Gallery

Dosa-dosa Besar dan Mengerikan yang Tidak Diketahui/Dihiraukan/Diperhatikan Kebanyakan Kaum Muslimin (3) [Menggunjing]

Artikel sebelumnya disini:  Dosa-dosa Besar dan Mengerikan yang Tidak Diketahui/Dihiraukan/Diperhatikan Kebanyakan Kaum Muslimin (2)[Memakan Riba]

 

3. Ghibah

hang106.or.id

hang106.or.id

Perkaranya adalah sangat menyedihkan sebagaimana perkataan Imam An-Nawawi, “Ketahuilah bahwasanya ghibah merupakan perkara yang terburuk dan terjelek serta perkara yang paling tersebar di kalangan manusia, sampai-sampai tidaklah ada yang selamat dari ghibah kecuali hanya sedikit orang”.[Dinukil oleh Al-Mubarokfuuri dalam Tuhfatul Ahwadzi VI/54]

Semoga Allah menjadikan kita menjadi “sedikit orang” tersebut yang selamat dari penyakit ghibah. Amiiin- (http://alhilyahblog.wordpress.com/2012/10/13/model-model-para-pengghibah/)

Makna ghibah

Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim [4/2001] dalam shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

أتدرون ما الغيبة؟ قالوا: الله ورسوله أعلم قال: ذكرك أخاك بما يكره قيل: أفرأيت إن كان في أخي ما أقول قال: إن كان فيه ما تقول فقد اغتيته وإن لم يكن فيه فقد بهته

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”, para Shahabat berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam berkata, “(yakni) Engkau menyebut saudaramu dengan apa yang dia tidak suka”. Ada yang berkata: “Lantas bagaimana menurutmu jika pada diri saudaraku itu memang kenyataannya seperti yang aku katakan?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam berkata, “Jika pada saudaramu itu kenyataannya seperti yang engkau katakan, maka sungguh engkau telah berlaku ghibah, namun jika yang kamu katakan itu tidak ada, berarti engkau telah berbuat buhtan kepadanya.”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan: “Al-Buhtan yakni sesuatu yang batil.” [Syarh Shahih Muslim, 16/142]

Ghibah Termasuk Dosa Besar atau Dosa Kecil?

Terjadi silang pendapat di antara para Ulama dalam menghukumi dosa ghibah. Al-Imam Al-Qurthubi telah menukil ijma’ (kesepakatan Ulama) bahwa ghibah itu termasuk dosa-dosa besar. Namun pernyataan ini tidaklah benar, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani menyatakan bahwa pengarang kitab Ar-Raudhah, dan Ar-Rafi’i, mereka berdua berkata: “Sesungguhnya ghibah itu termasuk dosa-dosa kecil.” (Nashihati lin Nisaa’, hal. 28)

Adapun yang menjadi dalil bagi para Ulama dalam menganggap ghibah itu termasuk dosa besar adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam sebagai berikut:

“Sesungguhnya riba yang paling riba (yang paling keras keharamannya (‘Aunul Ma’bud [13/152]), -pent) adalah memanjangkan lisan terhadap kehormatan saudaranya sesama muslim dengan tanpa alasan yang benar.” [HR. Abu Dawud] (Ummu ‘Abdillah berkata: “Hadits ini Shahih, lihat “As-Shahihul Musnad” 1/313. Syaikh Muhammad Syamsul Haq Al-Adzhim Abadi rahimahullah telah menerangkan makna memanjangkan lisan dalam riwayat tersebut adalah merendahkan orang dan menganggap lebih tinggi atas yang lainnya, mencelanya, atau menuduhnya berzina [lihat ‘Aunul Ma’bud 13/152) [http://madrasahjihad.wordpress.com/2012/02/09/3377/)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam:
“Ketika aku dibawa naik, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga yang dengannya mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah kaum yang telah memakan daging orang lain dan menginjak-injak kehormatan mereka’.” (HR. Abu Dawud no. 4878 dari sahabat Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anhu dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4082 dan dalam ash-Shahihah no. 533) [http://asysyariah.com/kekejian-berupa-memakan-bangkai-saudara-sendiri.html]

