Gallery

Menjawab Kerancuan Seputar Penulisan Mushaf Al-Qur’an di Zaman Utsman bin Affan Rodhiyallohu ‘anhu (2)

Artikel sebelumnya di: Menjawab Kerancuan Seputar Penulisan Mushaf Al-Qur’an di Zaman Utsman bin Affan Rodhiyallohu ‘anhu (1)

 

ummuabdulazeez.wordpress.com

ummuabdulazeez.wordpress.com

Agar lebih jelas dalam menjawab kedua pertanyaan tersebut maka perlu diulas juga tentang:

Perbedaan Antara Pengumpulan Al-qur’an Di Zaman Abu Bakar dan ‘Utsman Radhiyallahu ‘anhumaa (http://www.alsofwa.com/14956/184-quran-perbedaan-antara-pengumpulan-al-quran-di-zaman-abu-bakar-dan-utsman-radhiyallahu-anhumaa.html)

Faktor pendorong pengumpulan di zaman Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah kekhawatiran akan hilangnya al-Qur’an disebabkan banyaknya Qurra’ (penghafal al-Qur’an) yang meninggal dalam peperangan. Sedangkan faktor pendorong di zaman ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu adalah banyak perbedaan cara membaca al-Qur’an, yaitu ketika beliau melihat perbedaan ini di negeri-negeri kaum Muslimin dan mereka saling menyalahkan satu sama lain.

Pengumpulan al-Qur’an pada zaman Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dilakukan dengan mengumpulkan (memindahkan) catatan-catatan al-Qur’an yang terpisah-pisah yang ada di kulit binatang, tulang belulang, dan pelepah kurma. Lalu dikumpulkan dalam satu mushaf, yang ayat-ayat dan surat-suratnya tersusun rapi, mencukupkan diri pada ayat-ayat yang tidak dinaskh (dihapus) bacaannya, dan mushaf tersebut mencakup“tujuh huruf” yang dengannya al-Qur’an diturunkan.

Pengumpulan al-Qur’an versi ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu dengan menyalin salah satu huruf dari “tujuh huruf” al-Qur’an, supaya kaum Muslimin bersatu di atas mushaf yang satu, huruf (cara baca) yang satu yang mereka baca, tanpa huruf enam yang lainnya.

Ibnu at-Tiin dan yang lainnya berkata:“Perbedaan antara pengumpulan al-Qur’an yang dilakukan Abu Bakar dengan yang dilakukan ‘Utsman adalah bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan al-Qur’an karena kekhawatiran dia akan hilangnya sebagian al-Qur’an bersamaan dengan meninggalnya para penghafalnya (di medan perang), karena saat itu al-Qur’an belum dikumpulkan dalam satu tempat (mushaf). Maka dia pun mengumpulkannya dalam lembaran-lembaran, tersusun rapi ayat-ayat dan surat-suratnya sesuai dengan ketentuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun pengumpulan al-Qur’an yang dilakukan oleh ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu didorong oleh banyaknya perbedaan dalam wujuh al-qira’ah (cara bacaan), sehingga masing-masing mereka membaca sesuai dengan dialek/bahasa mereka (karena luasnya bahasa/dialek arab). Lalu hal itu menyebabkan fenomena saling menyalahkan di antara mereka, maka dikhawatirkan hal itu akan meluas. Kemudian ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu menyalin mushaf tersebut ke dalam satu mushaf yang tersusun rapi ayat-ayat dan surat-suratnya. Dan dia hanya mencukupkan dengan bahasa kaum Quraisy, bukan dengan bahasa arab yang lainnya, dengan alasan bahwa al-Qur’an turun dengan bahasa mereka, dan sekalipun diberikan keleluasaan dalam membacanya dengan bahasa arab selain mereka(Quraisy) dari “tujuh huruf” itu, untuk memudahkan mereka pada awal mula turunya al-Qur’an. Kemudian, dia melihat bahwa kebutuhan akan hal itu sudah berakhir, maka dia hanya mencukupkan dengan satu bacaan (bahasa) saja, yaitu bahasa kaum Quraisy.”

