Gallery

Saudaraku, Marilah Kita Berpikir Lebih Obyektif Tentang Bid’ah (3)

Artikel sebelumnya di: Saudaraku, Marilah Kita Berpikir Lebih Obyektif Tentang Bid’ah (2)

 

newscientist.com

newscientist.com

 

10. Mengapa kita lebih rajin untuk menghadiri tahlilan dan maulid yang tidak ada dasarnya dalam syariat, daripada menghadiri sholat fadhu lima waktu di masjid? Padahal pendapat yang lebih benar, hukum sholat berjama’ah adalah wajib, diantaranya berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan dengan kayu bakar lalu dibakar, kemudian aku memerintahkan agar adzan dikumandangkan. Lalu aku juga memerintah seorang untuk mengimami manusia, lalu aku berangkat kepada kaum laki-laki (yang tidak shalat) dan membakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari 644 dan Muslim 651)

Imam Bukhari membuat bab hadits ini “Bab Wajibnya Shalat Berjamaah”. Al-Hafizh  Ibnu Hajar berkata, “hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa shalat berjamaah fardhu ain, sebab jika hukumnya sunnah maka tidak mungkin Rasulullah mengancam orang yang meninggalkannya dengan acaman bakar seperti itu.” (Fathul Bari 2/125).

Ibnu Mundzir juga mengatakan serupa, “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang sangat jelas tentang wajibnya shalat berjamaah, sebab tidak mungkin Rasulullah mengancam seorang yang meninggalkan suatu perkara sunnah yang bukan wajib.” (Dinukil Ibnu Qoyyim dalam kitab Sholah hal. 136).

Ibnu Daqiq Al-I’ed berkata, “Para ulama yang berpendapat fardhu ain berdalil dengan hadits ini, sebab jika hukumnya fardhu kifayah tentunya telah gugur dengan perbuatan Rasulullah dan para sahabat yang bersamanya. Dan seandainya hukunya sunnah tentu pelanggarnya tidak dibunuh. Maka jelaslah bahwa hukunya adalah fardhu ain. (ikamul Ahkam I/164) (http://abiubaidah.com/shalat-berjamaah.html/)

Lebih luasnya, silahkan baca situs tersebut.

Selain situs tersebut, pembahasan tentang hukum sholat berjamaah dapat dibaca di: http://al-atsariyyah.com/wajibnya-shalat-berjamaah.html; http://fadhlihsan.wordpress.com/2012/03/25/hukum-shalat-berjamaah-di-selain-masjid/; http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/17/apa-hukum-shalat-berjamaah/; atau http://ustadzkholid.com/hukum-shalat-berjama%E2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/

Khusus situs terakhir, ditampilkan perbedaan pendapat tentang hukum sholat berjamaah secara lebih rinci

Padahal kalau mau jujur pun, MINIMAL kita semua sudah tahu kalau pahala sholat berjamaah di masjid pahala 27 KALI LIPAT dibanding sholat sendirian

Rasululloh bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Sholat jama’ah melebihi sholat sendirian dengan 27 derajat. (HR. Bukhori, no: 645, dari Abdulloh bin Umar) [http://ustadzmuslim.com/keutamaan-sholat-jama%E2%80%99ah-di-masjid-2/]

Mengapa kita masih lebih mementingkan tahlilan daripada sholat berjamaah di masjid, yang sudah jelas disyariatkan?

Penulis situs http://kangaswad.wordpress.com/2009/08/13/keanehan-keanehan-pelaku-bidah/ berkata: “Di masjid dekat saya tinggal, cukup ramai yang datang shalat berjama’ah maghrib dan Isya. Namun anehnya, ketika ada acara Tahlilan masjid mendadak sepi. Ternyata mereka tidak datang ke masjid karena sedang bersiap diri untuk acara Tahlilan nanti.Pesertanya pun lebih mem-bludakdaripada peserta shalat berjamaah di masjid“.

Herannya, di kampung saya, Palembang, dan tempat tinggal saya dulu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kok mirip. Memang kebodohan ini sudah menjadi budaya nasional rupanya.

 

11. Mengapa kita memperbanyak sholawat hanya pada saat peringatan maulid, bukankah anjuran membaca sholawat adalah setiap saat, lebih khusus di hari jumat, setiap pagi dan petang, atau setelah adzan. Adakah dalil memperbanyak  bacaan sholawat saat maulid?

Sebagian dari kita berdalil untuk mendukung maulid dengan ayat,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al Ahzab: 56). Kalau dilihat secara tekstual, tidak ada nyambungnya antara perintah merayakan maulid dan ayat ini. Bukti tidak nyambungnya, kita bandingkan dengan perkataan pakar tafsir tentang ayat tersebut.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksud ayat adalah: Allah Ta’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang kedudukan mulia hamba dan Nabi-Nya (yaitu Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-) di kedudukan tinggi nan mulia. Allah memuji Nabi-Nya di hadapan para malaikat yang didekatkan. Para malaikat pun bershalawat padanya. Kemudian Allah perintahkan pada makhluk di muka bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam pada beliau supaya menunjukkan berbagai pujian untuk beliau baik dari makhluk di langit (di atas), maupun di muka bumi (di bawah).” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 11: 210)

Bahkan kita diperintahkan bershalawat setiap saat, bukan hanya saat maulidan.

