Gallery

Tuntunan Lengkap Berkasih Sayang, Jangan Kalah sama Kucing dan Burung Unta Ini! (2)

Artikel sebelumnya di: Tuntunan Lengkap Berkasih Sayang, Jangan Kalah sama Kucing dan Burung Unta Ini! (1)

 

8. Huznudzon dan tidak memata-matai

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian berprasangka karena prasangka itu perkataan yang paling dusta, dan janganlah kalian mencari-cari berita dan memata-matai”. [HR. Al-Bukhari (5144) Muslim (2563) Ahmad (27334) At-Tirmidzi (1988) Abu Daud (4817) dan Malik (1684)]

Al-Qurthubi berkata : “Maksud prasangka disini adalah tuduhan yang tidak ada sebabnya sebagaimana orang yang menuduh orang lain dengan perbuatan keji tanpa adanya alasan yang jelas terhadap tuduhan tersebut. Oleh karena itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan dengan dengan sabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau:

Dan janganlah kalian memata-matai” .

Demikian itu karena terlintas dalam benak seseorang suatu tuduhan, lalu menginginkan untuk memastikannya, memata-matai dan mencari berita dan mencuri pendengaran. Maka hal tersebut dilarang, dan hadits ini sesuai dengan firman Allah ta’ala :

“ Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.” ( Al-Hujurat : 12 ) [Fathul Bari (10/496)]

9. Memaafkan kesalahan dan menahan marah

Allah ta’ala berfirman :

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” ( Ali Imran : 134 )

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang menahan marah dan dia mampu melampiaskannya niscaya Allah akan memanggilnya dihadapan seluruh makhluk sehingga Allah memberi pilihan kepadanya bidadari mana yang dia kehendaki” [HR. At-Tirmidzi (2021) dan berkata : “hadits hasan gharib”, Ahmad (15210) Abu Daud (4777) Al-Albani berkata : “hasan”, dan Ibnu Majah (4186)]

Sungguh keutamaan yang SANGAT BESAR!

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Shadaqah tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambahkan kepada seorang yang memberi ma’af kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan tinggikan derajatnya” dan pada lafazh riwayat Ahmad :

“Tidaklah seseorang memberi maaf dari perbuatan aniaya kecuali Allah tambahkan baginya kemuliaan” [HR. Muslim (2588) Ahmad (7165) At-Tirmidzi (2029) Malik (1885) dan Ad-Darimi (1676)]

10. Jangan memanggil dengan gelar/sebutan yang buruk

“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman.” ( Al-Hujurat :11)

11. Disenangi mengadakan ishlah (perbaikan/perdamaian) antar sesama saudara

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bukanlah seorang disebut pendusta jikalau memperbaiki antara manusia maka dia akan mendatangkan kebaikan atau berkata yang baik.” [HR. Al-Bukhari (2692), Muslim (2605), Ahmad (26727), At-Tirmidzi (1938), Abu Daud (4920)]

Bahkan dia mendapatkan pahala atas usahanya dalam mengadakan perbaikan antara sesama, dan mencabut (melepas) kedengkian dari hati.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Setiap ruas dari seseorang padanya ada shadaqah, dan setiap hari yang terbit padanya matahari dan mendamaikan antara dua orang, padanya ada shadaqah….” Pada riwayat yang lain : “dan setiap hari yang terbit padanya matahari dan mendamaikan antara dua sesama manusia ada shadaqah.” [HR. Al-Bukhari (2989), (2707), dan HR. Muslim (1009), Ahmad (27400)]

12. Jangan mengungkit-ungkit pemberian

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “ Ada tiga golongan yang mana Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan melihat kepada mereka dan Allah tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Abu Dzar berkata: Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sebanyak tiga kali.”

Abu Dzar berkata : “ Celakalah dan merugilah mereka, siapakah mereka ini wahai Rasulullah ?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Seorang yang memanjangkan kainnya melewati mata kaki, seorang yang selalu mengungkit-ungkit pemberiannya, dan seseorang yang menginfakkan barangnya dengan sumpah dusta “ [HR. Muslim ( 106 ), Ahmad ( 20811 ), At-Tirmidzi ( 1211 ), An-Nasaa`I ( 2563 ), Abu Daud ( 4087 ), Ibnu Majah ( 2208 ) dan Ad-Darimi ( 2605 )]

Dan juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhuma, beliau bersabda: “ Tidak akan masuk surga seorang yang selalu mengungkit-ungkit pemberiannya, dan juga seorang yang durhaka dan seseorang yang kecanduan minum khamar “ [HR. Ahmad( 6501 ),an-Nasaa`I ( 5672 ), Al-Albani mengatakan : Shahih, no. ( 2541 ), dan Ad-Darimi ( 2093 )]