Al-Harits al-Muhasiby rahimahullah berkata:“Yang masyhur di kalangan manusia adalah bahwa yang mengumpulkan al-Qur’an adalah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, padahal tidaklah demikian. ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu hanyalah mengarahkan (menyatukan) manusia di atas satu qira’ah (cara baca), berdasarkan pemilihan yang dihadiri oleh kaum Muhajirin dan Anshar, ketika khawatir terjadinya fitnah ketika terjadi perselisihan penduduk Irak dan Syam (daerah yang meliputi Syria, Palestina, Yordan, Libanon dll) tentang masalah huruf qira’at (cara-cara membaca). Adapun sebelum itu maka al-Qur’an dibaca dengan model/cara baca yang tujuh (“tujuh huruf”) sebagaimana ia diturunkan. Dan adapun yang lebih dahulu mengumpulkan/membukukan al-Qur’an secara keseluruhan adalah ash-Shiddiq (Abu Bakar) radhiyallahu ‘anhu. (al-Itqan: 1/59-60)

Dengan cara seperti ini ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu mematikan fitnah, menghilangkan sumber perpecahan, dan melindungi al-Qur’an dari hal-hal yang bisa merusak keotentikannya berupa penambahan, dan pengubahan seiring dengan berjalannya waktu dan bergantinya zaman.

Dengan demikian pertanyaan pertama, kedua, dan ketiga TELAH TERJAWAB. Sekali kami tegaskan bahwa yang dilakukan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu hanyalah menyatukan bacaan, jadi tidak menghilangkan huruf, lafadz, dan makna. Ketiganya terjaga dengan jaminan Alloh sendiri, sebagaimana dibahas di awal. Walhamdulillah. Al-Quran sudah selesai dibukukan pada masa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Bahkan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Zaid bin Tsabit rodhiyallohu ‘anhu untuk menuliskannya dengan didiktekan oleh Sa’id bin ‘Ash al-Umawy dengan disaksikan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu pun tidak membakarnya melainkan di hadapan sekumpulan sahabat yang lain.

Tentang pertanyaan keempat, jawaban singkatnya sebagai berikut (http://forum.muslim-menjawab.com/2012/01/27/menjawab-gugatan-tentang-pembukuan-al-quran/):

Pertama. Seluruh qiroah yang dicontohkan adalah qiroah yang tidak muncul dari hasil ijtihad ulama. Melainkan, semua itu diterima kaum muslimin dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama secara mutawaatir. Jadi, walau berbeda-beda, tetapi tetap dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Jibril ‘alaihis salam, dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Qiroah mutawatir itu telah dihimpun oleh ulama pada masatabiut tabi’in. Mereka dikenal dengan imam qiroah yang tujuh. Cara baca Al Qur’an ini mereka terima dariTabi’in, tabi’in menerima dari sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan sahabat menerima dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama.

Kedua, Para ulama menerima Al Qur’an dengan metode yang hati-hati. Mereka menerima bacaan secara talaqi –pembicaraan melalui tatap muka- dari para hufadz yang memiliki jalur periwayatan yang bersambung. Dengan begitu, teks bukanlah satu-satunya sandaran dalam membaca. Sandaran utama dalam membaca Al Qur’an di samping teks adalah hafalan yang diwariskan dari guru ke murid.

Pada masa awal, umat islam hanya belajar secara talaqqi dengan guru yang menerima Al Qur’an dengan sanad yang kuat dan bersambung kepada Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama (bahkan sampai sekarang masih ada ulama yang memiliki sanad qiroah yang bersambung sampai Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam). Mereka juga hanya belajar pada ulama yang kapabilitasnya diakui dalam qiroah, yang memiliki sanad baik, kewara’an, dan keakuratan tinggi. Pada awalnya mushhaf tidak dijual. Mushhaf hanya bisa didapat oleh seorang murid ketika dia belajar kepada seorang qori’ yang memiliki sanad bersambung sampai Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama dan dia menyelesaikan hafalannya di depan sang guru. Kemudian setelah bacaannya mantap, dia akan dinyatakan lulus, kemudian akan beralih untuk mempelajari tsaqofah islam yang lain, seperti hadits dan fiqh. Tapi, belajar Al Qur’an bukanlah satu-satunya menu pertama bagi ulama awal. Menu pertama mereka yang lain adalah bahasa Arab yang mereka pelajari sejak kecil di suku-suku pedalaman Arab (seperti yang dilakukan oleh imam kita, Al Imam As-Syafi’iy rahimahullah, dll). Sehingga, mereka tidak menemui banyak kesulitan ketika mempelajari Al Qur’an, dengan mufrodat, I’rab, dan tashrifnya.