Ketika disebut nama Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- saja kita diperintahkan bershalawat,

اَلْبَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Orang pelit itu adalah orang yang ketika disebut namaku ia enggan bershalawat” (HR. Tirmidzi no. 3546, ia berkata hadits tersebut hasan shahih gharib).

Ketika tasyahud, kita pun diperintahkan untuk bershalawat

سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً يَدْعُو فِى صَلاَتِهِ لَمْ يُمَجِّدِ اللَّهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « عَجِلَ هَذَا ». ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ « إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ ».

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki yang berdoa dalam shalatnya tanpa mengagungkan Allah dan tanpa bershalawat. Beliau pun berkata, ‘Orang ini terlalu tergesa-gesa’. Rasulullah lalu memanggil lelaki tersebut lalu menasehatinya, ‘Jika salah seorang diantara kalian berdoa mulailah dengan mengagungkanlah Allah, lalu memuji Allah, kemudian bershalawatlah, barulah setelah itu berdoa apa yang ia inginkan‘” (HR. Abu Daud no. 1481. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Demikian halnya setelah mendengar adzan,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Jika kalian mendengarkan muadzin mengumandangkan adzan, ucapkanlah apa yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena setiap seseorang bershalawat kepadaku, Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali” (HR. Muslim, no. 384)

Ketika dzikir pagi, kita juga diperintahkan bershalawat 10 kali,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِيْنَ يُمْسِي عَشْرًا أَدْركَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

Barangsiapa bershalawat untukku sepuluh kali di pagi dan petang hari, maka ia akan mendapatkan syafa’atku di hari kiamat nanti.” (HR. Thobroni melalui dua isnad, keduanya jayyid. Lihat Majma’ Az Zawaid 10: 120 dan Shahih At Targhib wa At Tarhib 1: 273, no. 656). Bukan hanya dzikir pagi, dzikir petang pun demikian sebagaimana tertera dalam hadits ini.

Bahkan setiap ingin memanjatkan do’a kita pun memanjatkan shalawat terlebih dahulu. Dalilnya adalah dalil shalawat saat tasyahud karena di awalnya diawali dengan memuji Allah terlebih dahulu.

Di hari Jum’at pun demikian, seorang muslim diperintahkan memperbanyak shalawat. Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

Perbanyaklah shalawat kepadaku  pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1673).

Jadi kalau kita mengatakan bahwa orang yang tidak merayakan maulid, maka orang tersebut pelit bershalawat, maka itu keliru. Justru yang dilakukan pro-maulid pada setiap maulid saja, menunjukkan kekeliruannya. Atau mungkin kita lakukan pada setiap pekan saat acara shalawatan versi kita, ini juga menunjukkan pelitnya. Karena setiap muslim dalam sehari saja bisa bershalawat lebih dari sepuluh kali. (http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/4222-10-keanehan-para-pro-maulid-seri-2.html)

 

12. Mengapa kita merayakan hari kematian Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sukacita dan berbagai macam ibadah yang tidak ada dalilnya?

Saudaraku, jika kita meneliti lebih jauh, ternyata yang pas dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal adalah hari kematian Nabi ­-shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Meski mengenai kapan beliau meninggal pun masih diperselisihkan tanggalnya. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa beliau meninggal dunia pada tanggal 12 dari bulan Rabi’ul Awwal, dan inilah yang dinilai lebih tepat. (Lihat berbagai pendapat dalam masalah ini dalam artikel Syaikh Sholih Al Munajjid dalam Fatwa Al Islam Sual wal Jawab: http://islamqa.info/ar/ref/147601) Jika demikian, yang mau diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal apakah kematian beliau?! Wallahul musta’an.

Mari kita telaah lebih lanjut mengenai hari dan tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hari kelahiran Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah hari Senin. Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Sedangkan tahun kelahirannya adalah pada tahun Gajah. Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad berkata,

لا خلاف أنه ولد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بجوف مكّة ، وأن مولده كان عامَ الفيل .

“Tidak ada khilaf di antara para ulama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di kota Mekkah. Dan kelahirannya adalah di tahun gajah.” (http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/4223-10-keanehan-para-pro-maulid-seri-3.html)

Sedangkan mengenai tanggal dan bulan lahirnya Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal ini masih diperselisihkan.

Pendapat yang paling mendekati kebenaran -insya Allah- adalah yang menyatakan bahwa Nabi –Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam– dilahirkan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal karena adanya atsar yang diriwayatkan oleh Malik dan selainnya dengan sanad yang shohih dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dan beliau adalah seorang tabi’in yang mulia.