Dosa dan Bahaya Ghibah yang Sangat Mengerikan

1. Setara dengan dosa riba yang paling haram (sabagaimana hadits-hadits di atas)

2. Terancam adzab kubur mencakar-cakar wajah dan dada dengan kuku dari tembaga (sabagaimana hadits-hadits di atas)

Juga berdasarkan hadits:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ مِنْ كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ ثُمَّ أَخَذَ عُودًا رَطْبًا فَكَسَرَهُ بِاثْنَتَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى قَبْرٍ ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Keduanya sungguh sedang disiksa, & tidaklah keduanya disiksa disebabkan karena berbuat dosa besar. Kemudian Beliau bersabda:
Demikianlah. Adapun yg satu disiksa karena selalu mengadu domba sedang yg satunya lagi tak bersuci setelah kencing. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhu: Kemudian Beliau mengambil sebatang dahan kurma lalu membelahnya menjadi dua bagian kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut seraya berkata,: Semoga diringankan (siksanya) selama batang pohon ini masih basah (HR. Bukhori: 1289) [http://www.mutiarahadits.com/56/94/75/adzab-qubur-akibat-dosa-ghibah-menggunjing-aib-orang-dan-air-kencing.htm].

3. Lebih keras dari zina (bersesuaian dengan poin satu di atas

Dalam sebuah hadits lain disebutkan:

الْغِيْبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ الْغِيْبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا؟ قَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَزْنِيْ فَيَتُوْبُ فَيَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِ وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيْبَةِ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَهَا لَهُ صَاحِبُهُ
“Ghibah itu lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya: “Bagaimana ghibah lebih keras dari zina, wahai Rosululloh?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Alloh pun mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Alloh, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.”(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman) [http://doktermuslim.wordpress.com/2010/01/04/dosa-ghibah/]

4. Terancam Masuk Neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ

“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, mulut dan kemaluan.” (Riwayat Thirmidzi 2004, Ahmad (2/291,292), dan lain-lain. Berkata Syaikh Salim Al-Hilali : “Isnadnya hasan”)

Bentuk-bentuk Ghibah 

Ibnu Taimiyah berkata -tatkala menjelaskan model-model para pengghibah-,

  1. Ada orang yang mengghibah untuk menyesuaikan diri (agar obrolannya nyambung) dengan teman-teman duduknya, para sahabatnya,  atau karib kerabatnya. Padahal ia mengetahui bahwasanya orang yang dighibahi berlepas diri dari apa yang mereka katakan. Atau memang benar pada dirinya sebagian apa yang mereka katakan akan tetapi ia melihat kalau ia mengingkari (ghibah yang) mereka lakukan maka ia akan memutuskan pembicaraan, dan para sahabatnya akan bersikap berat (tidak enak) kepadanya dan meninggalkannya. Maka iapun memandang bahwa sikapnya yang menyesuaikan diri dengan mereka merupakan sikap yang baik kepada mereka dan merupakan bentuk hubungan pergaulan yang baik. Bisa jadi mereka marah –jika ia mengingkari mereka- maka iapun akan balas marah karena hal itu. Karenanya iapun tenggelam bersama mereka untuk berghibah ria.
  2. Diantara mereka (para tukang ghibah) ada yang berghibah ria dengan model yang bermacam-macam. Terkadang menampakkan ghibah dalam bentuk agama dan kebaikan, maka ia berkata, “Bukanlah kebiasaanku menyebutkan seorangpun kecuali hanya menyebutkan kebaikan-kebaikannya, dan aku tidak suka ghibah, tidak juga dusta. Hanya saja aku kabarkan kepada kalian tentang kondisinya”. Atau ia berkata, “Kasihan dia…”, atau “Ia orang yang baik namun pada dirinya ada begini dan begitu.” Dan terkadang ia berkata, “Jauhkanlah kami dari (pembicaraan) tentangnya, semoga Allah mengampuni kita dan dia,” namun niatnya adalah untuk merendahkannya dan menjatuhkannya.
  3. Diantara mereka ada yang menjatuhkan orang lain karena riya’ dalam rangka untuk mengangkat dirinya sendiri. Ia berkata, “Kalau seandainya tadi malam aku berdoa dalam sholatku untuk si fulan tatkala sampai kepadaku kabar tentang dirinya begini dan begitu…”, untuk mengangkat dirinya dan menjatuhkan orang itu di sisi orang yang menganggap orang itu baik. Atau ia berkata, “Si fulan itu pendek akalnya, telat mikirnya,” padahal maksudnya adalah untuk memuji dirinya, untuk menunjukan bahwa dirinya pandai dan lebih baik dari orang tersebut.
  4. Diantara mereka ada yang berghibah karena hasad (dengki), maka ia telah menggabungkan dua perkara buruk, ghibah dan hasad. Dan jika ada seseorang yang dipuji maka berusaha sekuat-kuatnya untuk menghilangkan (menangkis) pujian itu dengan merendahkannya dengan berkedok agama dan kebaikan, atau mewujudkan ghibah dalam bentuk hasad, kefajiran, dan celaan agar orang tersebut jatuh di hadapan matanya.
  5. Diantaranya ada yang mewujudkan ghibah dalam bentuk ejekan dan menjadikannya bahan mainan agar membuat yang lainnya tertawa karena ejekannya atau ceritanya (sambil meniru-niru gaya orang yang dihina) tersebut, serta perendahaannya terhadap orang yang ia ejek tersebut.
  6. Diantaranya ada yang menampakkan ghibah dalam bentuk sikap ta’jub (heran). Dia berkata, “Aku heran dengan si fulan, bagaimana ia sampai tidak mampu melakukan ini dan itu…”, “Aku heran dengan si fulan, kenapa bisa timbul darinya ini dan itu…kenapa bisa melakukan demikian dan demikian…” Maka ia menampakkan nama saudaranya (yang ia ghibahi tersebut) dalam bentuk sikap keheranannya.
  7. Diantaranya ada yang mewujudkan ghibah dalam bentuk rasa sedih. Ia berkata, “Si fulan kasihan dia, sungguh aku sedih dengan apa yang telah dilakukannya dan yang telah terjadi pada dirinya..” Maka orang lain yang mendengar perkataannya itu bahwa ia sedang sedih dan menyayangkan saudaranya itu, padahal hatinya penuh dengan rasa dendam. Jika ia mampu maka ia akan menambah-nambah lebih dari kejelekan yang terdapat pada saudaranya itu. Bahkan terkadang ia menyebutkan hal itu dihadapan musuh-musuh saudaranya tersebut agar mereka bisa membalasnya (menghabisinya).  Model yang seperti ini dan juga yang lainnya merupakan penyakit-penyakit hati yang paling parah, dan juga merupakan bentuk usaha untuk menipu Allah dan para hamba-hambaNya.
  8. Diantara mereka ada yang menampakkan ghibah dalam bentuk marah dan mengingkari kemungkaran. Dia menampakkan kata-kata yang indah (untuk mengghibahi saudaranya) dengan cara seperti ini (dengan alasan mengingkarai kemungkaran), padahal maksudnya bertentangan dengan apa yang ia nampakkan. Hanya Allahlah tempat meminta pertolongan.[Majmu’ fatawa XXVIII/236-238] (http://alhilyahblog.wordpress.com/2012/10/13/model-model-para-pengghibah/)

