu Shubuh boleh apa tidak? Bukankah itu bid’ah? Bukan masalah menganggu orang lain atau tidak kan?
      Kalau mau, bacalah: https://abumuhammadblog.wordpress.com/2013/03/06/apakah-tidak-ada-kebidahan-dalam-ibadah-ghairu-mahdhah-2/

    • Ya repot lah mas,klau nggak usah jabat tangan kan jd nggak repot,duduk tenang dan berdzikir dengan khusuk….,sama juga buat tahlilan dan selamatan jg jd lebih repot,masak,buat undangan ,belum lg sekarang ktnya bayar orabg supaya dtang selametan mending nggak buat acara aman nggak repot….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s