Gallery

Fitnah Terbunuhnya Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, Menjawab Kerancuan (2)

Artikel Sebelumnya: Fitnah Terbunuhnya Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, Menjawab Kerancuan (1)

 

sprintwallpaper.com

sprintwallpaper.com

Orang-orang syiah sangat berkepentingan terhadap tragedi pembunuhan Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu. Diantara tuduhan mereka yaitu para sahabat ikut serta mengepung dan memiliki andil dalam peristiwa keji tersebut! Haatu burhaanakum in kuntum shodiqin!

Sebelumnya kita tegaskan bahwa telah diketahui bersama bahwa sikap seorang muslim terhadap para sahabat Rasul termasuk perkara aqidah yang tidak bisa diterima melainkan melalui riwayat yang shahih.

Riwayat-riwayat yang menuduh mereka ini tidak terlepas sanadnya dari cacat. Dan terkadang terkumpul dalam satu riwayat beberapa cacat, dan kita dapati kebanyakan didalam riwayat-riwayat tersebut para perowi yang tertuduh sebagai orang-orang Rafidhah atau memang orang Rafidhah tulen.

Mereka para sahabat yang dituduh -secara dusta dan batil- telah ikut serta dalam pengepungan dan pembunuhan terhadap Utsman, telah dipuji oleh Allah didalam banyak ayat Al-Qur’an, bahkan Allah telah meridhai mereka dan mereka pun juga ridha kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”[QS.At-Taubah : 100]

Ridha merupakan sifat Allah yang qadim (sejak dulu kala), tidaklah Dia ridha kecuali terhadap hamba-Nya yang telah Dia ketahui akan meninggal dengan membawa keridhaan-Nya. Barangsiapa yang telah Allah ridhai, maka Dia tidak akan murka kepadanya selama-lamanya.(Hukmu sabbish shahabah 36-37 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)  (http://ashshaffmesinits.wordpress.com/2008/12/15/tragedi-terbunuhnya-utsman-bin-affan/)

DR. Muhammad Amahzun yang berjudul Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fi al-Fitnah min Riwayat al-Imam al-Thabari wa al-Muhadditsin (Penilitian terhadap Sikap para Sahabat tentang Fitnah menurut Riwayat-riwayat Imam al-Thabari dan Ahli Hadits) [Buku DR. Muhammad Amahzun ini telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh DR. Daud Rasyid dkk. dengan judul Fitnah Kubra]. Dalam buku yang berasal dari disertasi doktor di Universitas Muhammad I Maroko ini, Amahzun melakukan penelitian terhadap sikap para sahabat Nabi sholalohu ‘alaihwa sallam semasa pengepungan Usman rodhiyalohu ‘anhu. dan setelah pembunuhannya dalam 28 halaman.

Menurut Amahzun, riwayat-riwayat yang menyebut keterlibatan sahabat dalam pembunuhan Utsman rodhiyalohu ‘anhu berasal dari sumber-sumber yang lemah atau sangat lemah. Abu Mikhnaf, al-Waqidi dan Ibn A`tsam, serta beberapa sejarawan Akhbari lainnya, adalah sumber utama riwayat-riwayat tersebut. Abu Mikhnaf, sebagaimana dijelaskan di atas, adalah seorang sejarawan tendensius dan penganut Syi`ah yang sangat fanatik, sehingga mudah dipahami mengapa dia begitu gencar melontarkan hujatan dan tudingan tidak berdasar kepada sosok Utsman ibn Affan rodhiyalohu ‘anhu. [Tahqiq Mawaqif al-Shahabah, vol. 2 hal. 14.]

Ada juga beberapa riwayat yang bila dilihat sekilas tampak kuat karena beberapa perawinya sangat terpercaya di kalangan ahli hadits, seperti al-Zuhri dan Sa`id ibn al-Musayyib. Dari riwayat mereka tersebut dapat disimpulkan bahwa al-Zubair ibn al-`Awwam, Abu Dzar al-Ghifari, Ibn Mas`ud, `Ammar ibn Yasir dan sejumlah sahabat lainnya terlibat dalam konspirasi pembunuhan Usman rodhiyalohu ‘anhu dan para pemberontak yang mengepung Usman rodhiyalohu ‘anhu adalah pihak yang benar, sedangkan Usman rodhiyalohu ‘anhu adalah pendosa yang harus melakukan taubat secara terbuka.

Jika diteliti lebih jauh, sebenarnya riwayat-riwayat tersebut bermasalah. Salah seorang perawi pada sanad yang sampai kepada al-Zuhri, yaitu Umar ibn Hammad adalah seorang penganut Rafidhah (Syi`ah ekstrim). Dia juga suka melontarkan tuduhan kepada Utsman rodhiyalohu ‘anhu dan menyampaikan riwayat-riwayat munkar.[Tahqiq Mawaqif al-Shahabah, vol. 2 hal. 16]. Sedangkan pada sanad riwayat Ibn al-Musayyib terdapat perawi yang sengaja disembunyikan (tadlis), yaitu Isma`il ibn Yahya ibn `Ubaidillah. Perawi ini diduga kuat memalsukan hadits dan berbohong. Karenanya, ulama-ulama hadits seperti Bukhari, Ibn Hibban dan Hakim menilai riwayat Isma`il ibn Yahya ini lemah.[Tahqiq Mawaqif al-Shahabah, vol. 2 hal. 17.]