Wallohu a’lam

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Robb pemilik langit dan bumi yang telah menjaga kitab-Nya yang sempurna, sehingga dapat menerangi umat manusia menuju kerihoannya dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat kelak

Abu Muhammad

Palembang, 1 Robi’uts-Tsani 1434 H / 11 Februari 2013

Download dalam bentuk pdf, artikel: MENJAWAB KERANCUAN SEPUTAR PENULISAN MUSHAF AL-QUR’AN DI ZAMAN UTSMAN BIN AFFAN Rodhiyallohu ‘anhu (1 dan 2, lengkap)

Advertisements

4 comments on “Menjawab Kerancuan Seputar Penulisan Mushaf Al-Qur’an di Zaman Utsman bin Affan Rodhiyallohu ‘anhu (2)

  1. SAYA JOHN PAKPAHAN TIDAK MENGAKUI ALQURAN ITU BENAR BENAR FIRMAN ALLAH DAN SEMPURNA …

    BILA BENAR ALQURAN ITU SEMPURNA … TOLONG JAWAB PERTANYAAN SAYA INI MENGGUNAKAN ALQURAN …. : …

    1. PADA HARI KE BERAPAKAH NABI ADAM A.S. DAN HAWA DICIPTAKAN ALLAH S.W.T. DALAM PROSES PENCIPTAAN ALAM SEMESTA … ? …

    JAWABAN TERTULIS DALAM ALQURAN… DISURAT APA … AYAT BERAPA …
    BILA ALQURAN TIDAK BISA MENJAWAB … MAKA TERBUKTI ALQURAN TIDAK SEMPURNA DAN AGAMA ISLAM JUGA BUKAN AGAMA SEMPURNA …

    DAN AYAT ALQURAN YANG MENGATAKAN BAHWA ISLAM AGAMA SEMPURNA … ADALAH KEBOHONGAN DAN DUSTA BESAR SAJA ….

    2. SIAPAKAH NAMA ISTRI NABI ADAM A.S. … ? …

    JAWABAN TERTULIS DALAM ALQURAN… DISURAT APA … AYAT BERAPA …
    BILA ALQURAN TIDAK BISA MENJAWAB … MAKA TERBUKTI ALQURAN TIDAK SEMPURNA DAN AGAMA ISLAM JUGA BUKAN AGAMA SEMPURNA …

    DAN AYAT ALQURAN YANG MENGATAKAN BAHWA ISLAM AGAMA SEMPURNA … ADALAH KEBOHONGAN DAN DUSTA BESAR SAJA ….

    3. UMUR BERAPAKAH NABI ADA, A.S. MENINGGAL DUNIA … ? …

    JAWABAN TERTULIS DALAM ALQURAN… DISURAT APA … AYAT BERAPA …
    BILA ALQURAN TIDAK BISA MENJAWAB … MAKA TERBUKTI ALQURAN TIDAK SEMPURNA DAN AGAMA ISLAM JUGA BUKAN AGAMA SEMPURNA …

    DAN AYAT ALQURAN YANG MENGATAKAN BAHWA ISLAM AGAMA SEMPURNA … ADALAH KEBOHONGAN DAN DUSTA BESAR SAJA ….