13. Menjaga rahasia dan tidak menyebarkannya

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tanda seorang munafik ada tiga: Apabila dia berkata dia berdusta, apabila dia berjanji maka dia menyalahinya dan apabila dia diserahi amanah maka dia berkhianat. “ [HR. Al-Bukhari ( 33 ), Muslim ( 59 ), Ahmad ( 8470 ), A-Tirmidzi ( 2631 ), An-Nasaa`I ( 5021 )]

[Dari “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub, melalui perantaraan situs http://kautsarku.wordpress.com/2008/10/15/kitab-al-adab-adab-adab-pergaulan-bersama-sesama-saudara-muslim/]

 

B. Jangan Salah Paham, Nasihat kepada Saudara sesama Muslim juga salah satu Bentuk Kasih Sayang!

abufahmiabdullah.wordpress.com

abufahmiabdullah.wordpress.com

Nasihat adalah tuntutan syar’i yang dianjurkan oleh pembuat syariat. Dan merupakan bagian dari perkara-perkara yang menjadi sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membai’at para sahabatnya.

Jarir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu berkata “Saya membai’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menegakkan shalat, menunaikan zakat, memberi nasihat kepada setiap muslim” [HR. Al-Bukhari (57) Muslim (56) Ahmad (18760) At-Tirmidzi (1925) An-Nasaa’i (4175) dan Ad-Darimi (2540)]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan tuntunan ini bersamaan dengan shalat dan zakat yang mana keduanya bagian dari rukun islam, yang menunjukkan kepada kita akan besarnya kedudukan tuntunan saling menasihati tersebut dan nilainya yang luhur.

Semisal disebutkan di dalam hadits Tamim bin Aus Ad-Dari radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama itu nasehat “. Kami berkata : Kepada siapakah wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau bersabda : Kepada Allah, kepada kitabnya, kepada rasulnya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin”. [HR. Muslim (55) Ahmad (16493) An-Nasaa’i (4193) dan Abu Daud (4944)]

Dan sabda beliau : “agama itu nasehat” yaitu : Bahwa nasehat adalah amalan yang paling utama dan yang paling sempurna dalam agama. [Kasyful Musykil min hadits shahihaim libnil Jauzi (4/219)]

Ibnul Jauzi berkata : “Ketahuilah bahwa nasehat untuk Allah Azza wa Jalla adalah membela agamanya dan menghalau segala bentuk kesyirikan kepada Allah walaupun Allah tidak membutuhkan hal tersebut, akan tetapi manfaatnya kembali kepada hamba.

Demikian pula nasihat untuk kitabnya: Membelanya dan senantiasa menjaga tilawah kitab-Nya. Dan nasehat untuk Rasulnya : Melaksanakan sunnahnya dan mengajak kepada dakwah beliau.

Dan nasehat untuk imam-imam kaum muslimin : Mentaati mereka, jihad bersama mereka, menjaga bai’at mereka, memberi nasehat kepada mereka tanpa adanya pujian-pujian yang membuat mereka terpedaya.

Dan nasehat untuk seluruh kaum muslimin : Keinginan memberikan kebaikan kepada mereka, termasuk dalam hal ini mengajarkan dan memperkenalkan kepada mereka perkara yang wajib, dan menunjukkan mereka kepada al-haq. [Kasyf Al-Musykil Min Hadits As-Shahihain. karya Ibnul Jauzi (4/219)]

Berdasarkan ini maka nasehat untuk para suadara kita adalah dengan tujuan melapangkan kebaikan kepada mereka, menjelaskan al-haq kepada mereka, mengarahkan mereka kepada kebaikan, tidak menipu mereka dan bermuka manis kepada mereka dalam masalah agama Allah.

Termasuk pula memerintahkan mereka kepada perkara yang ma’ruf dan melarang mereka dari kemungkaranwalaupun hal itu menyelisihi hawa nafsu mereka dan kebiasaan mereka.

[Dari “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub, melalui perantaraan situs http://kautsarku.wordpress.com/2008/10/15/kitab-al-adab-adab-adab-pergaulan-bersama-sesama-saudara-muslim/]

Saudaraku, setelah penjelasan di atas, bagaimana tanggapan kita terhadap orang yang mendakwahkan untuk memegang teguh As-Sunnah dan menjauhkan dari berbagai bentuk bid’ah, syirik dan khurafat?

Apakah kita akan mengatakan: “Biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami, bukankah Islam rahmatan lil’alamin?”.

Sungguh aneh, bukan? Bukankah seharusnya kita berterima kasih? Paling tidak, marilah kita berdiskusi secara ilmiah, berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shohih, serta pendapat para Ulama yang mu’tabar. Iya kan?

Pertama, bacalah kembali penjelasan di atas.