Terlepas dari lemahnya riwayat-riwayat yang menyebut keterlibatan para sahabat dalam pembunuhan Usman rodhiyalohu ‘anhu, justru banyak sekali riwayat-riwayat yang kuat dan lebih teruji yang menyatakan sebaliknya. Riwayat-riwayat ini tidak hanya berasal dari sumber-sumber Akhbari, melainkan juga ahli hadits seperti Imam Ahmad, Bukhari, Ibn `Asakir, Ibn Abi Syaibah, al-Darquthni, Ibn Hajar, al-Haitsami dan lain-lain. Bahkan, Ibn `Asakir melakukan penilitian khusus dengan menghimpun seluruh sumber riwayat yang menyatakan bebasnya Ali rodhiyalohu ‘anhu dari keterlibatan dalam pembunuhan terhadap Usman rodhiyalohu ‘anhu Hasilnya, Ali rodhiyalohu ‘anhu bersumpah berkali-kali dalam berbagai pidato yang disampaikannya, bahwa dirinya tidak membunuh Utsman rodhiyalohu ‘anhu ataupun menyetujuinya.[Tahqiq Mawaqif al-Shahabah, vol. 2 hal 23.]

Tidak hanya Ali rodhiyalohu ‘anhu, riwayat-riwayat tersebut juga menjelaskan sikap sahabat-sahabat lain yang membuktikan mereka sama sekali tidak terlibat, bahkan justru sebaliknya, turut membela dan menawarkan bantuan kepada Utsman rodhiyalohu ‘anhu. Di antara para sahbat tersebut adalah Thalhah ibn `Ubaidillah, `Aisyah, al-Zubair ibn al-`Awwam, Sa`ad ibn Abi Waqqash, Sa`id ibn Zaid, Hudzaifah ibn al-Yaman, Anas ibn Malik, Ummu Sulaim, Abu Hurairah, Abu Bakrah, Abu Musa al-Asy`ari, Samurah ibn Jundub, `Ammar ibn Yasir, Ibn Mas`ud, `Amr ibn al-`Ash, Usamah ibn Zaid, Haritsah ibn Nu`man, Abdullah ibn Salam, Abdullah ibn Umar, Ibn Abbas, al-Hasan ibn Ali, Abu Humaid al-Sa`idi, Salamah ibn al-Akwa`, Ka`ab ibn Malik dan Hassan ibn Tsabit dan lain-lain.[Tahqiq Mawaqif al-Shahabah, vol. 2 hal 19 – 41.]

DR. Muhammad Amahzun bukan orang pertama dan satu-satunya yang melakukan kajian mendalam tentang masalah ini. Sejumlah ulama telah lebih dulu melakukannya, sebut saja Abu Bakr ibn al-`Arabi (w.543H) dalam karyanya, al-`Awashim min al-Qawashim, dan `Abd al-Halim Ibn Taimiyah (w.728H) dalam beberapa karya monumentalnya, terutama Minhaj al-Sunnah. Karya-karya yang menaruh perhatian serupa kini terus bermunculan, seperti Daur al-Mar’ah al-Siyasi fi `Ahd al-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. wa al-Khulafa’ al-Rayidin[ix] (2001), karya Asma’ Muhammad Ziyadah. Tesis master di Dar al-`Ulum-Cairo University ini lebih banyak membahas peran politik `Aisyah rodhiyalohu ‘anhu, terutama selama masa fitnah yang membawanya kepada Perang Jamal. Karya lain yang tidak boleh luput tentunya adalah `Ashr al-Khilafah al-Rasyidah; Muhawalah li Naqd al-Riwayah al-Tarikhiyah wafq Manahij al-Muhadditsin (1995), karya Prof. DR. Akram al-Umari. Seperti tertera pada judulnya, karya Prof. al-Umari ini merupakan sebuah upaya penerapan metode kritik ahli hadits pada riwayat-riwayat sejarah. (http://generasiawal.blogspot.com/2010/08/fitnah-sekitar-terbunuhnya-ustman-bin.html)

Masih adalagi syubhat-syubhat yang menjelek-jelekkan Utsman rodhiyalohu ‘anhu yang dapat dilihat bantahannya di http://generasiawal.blogspot.com/2010/08/fitnah-sekitar-terbunuhnya-ustman-bin.html dan http://salafartikel.wordpress.com/2012/05/17/utsman-bin-affan-tauladan-keteguhan-memegang-sunnah/. Khusus situs terakhir memuat beberapa keutamaan Utsman, lihatlah jika mau.

 

Penutup

Ya Allah, tanamkan cinta dan ridho di hati kami pada sahabat-sahabat Nabi-Mu, selamatkan hati kami dari kedengkian kepada mereka, dan lisan kami dari cercaan kepada mereka sebagaimana Engkau telah selamatkan tangan kami dari darah-darah mereka.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

Semoga Alloh selalu melimpahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga kita bisa memanfaatkan sisa umur kita dengan amal yang bermanfaat. Semoga Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad berserta sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

 

 

Abu Muhammad

Palembang, 24 Robi’ul Awwal 1434 H / 5 Februari 2013

 

 

Download dalam bentuk pdf, artikel: FITNAH TERBUNUHNYA UTSMAN BIN AFFAN Radhiyallahu ‘anhu, MENJAWAB KERANCUAN (1 dan 2, lengkap)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s