    COBA ANDA RENUNGKAN … SIAPA YANG BERTELINGA HENDAKLAH MENDENGAR DAN SIAPA YANG MELIHAT HENDAKLAH MENGERTI …

    • Saya tidak punya waktu untuk menjawab dengan detail, tapi semoga poin-poin berikut mewakili:
      1. Barangkali juga tidak berguna kalau saya jawab, orang seperti Anda tetap tidak akan mau menerima Islam
      2. Tidak semua hal harus ada dalam Al-Qur’an. Contoh mudahnya, nama saya dan anda, umur anda dan saya, tidak ada dalam Al-Qur’an. Tetapi Al-Quran memuat pegangan global yang menyeluruh yang dapat mengantarkan ke Surga. Pedoman hidup yang lurus di dalam Al-Qur’an diperinci oleh Sunnah (Al-Hadits): Dan apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian, maka ambillah (laksanakanlah), dan apa saja yang kalian di larang untuk mengerjakannya, maka berhentilah (tinggalkanlah)! ” (Al-Hasyr: 7)
      Kalau pun di kedua sumber di atas beserta tafsirannya tidak diperinci umur atau namanya, hanya diebutkan secara global, maka sebagai muslim saya wajib mengimaninya, dan tidak ada faidahnya memerincinya
      3. Dengan segala isinya, Al-Qur’an terjaga sampai hari kiamat, tidak ada kerancuan/pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Tidak seperti Injil yang sebagian ayat bertentangan dengan yang lain, sebagian isinya pun tidak bisa diterima dengan akal sehat.
      4. Alloh menjaga Al-Quran dengan banyak jalan, salah satunya dengan menjaga orang yang menghafalnya dari masa ke masa, membangkitkan para ulama dengan hafalan seperti kaset, adanya ilmu sanad yang tidak ada pada agama selain islam, dll
      5. Alquran merupakan petunjuk bagi orang yang bertakwa (Al-Baqarah: 2), bukan kepada lainnya, apalagi kepad orang kafir yang tidak mengetahui kebenaran Al-Qur’an!

  2. Mas abumuhammad jawaban anda ini jelas mempertegas bahwa klaim muslim yang mengatakan bahwa Alquran itu adalah kitab suci maha sempurna adalah tidak terbukti
    Anda katakan Isi Alquran akan terjaga sampai kiamat, adalah suatu kebohongan, ayat Alquran sudah direviai dan tidak murni lagi isinya, anda pasti tahu istilah nasikh dan mansukh
    Klaim muslim yang suka membanggakan bahwa banyak umat islam yang hafal Alquran sampai 30 juz perlu dibuktikan tolong pertemukan saya dengan seorang yang hafal Alquran 30 juz dan anda dan saya sebagai saksinya.

    Kesimpulannya dari semua itu adalah memang jawaban anda tidak ada gunanya karena penuh dengan kebohongan

    • 1. Anda menuduh saya penuh kebohongan? Silahkan berkata sesuka Anda… Barangkali tidak ada gunanya berdebat kepada orang yang memang tidak berniat mencari kebenaran
      2. Saya tidak tahu, apakah Anda sudah membaca kedua artikel ini atau belum, pertanyaan Anda seperti tidak nyambung. Artikel ini tentang penyatuan cara baca Al-Qur’an yang sering dipahami secara salah oleh orang-orang yang tidak tahu atau musuh islam sebagai penyatuan Al-Qur’an yang berbeda-beda.
      3. Silahkan jika Nasikh-Mansukh dikatakan ‘revisi’, akan tetapi SIAPA YANG MEREVISI? ALLOH jalla wa’ala, Zat yang memiliki dan menurunkan Al-Qur’an, BUKAN MANUSIA. Tidak seperti Injil yang sudah direvisi TANGAN-TANGAN KOTOR MANUSIA
      4. Salah satu hikmah Nasikh-Mansukh adalah pensyariatan Islam secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi umat islam pada saat turunnya, misalnya tentang hukum minum khomr yang dinasakh secara bertahap
      5. Al-Qur’an dengan segala isinya merupakan kitab yang sempurna, tidak ada pertentangan dan kerancuan di dalamnya. Segala puji bagi Alloh yang telah menganugerahi umat islam dengan Al-Qur’an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s