Hukum Mendengarkan Ghibah 

Imam Nawawi berkata di dalam Al-Adzkar: ”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu, kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika hal itu memungkinkan.

Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain, maka wajib baginya untuk melakukannya. Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat.

Jika dia berkata dengan lisannya: ”Diamlah”, namun hatinya ingin pembicaraan gibah tersebut dilanjutkan, maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa. Dia harus membenci gibah tersebut dengan hatinya (agar bisa bebas dari dosa-pent).

Jika dia terpaksa di majelis yang ada ghibahnya dan dia tidak mampu untuk mengingkari ghibah itu, atau dia telah mengingkari namun tidak diterima, serta tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan majelis tersebut, maka harom baginya untuk istima’(mendengarkan) dan isgho’ (mendengarkan dengan seksama) pembicaraan ghibah itu. Yang dia lakukan adalah hendaklah dia berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lisannya dan hatinya, atau dengan hatinya, atau dia memikirkan perkara yang lain, agar dia bisa melepaskan diri dari mendengarkan gibah itu. Setelah itu maka tidak dosa baginya mendengar ghibah (yaitu sekedar mendengar namun tidak memperhatikan dan tidak faham dengan apa yang didengar –pent), tanpa mendengarkan dengan baik ghibah itu, jika memang keadaannya seperti ini (karena terpaksa tidak bisa meninggalkan majelis gibah itu –pent). Namun jika (beberapa waktu) kemudian memungkinkan dia untuk meninggalkan majelis dan mereka masih terus melanjutkan ghibah, maka wajib baginya untuk meninggalkan majelis” (Bahjatun Nadzirin 3/29,30). [http://almanhaj.or.id/content/2851/slash/0/hukum-mendengarkan-ghibah-bertaubat-dari-ghibah-dan-ghibah-yang-dibolehkan/]