Pendapat yang kuat setelahnya adalah pendapat yang dikuatkan oleh para ahli hadits yang menyatakan bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal, wallahu Ta’ala A’lam.

Pengarang Nurul ‘Ainain fii Sirah Sayyidil Mursalin berkata, hal. 6,

Almarhum Mahmud Basya seorang pakar ilmu Falak menguatkan bahwa hal itu (hari kelahiran Nabi) adalah pada Subuh hari Senin, tanggal 9 Rabi’ul Awwal yang bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 Miladiyah dan juga bertepatan dengan tahun pertama dari peristiwa Gajah

(Rujukan: Al-Qaulul Fashl fii Hukmil Ihtifal bi Maulidi Khairir Rasul hal. 64-72,  Al-Maurid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid hal. 7-9 dan Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 137-151} Diambil dari : Buku Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karya al-Ustadz Hammad Abu Muawiyah, cetakan Maktabah al-Atsariyyah 2007; dari kautsarku) [ http://abuzuhriy.com/sejarah-disyariatkannya-maulid-nabi/]

Lebih lanjut tentang perbedaan pendapattentang masalah ini, silahkan membaca situs tersebut. Baca juga mengenai hadits yang tidak shohih dan sejarah perayaan maulid di: http://alqiyamah.wordpress.com/2011/02/13/maulid-nabi-padahal-ulama-pun-telah-berselisih-tentang-tanggal-kelahirannya/

 

Penutup

Terakhir, Saudaraku, renungkanlah perkataan sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud dan Imam Malik berikut ini:

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya ia berkata :

اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة

Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.” [HR. ad-Darimi (223), al-Lalika’i (1/55, 88) dan yang selainnya. Atsar ini shohih.]

Dari Sa’id bin al-Musayyib, bahwa ia melihat seseorang sholat setelah fajar lebih dari 2 roka’at, ia memperbanyak pada sholat 2 roka’at itu rukuk dan sujud, maka ia (Sa’id) melarangnya. Maka orang itu berkata : “Wahai Aba Muhammad, apakah Allah akan mengadzabku karena sholat?” Ia menjawab : “Tidak, akan tetapi Allah akan mengadzabmu karena engkau menyelisihi sunnah.” [HR. al-Khotib dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih (1/147)]

Dari Sufyan bin Uyainah, ia berkata : aku mendengar Malik bin Anas ketika seseorang mendatanginya, lalu orang itu berkata : “Wahai Aba Abdillah, darimana aku ber-ihrom?” Malik menjawab : “Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah ber-ihrom.” Maka orang itu berkata : “aku ingin ihrom dari masjid di sebelah kuburan (yakni masjid Nabawi, pent).” Malik mengatakan : “Jangan engkau lakukan itu, aku khawatir engkau akan tertimpa fitnah.” Orang itu berkata : “fitnah apa? Aku
kan hanya menambah beberapa mil saja.” Malik berkata : “fitnah apa yang lebih besar daripada engkau merasa melakukan yang lebih utama daripada apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar Allah berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An-Nur : 63)” [HR. al-Khotib dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih (1/146), dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (6326), dan lain-lain] (diterjemahkan oleh Ummu Shilah & Zaujuha dari Ushulul Fiqh ‘Ala Madzhabi Ahlil Hadits, karya asy-Syaikh Zakariyya bin Ghulam Qodir al-Bakistani, Bab Qowa’id fil Bid’ah) {http://tholib.wordpress.com/2007/01/04/sederhana-dalam-sunnah-lebih-baik-daripada-bersungguh-sungguh-dalam-bidah/}

Sekali lagi, berpikirlah secara obyektif Saudaraku, bangkitkan sikap bijaksana dalam hatimu yang selama ini terpendam oleh fanatisme dan kemalasan untuk mencari kebenaran. Semoga Alloh menunjuki kita semua

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Allahumma inni as-alukal huda was sadaad” [Ya Allah, meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran] (HR. Muslim no. 2725) {http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3018-doa-meminta-petunjuk-dan-kebenaran.html}

Wallohu a’lam bish showab. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

 

 

Abu Muhammad

Palembang, 15 Jumadil Awal 1434 H / 27 Maret 2013

 

Download dalam bentuk pdf, artikel: SAUDARAKU, MARILAH KITA BERPIKIR LEBIH OBYEKTIF TENTANG BID’AH (1 s.d. 3, lengkap)

 

Advertisements

3 comments on “Saudaraku, Marilah Kita Berpikir Lebih Obyektif Tentang Bid’ah (3)

  1. betul sekali ustadz,saya dulu juga seperti itu kebanyakan mereka itu tidak mau di koreksi amalannya kalau dia mengakui bahwa selain nabi bisa salah seharusnya kan mau di koreksi tapi faktanya mereka memposisikan dirinya seakan akan seperti nabi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s