Kedua, pernyataan ‘biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami’ hanya berlaku kepada orang kafir. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Kaafirun:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku‘”

Sedangkan kepada sesama muslim, tidak boleh demikian. Bahkan wajib menasehati bila saudaranya terjerumus dalam kesalahan. Yang dinasehati pun sepatutnya lapang menerima nasehat. Bukankah orang-orang beriman itu saling menasehati dalam kebaikan?

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr: 1 – 3)

Sekali lagi, menasehati orang yang berbuat menyimpang dalam agama adalah bentuk kasih sayang kepada orang tersebut. Bahkan orang yang mengetahui saudaranya terjerumus ke dalam penyimpangan beragama namun mendiamkan, ia mendapat dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:

إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها كمن غاب عنها . ومن غاب عنها فرضيها ، كان كمن شهدها

Jika engkau mengetahui adanya sebuah kesalahan (dalam agama) terjadi dimuka bumi, orang yang melihat langsung lalu mengingkarinya, ia sama seperti orang yang tidak melihat langsung (tidak dosa). Orang yang tidak melihat langsung namun ridha terhadap kesalahan tersebut, ia sama seperti orang yang melihat langsung (mendapat dosa)” (HR. Abu Daud no.4345, dihasankan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Perselisihan pendapat pun tidak bisa dipukul-rata bahwa semua pendapat bisa ditoleransi. Apakah kita mentoleransi sebagian orang yang berpendapat shalat lima waktu itu tidak wajib bagi orang yang mencapai tingkatan tertentu? Atau sebagian orang kejawen yang menganggap shalat itu yang penting ‘ingat Allah’ tanpa harus melakukan shalat? Apakah kita mentoleransi pendapat Ahmadiyyah yang mengatakan bahwa berhaji tidak harus ke Makkah? Tentu tidak dapat ditoleransi. Jika semua pendapat orang dapat ditoleransi, hancurlah agama ini. Namun pendapat-pendapat yang berdasarkan dalil shahih, cara berdalil yang benar, menggunakan kaidah para ulama, barulah dapat kita toleransi. (http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html)

 

C. Bagaimana dengan berkasih sayang dengan non muslim? [http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html]

123rf.com

123rf.com

Sebagian orang mengajak untuk berkasih sayang kepada orang kafir, tidak perlu membenci mereka, mengikuti acara-acara mereka, enggan menyebut mereka kafir, atau bahkan menyerukan bahwa semua agama sama dan benar, dengan berdalil dengan ayat:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. Al Anbiya: 107)

Padahal bukan demikian tafsiran dari ayat ini (Lihat penjelasan para ulama tafsir ayat ini di situs tersebut).

Allah Ta’ala menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, namun bentuk rahmat bagi orang kafir bukanlah dengan berkasih sayang kepada mereka. Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu. Inilah bentuk kasih sayang Allah terhadap orang kafir, dari penjelasan sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu.

Bahkan konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, serta membenci orang-orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Namun perlu dicatat, harus membenci bukan berarti harus membunuh, melukai, atau menyakiti orang kafir yang kita temui. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam tafsir beliau di atas, bahwa ada orang kafir yang wajib diperangi, ada pula yang tidak boleh dilukai.

Dalil bolehnya berbuat baik dan berlaku adil antara lain terdapat dalam firman Allah ‘Azza wa jalla:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu, sebagai kawanmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al Mumtahanah: 8—9)

Baca perbedaan antara berbuat baik dan berkasih sayang di situs: http://asysyariah.com/berbuat-baik-berbeda-dengan-berkasih-sayang.html

Menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai dalil pluralisme agama juga merupakan pemahaman yang menyimpang. Karena ayat-ayat Al Qur’an tidak mungkin saling bertentangan. Bukankah Allah Ta’ala sendiri yang berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ

Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” (QS. Al Imran: 19)

Juga firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al Imran: 85)

Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan ‘Islam’ dalam ayat-ayat ini dengan ‘berserah diri’. Jadi semua agama benar asalkan berserah diri kepada Tuhan, kata mereka. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:

الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no.8)

Justru surat Al Anbiya ayat 107 ini adlalah bantahan telak terhadap pluralisme agama. Karena ayat ini adalah dalil bahwa semua manusia di muka bumi wajib memeluk agama Islam. Karena Islam itu ‘lil alamin‘, diperuntukkan bagi seluruh manusia di muka bumi. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim di atas: “Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya”.

 

Bersambung ke: Tuntunan Lengkap Berkasih Sayang, Jangan Kalah sama Kucing dan Burung Unta Ini! (3)

Advertisements

2 comments on “Tuntunan Lengkap Berkasih Sayang, Jangan Kalah sama Kucing dan Burung Unta Ini! (2)

  1. Wow, superb blog layout! How long have you been blogging
    for? you make blogging look easy. The overall look of your website is excellent, let alone the content!

    • Thanks for your appraisal. If i count from the first time up to now, it is so long, more than one year. But, actually, i could making this appearance at least one month. It is not so difficult if you wants learn via internet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s