Bertaubat dari Ghibah 

Sebagian ulama mengatakan (bahwasanya) engkau jangan datang kepadanya, tetapi ada perincian: Jika yang dighibahi telah mengetahui bahwa engkau telah mengghibahinya, maka engkau harus datang kepadanya dan meminta agar dia merelakan perbuatanmu. Namun jika dia tidak tahu, maka janganlah engkau mendatanginya (tetapi hendaknya) engkau memohon ampun untuknya dan engkau membicarakan kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang engkau mengghibahinya. Karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan bisa menghilangkan kejelekan-kejelekan. Pendapat ini lebih benar, yaitu bahwasanya ghibah itu, jika yang dighibahi tidak mengetahui bahwa engkau telah mengghibahinya, maka cukuplah engkau menyebutkan kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang kamu mengghibahinya dan engkau memohon ampun untuknya. Engkau bisa berkata: “Ya Allah ampunilah dia”, sebagaimana yang terdapat dalam hadits:

كَفَّارَةُ مَنِ اغْتَبْتَهُ أَنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُ

“Kafarah (penebus dosa) untuk orang yang kau ghibahi adalah engkau memohon ampunan untuknya” [Syarah Riyadlus Sholihin 1/78) (Sedangkan hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab Ash-Shomt no 291, Syaikh Abu Ishaq berkata: “Maudlu’”].

Ibnu Katsir berkata: “…para ulama lain berkata: “Tidaklah disyaratkan baginya (yang mengghibah) meminta penghalalan (perelaan dosa ghibahnya-pent) dari orang yang dia ghibahi. Karena jika dia memberitahu orang yang dia ghibahi tersebut bahwa dia telah mengghibahinya, maka terkadang malah orang yang dighibahi tersebut lebih tersakiti dibandingkan jika dia belum tahu, maka jalan keluarnya yaitu dia (si pengghibah) hendaknya memuji orang itu dengan kebaikan-kebaikan yang dimiliki orang itu di tempat-tempat yang dia telah mencela orang itu…” [Tafsir Ibnu Katsir 4/276] (http://almanhaj.or.id/content/2851/slash/0/hukum-mendengarkan-ghibah-bertaubat-dari-ghibah-dan-ghibah-yang-dibolehkan/)

Ghibah yang Dibolehkan

Al-Imam an-Nawawi t berkata, “Ghibah dibolehkan dengan tujuan syariat yang tidak mungkin mencapai tujuan tersebut melainkan dengannya.”
Dibolehkan ghibah pada enam perkara:
1.    Ketika terzalimi.
2.    Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.
3.    Meminta fatwa.
4.    Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasihati mereka.
5.    Ketika seseorang menampakkan kefasikannya.
6.    Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu.
(Riyadhus Shalihin, bab “Apa-apa yang Diperbolehkan untuk Ghibah”) [http://asysyariah.com/kekejian-berupa-memakan-bangkai-saudara-sendiri.html]

Penjelasan lebih lanjut tentang ghibah yan dibolehkan dapat dibaca disini (http://almanhaj.or.id/content/2851/slash/0/hukum-mendengarkan-ghibah-bertaubat-dari-ghibah-dan-ghibah-yang-dibolehkan/)

 

Penutup 

Hendaknya kita sadar bahwa segala apa yang kita ucapkan semuanya akan dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. [Qaf : 18]

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً

“Dan janganlah kalian mengikuti apa yang kalian tidak mengetahuinya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan ditanyai (dimintai pertanggungjawaban)” [Al-Isra’: 36] (http://almanhaj.or.id/content/2851/slash/0/hukum-mendengarkan-ghibah-bertaubat-dari-ghibah-dan-ghibah-yang-dibolehkan/)

Semoga Alloh yang berada di atas ‘Arsy menjauhkan kita semua dari ghibah

Sebagai tambahan, tontonlah video ini:

atau dengarkanlah ceramah berikut: http://suaraquran.com/audio-menjaga-kehormatan-muslim-ust-aunur-rofiq-ghufron-lc-solo-18-ramadhan-1432/#more-1944

Sebenarnya banyak dosa-dosa besar lainnya yang sudah biasa dilakukan kaum muslimin, baca saja buku Dosa-dosa Besar karya Imam Dzahabi yang dapat didownload/dilihat disini (http://shirotholmustaqim.files.wordpress.com/2009/11/imam-adz-dzahabi-dosa-dosa-besar.pdf). Hanya saja pada saat ini saya baru bisa mengulas dosa yang 3 ini (meninggalkan sholat, memakan riba, dan ghibah). Semoga di lain waktu Alloh memberikan kemampuan untuk mengulas yang lainnya.

Semoga Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

Abu Muhammad

Palembang, 3 Robi’ul Awwal 1434 H / 16 Januari 2013

Advertisements

5 comments on “Dosa-dosa Besar dan Mengerikan yang Tidak Diketahui/Dihiraukan/Diperhatikan Kebanyakan Kaum Muslimin (3) [Menggunjing]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s